Gardaanimalia.com - Di kota besar, relasi manusia–hewan berubah bukan karena kita tiba-tiba lebih mencintai atau lebih membenci satwa, melainkan karena ruang hidup dipadatkan, ritme dipercepat, dan batas-batas alam dipindahkan ke pinggir peta.
Ketika kota mengembang, ia bukan hanya menambah gedung dan jalan; ia juga memperbanyak titik temu: tangan yang menyentuh pagar kandang, kaki yang melangkah di genangan, makanan yang berpindah dari pasar ke meja, dan hembusan udara dari selokan ke paru-paru.
Dalam titik-temu itulah zoonosis menjadi isu yang tidak pernah sepenuhnya “musiman”—ia mengikuti cara kita hidup.
Zoonosis, dalam definisi World Health Organization (WHO), adalah penyakit dan infeksi yang secara alamiah dapat ditularkan antara hewan vertebrata dan manusia. Patogennya bisa bakteri, virus, parasit, fungi, atau prion, dan dapat menyebar lewat kontak langsung, makanan, air, atau lingkungan yang terkontaminasi.1
Dari definisi ini, terlihat bahwa zoonosis bukan semata cerita tentang “satwa liar di hutan”; ia juga cerita tentang cara kota mengatur sanitasi, cara keluarga memelihara hewan kesayangan, cara orang bekerja di rantai pangan, dan cara manusia berbagi ruang dengan satwa peridomestik—tikus, merpati, kucing jalanan, anjing liar—yang hadir bukan sebagai metafora, melainkan sebagai tetangga yang tak pernah kita undang rapat RT.
Paradoks Kota: Memeluk dan Mendorong
Kota besar menciptakan paradoks yang tidak selalu kita sadari. Di satu sisi, kita memeluk hewan sebagai “keluarga”: anjing dan kucing tidur di sofa yang sama dengan kita, dijadikan konten media sosial, diberi nama penuh kasih sayang, dirawat di klinik hewan dengan fasilitas canggih. Industri hewan kesayangan global mencapai nilai ratusan miliar dolar, menunjukkan betapa dekatnya relasi ini.2
Di sisi lain, satwa yang tersisih oleh tata kota—yang bertahan dari sisa makanan, tumpukan sampah, celah drainase—menjadi cermin dari kegagalan infrastruktur dasar.
Paradoks ini bukan hanya soal preferensi individu; ia mencerminkan struktur sosial dan ekonomi kota itu sendiri.
Dalam perspektif antropologi ekologis, relasi manusia–hewan di perkotaan tidak bisa dilepaskan dari konteks material kehidupan sehari-hari: siapa yang punya akses ke hewan peliharaan berkualitas, siapa yang hidup berdampingan dengan “hewan hama”, dan siapa yang paling rentan terhadap risiko zoonosis dari tetangga satwa yang tidak pernah dipilih.
Penelitian Wolch dan Emel (1998) dalam “Animal Geographies” menunjukkan bahwa distribusi hewan di kota mencerminkan distribusi kekuasaan dan ketidaksetaraan sosial—hewan kesayangan menjadi simbol status kelas menengah atas, sementara satwa peridomestik menjadi beban kelas bawah yang tinggal di permukiman padat.3
WHO menekankan bahwa standar air minum bersih, sistem pembuangan limbah yang memadai, dan perlindungan sumber air permukaan termasuk langkah penting untuk menurunkan risiko zoonosis.4 Artinya, urusan zoonosis di kota sering kali berakar pada hal yang tampak “tidak dramatis”: kebersihan lingkungan, tata kelola sampah, sistem drainase, dan perilaku sehari-hari yang terakumulasi menjadi risiko kolektif.
Antarmuka yang Makin Intens
Perubahan relasi manusia–hewan di kota besar juga terjadi karena “antarmuka manusia–hewan” (human–animal interface) makin beragam dan intens. Istilah ini dipakai dalam literatur epidemiologi untuk menjelaskan bagaimana manusia dan hewan berinteraksi—langsung atau tidak langsung—sehingga membuka jalur perpindahan agen penyakit, termasuk lewat lingkungan yang terkontaminasi.5
Pasar tradisional yang mempertemukan banyak spesies dalam kondisi padat dan tidak alami, misalnya, dapat meningkatkan peluang pertukaran patogen karena kedekatan antarkandang, kontaminasi feses, dan stres pada hewan yang menurunkan imunitasnya.67
Studi oleh Jones et al. (2013) menunjukkan bahwa 75 persen penyakit infeksi emerging pada manusia berasal dari hewan, dengan mayoritas spillover terjadi di zona antarmuka yang intens seperti pasar, peternakan urban, dan pemukiman dekat habitat satwa liar.8
Kota, sebagai simpul transportasi dan kepadatan manusia, memperbesar konsekuensi dari setiap celah biosekuriti: ketika risiko hadir, ia lebih mudah menyebar cepat dan jauh melalui jaringan mobilitas urban.
Data IUCN Red List menunjukkan bahwa banyak spesies yang menjadi reservoir zoonotik—seperti kelelawar (Chiroptera spp.), tikus (Rattus spp.), dan primata non-manusia—mengalami tekanan habitat akibat urbanisasi.9
Taksonomi dari Integrated Taxonomic Information System (ITIS) membantu mengidentifikasi spesies-spesies ini secara presisi, yang penting untuk surveilans epidemiologis.10 Namun, ketika habitat alami menyusut, satwa-satwa ini berpindah ke zona urban, meningkatkan frekuensi kontak dengan manusia dan hewan domestik.
