Mendalam

Kuskus Beruang: ‘Tukang Merapikan’ Alam Sulawesi yang Terancam Tambang

19/05/2026|Arya Nur Prianugraha
Kuskus beruang satwa endemic Sulawesi yang kemunculannya viral di media sosial Foto tangkapan layar video oleh Jumardin -...

Kuskus beruang, satwa endemic Sulawesi yang kemunculannya viral di media sosial. | Foto: tangkapan layar video oleh Jumardin

Gardaanimalia.com - Masih pagi-pagi sekali, sekitar pukul 08.00 WITA, Jumardin bersantai. Menikmati pemandangan Gunung Latimojong dari puncak 3.478 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Puncak gunung tertinggi Sulawesi itu sepi, tak lebih dari selusin pendaki. Suasananya tenang. Angin kencang sesekali berembus, menerpa dedaunan dan ranting-ranting, lalu menghasilkan bunyi dari gesekannya.

Di tengah ketenangan, Jumardin mendengar deritan dari semak-semak. Dia mencari asal suara itu. 

 Matanya tertuju pada seekor satwa. Ukurannya tidak lebih kecil dari landak, tapi juga tidak lebih besar dari panda. Sekujur tubuhnya hitam, dengan rambut pendek yang lebat, dan mata bulat yang jernih.

“Saya tidak tahu itu apa,” kata Jumardin kepada saya, Selasa 3 Maret 2026. Saat menceritakan pengalamannya bertemu satwa yang mulanya dia sebut sebagai “Panda Sulawesi”.

Gerakan satwa itu lambat, bak hewan malas, koala. Di bagian depannya, terdapat kantong yang menjuntai. Persis seperti hewan endemik Australia, kanguru.

”Saya baru pertama kali melihat hewan seperti itu,” kata Jumardin.

Merasa hewan di hadapannya unik, dia mengeluarkan gawai untuk merekam.

“Lucu. Jadi saya video,” ujarnya.

Hari itu, Selasa, 27 Oktober 2025 Jumardin girang bukan main. Dia terus memantau gerakan satwa “lucu” itu, mengikutinya dengan rekaman video. Sambil menjaga jarak agar tak mengganggu aktivitas naturalnya.

Keesokan harinya, Jumardin pulang. Lalu mengunggah video tersebut ke TikTok pada 29 Oktober 2026.

Boom!

“Langsung viral. FYP!”

“Banyak orang-orang yang langsung minta videonya,” kata Jumardin.

Di titik itu, dia baru sadar apa yang dia rekam.

”Ternyata (satwa) itu kuskus beruang.”

Video yang direkam Jumardin, diunggah ulang banyak akun di berbagai media sosial. Mulai dari TikTok hingga Instagram.

Pengunggahnya juga dengan berbagai latar belakang. Ada akun pribadi pendaki, media mainstream, hingga yang media yang spesifik fokus pada isu lingkungan.

Mengenal Kuskus Beruang

Jumardin mengirimkan saya lima rekaman video yang dia ambil. Salah satunya menunjukkan Ailurops ursinus itu berada di tengah semak belukar. Kemudian memakan rerumputan.

”Dia masuk anggota mamalia marsupial arboreal, atau pemakan daun. Dikenal juga dengan nama lokal (Sulawesi) sebagai Bubutu,” kata Syarif, Zoologi, yang juga Dosen Biologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

Umumnya, tubuhnya ditutupi rambut tebal berwarna hitam keabu-abuan hingga cokelat. Bagian perutnya cenderung lebih terang, sementara wajahnya relatif pendek dengan telinga kecil yang tertutup rambut.

Penampilannya memang mudah membuat orang keliru. Dari kejauhan, ia tampak seperti beruang kecil yang tersesat ke atas pohon.

Namun, ciri yang paling khas justru ada pada ekornya. Bagian itu telanjang di sebagian permukaan, cukup kuat untuk melilit dahan, dan dipakai sebagai “kaki kelima” ketika bergelantung atau berpindah antar-tajuk.

Seperti satwa yang selalu berhati-hati, kuskus beruang tidak melompat cepat seperti monyet. Tapi memindahkan tubuhnya pelan-pelan dari cabang ke cabang.

