Gardaanimalia.com - Mandar gendang (Habroptila wallacii) merupakan salah satu burung endemik Halmahera, Maluku Utara, yang dikenal sangat pemalu dan sulit ditemukan di habitat alaminya.
Di kalangan masyarakat lokal Halmahera, khususnya dalam bahasa Tobelo, burung ini dikenal dengan nama “Hetaka”. Dalam jurnal First Breeding Record of the Drummer Rail Habroptila wallacii, nama “Hetaka” dijelaskan berkaitan dengan ciri kaki merah yang dimiliki burung tersebut 1.
Burung ini hidup di kawasan rawa, hutan sagu, dan lahan basah dengan tumbuhan yang lebat. Karena perilakunya yang sangat tertutup dan jarang terlihat secara langsung di alam liar, Mandar Gendang mendapat julukan internasional sebagai “Invisible Rail” atau “burung mandar yang tak terlihat” 2.
Sebelumnya, spesies ini juga dikenal dengan nama “Drummer Rail”. Nama tersebut berasal dari suara khasnya yang menyerupai bunyi tabuhan drum atau gendang atau tifa maluku dari dalam rawa dan vegetasi hutan. Suara khas inilah yang kemudian menjadi asal-usul nama “Mandar Gendang” 3.
Burung Pemalu yang Sulit Diamati
Mandar Gendang memiliki perilaku unik yang membuatnya sulit ditemukan. Burung ini lebih sering berjalan atau berlari di lantai rawa dibanding terbang. Ketika merasa terganggu, ia akan segera masuk ke semak-semak atau bersembunyi di antara akar sagu dan tumbuhan rawa yang padat 4.
Karena sifatnya yang sangat pemalu, keberadaan Mandar Gendang di alam liar lebih sering diketahui melalui suaranya dibanding penampakan langsung. Burung ini biasanya mengeluarkan suara dari balik vegetasi rawa yang rapat sehingga sulit diamati oleh manusia 5.
Keunikan dan nilai konservasi Mandar Gendang juga pernah mendapat perhatian nasional. Pada tahun 2012, burung ini menjadi salah satu gambar dalam seri perangko “Burung Terancam Punah Indonesia” yang diterbitkan oleh Pos Indonesia bekerja sama dengan Burung Indonesia dan Kementerian Kehutanan.
Catatan Ilmiah tentang Perkembangbiakan Mandar Gendang
Salah satu catatan penting tentang Mandar Gendang berasal dari jurnal ilmiah First Breeding Record of the Drummer Rail Habroptila wallacii yang diterbitkan tahun 2011 oleh Hanom Bashari dan Bas van Balen.
Dalam penelitian tersebut, peneliti berhasil mendokumentasikan penemuan sarang dan anak mandar gendang di Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Halmahera Timur. Penemuan ini menjadi catatan ilmiah pertama mengenai proses berkembang biak mandar gendang di alam liar. Sebelumnya, informasi mengenai kehidupan spesies ini masih sangat terbatas karena sifatnya yang sangat pemalu dan jarang terlihat secara langsung.
Dalam penelitian tersebut ditemukan dua anak mandar gendang yang baru menetas di dalam sarang yang berada di atas tunggul pohon lapuk sekitar satu meter dari permukaan rawa.
Sarang itu berbentuk cekungan dangkal yang tersusun dari serpihan kayu lapuk dan daun kering di kawasan rawa berhutan dengan vegetasi lebat. Peneliti juga mendokumentasikan suara khas mandar gendang yang terdengar seperti tabuhan drum lembut berulang cepat 6.
Habitat Rawa dan Hutan Sagu
Mandar gendang hidup di kawasan rawa air tawar, hutan sagu, dan lahan basah dengan vegetasi lebat. Habitat seperti ini menjadi tempat penting bagi spesies tersebut untuk mencari makan sekaligus berlindung.
Di habitat alaminya, mandar gendang mencari makan berupa serangga kecil, tunas sagu dan menelan kerikil kecil untuk membantu pencernaan makanannya. Spesies ini sangat bergantung pada kondisi rawa yang masih alami dan minim gangguan.
Hutan rawa dan hutan sagu di Halmahera memiliki peran penting bagi kelangsungan hidup burung endemik ini. Ekosistem tersebut tidak hanya menjadi habitat mandar gendang, tetapi juga rumah bagi berbagai satwa khas Maluku Utara lainnya.
Keberadaan mandar gendang menunjukkan pentingnya Halmahera sebagai wilayah dengan biodiversitas tinggi. Pulau ini dikenal memiliki satwa endemik yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Kawasan rawa, hutan hujan tropis, dan hutan sagu di Halmahera menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem alami.
Sebagai bagian dari kawasan Wallacea, Halmahera memiliki kekayaan hayati yang unik dan bernilai penting dalam dunia konservasi. Kondisi geografisnya menjadikan pulau ini sebagai salah satu wilayah penting bagi perlindungan satwa endemik Indonesia Timur.
Pentingnya Upaya Konservasi
Meski memiliki nilai ekologis tinggi, habitat mandar gendang menghadapi ancaman akibat perubahan kawasan hutan dan kerusakan lahan basah. Berkurangnya hutan sagu alami dapat memengaruhi keberlangsungan hidup spesies ini karena mandar gendang sangat bergantung pada habitat rawa yang masih terjaga.
Oleh karena itu, pelestarian kawasan rawa dan hutan sagu menjadi langkah penting dalam menjaga keberlangsungan Mandar Gendang di alam liar. Upaya konservasi habitat tidak hanya melindungi satu spesies, tetapi juga menjaga kekayaan biodiversitas Halmahera secara keseluruhan.