Ekologi Politik Relasi Manusia–Hewan
Pendekatan antropologi ekologis mengajak kita melihat relasi manusia–hewan bukan sebagai hubungan netral, melainkan sebagai ekologi politik yang sarat kepentingan.
Donna Haraway (2003) dalam “The Companion Species Manifesto” memperkenalkan konsep “spesies pendamping” yang menekankan bahwa manusia dan hewan telah bersama-sama membentuk satu sama lain dalam proses koevolusi panjang—relasi yang tidak bisa direduksi menjadi sekadar “pemilik dan milik.”11 Di kota, koevolusi ini mengambil wujud baru yang lebih kompleks dan kontradiktif.
Perdagangan satwa liar di pasar urban—meskipun diatur oleh CITES dan Permen LHK P.106/2018—masih berlangsung di banyak kota besar Asia, termasuk Indonesia, karena lemahnya penegakan hukum dan tingginya permintaan.1213
Studi oleh Can et al. (2019) menemukan bahwa pasar satwa liar di Asia Tenggara menjadi hotspot potensial spillover karena tingginya keragaman spesies, kondisi sanitasi buruk, dan interaksi dekat antara penjual, pembeli, dan hewan.14
Dalam konteks Jakarta, pasar burung Pramuka pernah menjadi sorotan karena perdagangan satwa dilindungi dan risiko avian influenza.15
Relasi ini harus dibaca sebagai ekologi politik sehari-hari: siapa yang mendapat ruang, siapa yang dibuang ke pinggir, siapa yang diatur ketat, siapa yang dibiarkan tanpa pengawasan.
Ketimpangan ini bukan hanya soal satwa; ia juga soal manusia yang paling dekat dengan risiko—mereka yang bekerja di pasar basah, yang tinggal di bantaran sungai, yang menggantungkan hidup pada rantai pangan informal—adalah juga mereka yang paling rentan terhadap zoonosis dan paling sedikit mendapat perlindungan sistemik.
Leptospirosis: Cermin Relasi Urban yang Timpang
Leptospirosis adalah contoh konkret bagaimana zoonosis urban beroperasi. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira spp. yang disebarkan melalui urin tikus dan hewan terinfeksi lainnya, mencemari air dan tanah.16
Di kota besar seperti Jakarta, banjir bukan hanya soal cuaca, tapi juga genangan yang menjadi kolam transmisi leptospirosis. WOAH menyebut leptospirosis sebagai “urban zoonosis” klasik yang memerlukan pendekatan One Health karena siklusnya melibatkan tikus kota (Rattus norvegicus, Rattus rattus), air limbah, dan manusia yang terpapar.1718
Data Kementerian Kesehatan Indonesia menunjukkan peningkatan kasus leptospirosis pasca-banjir di beberapa kota besar, dengan case fatality rate mencapai 5–15 persen jika tidak ditangani cepat.19
Relasi timpang ini jelas: tikus bertahan karena tumpukan sampah kita yang tidak terkelola, infrastruktur drainase yang buruk, dan sanitasi yang minim.
Kita sakit karena sistem kota kita sendiri gagal melindungi warganya dari risiko yang sebenarnya bisa dicegah. Namun, alih-alih menyalahkan tikus, pendekatan yang lebih tepat mengajak kita melihat akar masalahnya: tata kelola sampah, desain infrastruktur, dan perilaku komunitas.
Zoonosis sebagai Sinyal, Bukan Vonis
Opini ini tidak sedang mengulang ketakutan lama bahwa “hewan adalah sumber penyakit.” Itu terlalu mudah—dan sering kali tidak adil terhadap satwa yang telah hidup berdampingan dengan manusia selama ribuan tahun. Yang lebih tepat: zoonosis adalah sinyal bahwa relasi kita dengan hewan dan lingkungan sedang timpang. WHO menyebut urbanisasi dan perusakan habitat alam sebagai faktor yang meningkatkan risiko zoonosis karena meningkatkan kontak antara manusia dan satwa liar.20
Jika habitat dibelah jalan tol, jika ruang hijau dipersempit untuk mal, jika aliran sungai disalurkan tanpa memikirkan ekologi, maka kota bukan hanya memindahkan satwa; kota juga memindahkan peluang patogen untuk bertemu inang baru.
Laporan oleh Patz et al. (2004) dalam jurnal Nature menegaskan bahwa perubahan penggunaan lahan adalah salah satu pendorong utama emerging infectious diseases, termasuk zoonosis.21
Fragmentasi habitat memaksa satwa liar bergerak ke area yang sebelumnya tidak mereka jangkau, menciptakan “spillover zone” baru di pinggiran dan bahkan pusat kota.
Pada akhirnya, zoonosis adalah cermin kota: ia memantulkan bagaimana kita berbagi ruang dengan yang lain, termasuk mikroba dan satwa peridomestik.
Relasi manusia–hewan yang berubah di kota besar bukan akhir cerita, tapi undangan untuk merancang ulang. Bukan mengusir satwa dari kota, tapi menata pertemuan agar tidak berujung luka. Seperti sungai yang tetap mengalir meski dibungkus beton, kehidupan satwa tetap mencari celah—kita yang menentukan apakah celah itu membawa air bersih atau banjir patogen.
Warisan kota yang sehat ada di tangan kita: bukan takut pada hewan, tapi hormati batasnya.
