Sebagian besar hidup kuskus beruang dihabiskan di atas pohon. Di sana dia makan, beristirahat, dan menghindari banyak gangguan dari lantai hutan.

Uploaded content
Kuskus beruang nampak berada di lantai hutan Latimojong. Padahal, lazimnya spesies ini menghabiskan waktu di tajuk pepohonan. | Foto: tangkapan layar video Jumardin

Penelitian yang terbit pada Jurnal Kehutanan Bonita menunjukkan, kuskus beruang lebih banyak istirahat daripada beraktivitas. Waktunya 52 persen digunakan untuk istirahat, mencari makan sebesar 22 persen, berpindah tempat delapan persen, berdiam diri 11 persen, dan merawat tubuh (grooming) 5 persen.

“Sebagian besar waktunya dipakai untuk istirahat atau tidur, lalu sebagian lagi untuk makan dan merawat diri,” jelas Syarif.

Pola hidup itu berkaitan dengan makanannya. Kuskus beruang mengonsumsi daun, pucuk muda, dan bagian tumbuhan lain yang berserat tinggi.

Makanan seperti itu tidak mudah dicerna. Karena itu, waktu istirahat yang panjang menjadi bagian dari cara tubuhnya bekerja.

“Istirahat panjang itu dipakai untuk efisiensi pencernaan selulosa,” kata Syarif. Pada satwa pemakan daun, ritme hidup yang lambat memang jadi strategi bertahan.

Itulah kenapa, kata Syarif, kuskus beruang habitatnya di hutan dengan pohon-pohon tinggi. Seperti kontur hutan Sulawesi, dan beberapa pulau satelit di sekitarnya, macam Talaud.

Menurut Syarif, keberadaan kuskus beruang tak bisa dilepaskan dari sejarah geologi Wallacea. Kawasan ini berada di antara Paparan Sunda dan Paparan Sahul, dua wilayah biogeografi besar yang dipisahkan palung laut dalam.

Isolasi itu membuat banyak satwa berevolusi sendiri-sendiri. Sulawesi lalu menjadi rumah bagi spesies-spesies yang tak ditemukan di tempat lain, termasuk anoa, babirusa, dan kuskus beruang.

“Sulawesi itu laboratorium evolusi. Kuskus beruang adalah salah satu saksi hidup proses panjang itu,” terang Syarif.

Karena terpisah oleh laut dalam, kuskus beruang tidak bisa begitu saja menyebar ke pulau lain. Itu sebabnya, Sulawesi bukan sekadar wilayah sebaran, tapi satu-satunya rumah yang dimiliki spesies tersebut.

Rumah itu pun tidak sembarang hutan. Kuskus beruang membutuhkan hutan hujan tropis dengan tajuk yang tersambung, pohon-pohon tinggi, dan ketersediaan pakan yang cukup.

Di Sulawesi Selatan, kata Syarif, satwa ini lebih sering terkait dengan hutan dataran rendah non-dipterokarpa. Sejumlah pohon pakan dari famili Moraceae, juga jenis seperti Ficus, Garuga, dan Cananga.

Struktur hutan menjadi kunci bagi hidupnya. Tinggi pohon, diameter batang, dan tutupan kanopi menentukan apakah satu bentang masih layak dihuni atau tidak.

Bagi kuskus beruang, hutan yang terputus sama artinya dengan jalan hidup yang ikut terpotong. Satwa ini mengandalkan sambungan tajuk, bukan lantai hutan yang terbuka.

“Dia sensitif terhadap fragmentasi. Begitu kanopi pecah, ruang geraknya ikut terganggu,” kata Syarif.

Masalahnya, lanskap Sulawesi terus berubah. Pembukaan lahan, kebun, permukiman, dan pembangunan infrastruktur membuat banyak blok hutan kian terpisah satu sama lain. 

Kuskus sebagai satwa endemik Sulawesi tidak hanya hidup di pulau yang serupa huruf "K" itu, tetapi ia sebenarnya juga hidup di pulau-pulau kecil sekitarnya, seperti Buton dan Kabaena. 

Syarif mengatakan, Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki juga pernah mendokumentasikan pola perilaku kuskus beruang dalam kandang semi-alami di luar hutan. Hasilnya, individu terpelihara menunjukkan aktivitas harian relatif stabil. Selama kebutuhan pakan, mikroklimat, dan perilaku alaminya terpenuhi.

“Secara biologis, sebenarnya satwa ini bisa hidup dalam konteks ex-situ dengan manajemen pakan dan kandang yang dirancang semirip mungkin dengan kondisi tajuk hutan tropis,” jelas Syarif.

Namun, persoalan satwa, kata dia, bukan soal eksistensinya saja. Kuskus beruang misalnya, punya peran sebagai “tukang merapikan alam” di hutan hujan Sulawesi.

“Harus dipertimbangkan, mengintroduksi spesies ini ke habitat baru, dapat menimbulkan risiko ekologis yang lain, sehingga tidak dianjurkan,” terang Syarif. 

Terancam Tambang

Saat videonya mendapat atensi publik, Jumardin mencari tahu lebih banyak tentang kuskus beruang. Sampai dia sadar satu hal. Mengapa saat bertemu satwa itu, letaknya berada di puncak gunung, di lantai hutan, bukan di pepohonan?

Cari makan di semak-semak pula.

Belakangan dia baru teringat, “Tapi memang sih, kelihatan aktivitas tambang (dari puncak Latimojong)."

Uploaded content
Salaah satu video viral yang diambil Jumardin menunjukkan kuskus beruang memakan rerumputan di lantai hutan. | Foto: tangkapan layar video Jumardin

Jumardin tak bisa memastikan aktivitas tambang dari perusahaan apa yang dia lihat. Tapi yang pasti, aktivitas tambang itu benar-benar ada. Dua orang yang pernah mendaki di Latimojong yang saya tanyai, mengonfirmasi menyaksikan hal serupa.

Salah satu tambang yang ada di kawasan Latimojong: PT Masmindo Dwi Area. Perusahaan penambang emas itu telah melakukan eksplorasi sejak 1990-an, dan mengantongi izin kontrak karya (KK) pada 2018, berlaku hingga 19 Juni 2050.

Luas area konsesinya 14.390 hektare tersebar di  Desa Boneposi, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu. Serta di kecamatan yang sama, di Desa Rante Balla. Luas 14.390 hektare ini setara sekitar 20 ribu lapangan sepak bola standar FIFA, yang luasnya 0,714 hektare. Hingga saat ini, PT Masmindo telah membebaskan 1.299 hektare lahan, biayanya lebih Rp100 miliar.

PT Masmindo hanya salah satu. Anak usaha PT Hadji Kalla, PT Kalla Arebamma juga memiliki konsesi di bentangan Gunung Latimojong.

Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Kalla Arebamma berada di Desa Marante, Kecamatan Seko Luwu Utara seluas 6.812 hektare. Kemudian di Kecamatan Rampi, Luwu Utara 12.010 hektare. Total luas konsesinya 18.822 hektare. Setara 26.361 lapangan sepakbola.

Ada juga PT Citra Palu Mineral, total konsesinya 23.629 hektare. Berada di Seko dan Rampi. Setara 33,1 ribu lapangan sepakbola.

“Jadi ada tiga konsesi tambang di bentangan Latimojong,” kata Indarto dari Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Sulawesi Selatan (Sulsel). 

Tiga itu hanya yang memiliki izin. Di bentangan Latimojong, Indarto bilang ada sejumlah tambang emas ilegal yang beroperasi.

”Di wilayah (tambang) itu, merupakan habitat kuskus beruang dan anoa (Bubalus spp.),” ujar Indarto. “Terutama di Kecamatan Bastem untuk Kabupaten Luwu, kemudian di Rampi dan Seko jika di Luwu Utara.”

Indarto menuturkan, pada 2010 dan 2013, dirinya melakukan ekspedisi di bentangan Latimojong. Masih banyak satwa endemik yang dia temui, seperti kuskus beruang.

Seiring waktu, karena degradasi hutan, mulai dari ekspansi kebun, hingga perhutanan sosial, hewan endemik macam kuskus beruang makin sulit dijumpai.

“Sepuluh tahun terakhir diperparah oleh tambang,” terang Indarto. 

Dalam kondisi seperti itu, kuskus beruang menghadapi tekanan berlapis. Setiap pohon yang hilang, artinya jadi kehilangan konektivitas antar-pohon.

Syarif mengatakan, hutan sekunder yang terlalu terbuka atau terfragmentasi biasanya makin jarang dipakai satwa ini. Untuk hewan arboreal yang bergerak lambat, bukaan kecil sekalipun bisa menjadi hambatan besar.

Karenanya, jika kuskus beruang muncul di lantai hutan seperti di puncak Latimojong mencari makan, artinya ada yang tak lazim.  

Penelitian soal populasi kuskus beruang sangat tiris. Sebuah penelitian pada 2008 di Cagar Alam (CA) Tangkoko, Sulawesi Utara, salah satu habitat kuskus beruang menunjukkan populasi kepadatannya hanya 1,66 ekor per kilometer persegi.

Jika dibandingkan dengan riset serupa pada tahun 1999, sebesar 2,08 ekor per kilometer persegi (Wildlife Conservation Society, 2000). Perbandingan tersebut menunjukkan terjadinya penurunan kepadatan populasi kuskus beruang di CA Tangkoko sebesar 20,21 persen.

Tambang selalu datang bersama pembukaan jalan, basecamp, jalur angkut, dan aktivitas manusia yang intens. Yang terpotong bukan hanya pepohonan, melainkan blok habitat yang selama ini menjadi jalur hidup satwa.

Bagi kuskus beruang, dampaknya sangat langsung. Kanopi pecah, pohon pakan hilang, dan ruang aman untuk bergerak makin sempit.

Jika jalan dan aktivitas ekstraktif masuk ke dalam hutan, kualitas kawasan itu sebagai koridor satwa arboreal akan menurun tajam. Pada titik tertentu, hutan mungkin masih tampak hijau dari jauh, tetapi sudah tidak lagi utuh bagi satwa yang hidup di atas pohon.

Syarif menilai, kondisi seperti itu sangat berpotensi merusak ekosistem kuskus beruang.

“Begitu tambang masuk, hutan dibuka untuk jalan dan lubang galian; kanopi pecah, pohon pakan hilang, dan jalur gerak kuskus terpotong.”

Di bentang seperti Latimojong, tekanan itu menjadi sangat serius karena bertemu dengan nilai ekologis kawasan yang tinggi. Saat rumah satu spesies endemik dibuka sedikit demi sedikit, yang terancam bukan cuma satu populasi, tetapi seluruh jalinan hidup di dalamnya.

Di dalam International Union for Conservation of Nature (IUCN), kuskus beruang masuk dalam kategori rentan (vulnerable) dengan tren populasi menurun (decreasing).

Menurut Syarif, menjaga kuskus beruang berarti memastikan hutan tempatnya hidup tidak terus dicacah oleh izin tambang, jalan, dan pembukaan lahan. Apalagi, kuskus beruang punya peran penting. Dengan memakan daun dan pucuk dari beragam jenis pohon, ia ikut menjaga struktur kanopi dan keseimbangan vegetasi.

Jika satwa ini hilang, yang lenyap bukan hanya satu nama dalam daftar fauna Sulawesi. Keseimbangan antara jenis-jenis pohon, lapisan tajuk, dan dinamika hutan dataran rendah ikut berubah perlahan.

Karena itu, kemunculan kuskus beruang di lantai hutan Latimojong, semestinya tidak dibaca sebagai kabar unik semata. Ia juga harus dibaca sebagai peringatan, bahwa di tengah bentang yang terus ditekan, masih ada kehidupan liar yang sedang berusaha bertahan.

“Ketika spesies seperti kuskus beruang hilang, keseimbangan antara jenis-jenis pohon yang sering dan jarang dipangkas pucuknya akan berubah, dan dalam beberapa dekade dapat menggeser komposisi dan struktur hutan.”