Mahkota Cenderawasih Bukan Untuk Cendera Mata

  • Share
Mahkota Cenderawasih Bukan Untuk Cendera Mata
Foto dua mahkota cenderawasih. Foto: Flickr/Tanty Hutagalung

Gardaanimalia.com – Pada awal abad ke-16, kapal-kapal dagang bersandar di dermaga Cambay, India. Mereka baru saja mengarungi perjalanan panjang dari perairan paling timur Asia Tenggara sembari singgah di pulau-pulau dengan nama asing seperti Aru dan Tanimbar. Dari kapal-kapal itu, diturunkan kargo berisi barang-barang eksotik hasil transaksi dengan penduduk lokal. Di antaranya adalah tiga puluh potong pakaian dengan bulu-bulu kuning menyala dan satu tubuh burung awetan tanpa kaki dengan bulu yang sama kuningnya. Awetan burung itu memukau seluruh orang. Saking cantiknya, mereka mengira dia diturunkan langsung dari surga. Bird of paradise, sebut mereka.

Tomé Pires, seorang ahli obat Portugis, mencatat hal ini dalam bukunya Suma Oriental. Catatan ini menjadi bukti pertama perdagangan internasional burung cenderawasih.[1]Pires, T. 1944. The Suma Oriental of Tomé Piresof 1512-1515. McGill University Library (kontributor). London: The Hakluyt Society, 578 hal. Diakses dari … Continue reading Semenjak itu, permintaan bulu burung cenderawasih sebagai bagian dari mode terus meningkat.

Tren ini memuncak pada awal abad ke-20 ketika bulu cenderawasih menjadi busana kaum elit bagi orang Eropa dan Amerika Serikat.[2]Andaya, L.Y. 2017. “Flights of fancy: The bird of paradise and its cultural impact”. Journal of Southeast Asian Studies. 48(3): 372-389. DOI: https://doi.org/10.1017/S0022463417000546[3]Kirsch, S. 2006. “History and the Birds of Paradise. Surprising Connections from New Guinea”. Penn Museum Expedition Magazine. 48(1): 15-21. Diakses dari … Continue reading Antara tahun 1905 dan 1920, 30.000 hingga 80.000 burung cenderawasih dibunuh setiap tahunnya untuk memenuhi permintaan pasar. Seluruh usaha untuk menghentikan kepunahan burung ini sia-sia. Namun beruntung, burung cenderawasih selamat karena tren busana bergeser dan permintaan pasar turun.[4]Andaya, L.Y. 2017. “Flights of fancy: The bird of paradise and its cultural impact”. Journal of Southeast Asian Studies. 48(3): 372-389. DOI: https://doi.org/10.1017/S0022463417000546

Mahkota Cenderawasih Bukan Untuk Cendera Mata
Seorang wanita pada awal abad-20 menggunakan topi dengan ornament burung cenderawasih. Foto: Fashionfeathers

Seratus tahun berselang setelah selamat dari kepunahan, kali ini burung cenderawasih bertemu ancaman baru. Tapi kali ini ancaman itu tidak datang dari negeri-negeri Eropa dan Amerika. Dia kebanyakan hadir dari orang-orang lokal yang tergiur dengan suvenir burung cenderawasih, baik dalam bentuk awetan maupun sebagai hiasan pada mahkota. Tidak sedikit cendera mata yang diselundupkan sebagai barang ilegal.[5]Tim Pembela Satwa Liar. 2021. “Karantina Pertanian Ternate Gagalkan Penyelundupan Awetan Cenderawasih”. Garda Animalia. Diakses dari … Continue reading[6]Tubaka, N. 2018. “Polisi Sita Puluhan Cenderawasih Awetan di Kepulauan Aru”. Mongabay. Diakses dari https://www.mongabay.co.id/2018/08/15/polisi-sita-puluhan-cenderawasih-awetan-di-kepulauan-aru/ … Continue reading

Yang paling hangat adalah merebaknya isu kalau mahkota cenderawasih akan dijadikan cendera mata pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XX yang dituanrumahi oleh Provinsi Papua pada awal Oktober mendatang.[7]co. 2021. “Beramai-ramai Tolak Mahkota Burung Cenderawasih sebagai Suvenir PON Papua”. Andryanto, S.D. (ed). Tempo. Diakses dari … Continue reading Berbagai pihak secara tegas menolak ide ini. Penolakan berpusat pada kekhawatiran terhadap keberadaan cenderawasih yang sudah semakin langka. Gracia Josaphat Jobel Mambrasar, Duta Pembangunan Berkelanjutan Sustaniable Development Goals (SDGs) Indonesia, serta Tonny Tesar, Bupati Kabupaten Yapen, menyatakan bahwa populasi burung cenderawasih terus menurun dan pemberian hiasan cenderawasih sebagai cendera mata PON merupakan langkah yang tidak bijaksana.[8]co. 2021. “Beramai-ramai Tolak Mahkota Burung Cenderawasih sebagai Suvenir PON Papua”. Andryanto, S.D. (ed). Tempo. Diakses dari … Continue reading Yang biasa dijadikan mahkota dan awetan, dengan bulu coklat dan ekor kuning-putih, adalah burung cenderawasih jenis Paradisaea. Jenis ini mencakup tujuh spesies yang di antaranya meliputi cenderawasih kuning-besar (Paradisaea apoda), cenderawasih kuning-kecil (Paraidsaea minor), dan cenderawasih raggiana (Paradisaea raggiana).[9]Irestedt, M., Jønsson, K.A., Fjeldså, A., Christidis, L., Ericson, P.G.P. 2009. “An unexpectedly long history of sexual selection in birds-of-paradise”. BMC Evolutionary Biology. 9: 235. DOI: … Continue reading

BACA JUGA:
Mengagumi, Jangan Sampai Menyakiti

Dalam IUCN Red List, diketahui bahwa seluruh spesies cenderawasih dalam jenis Paradisaea mengalami penurunan populasi. Tiga di antaranya masih berada dalam status kekhawatiran rendah (least concern), dua berada dalam status hampir terancam (near threatened), dan dua berada dalam status rentan (vulnerable). Status ini sebenarnya tidak memberikan gambaran yang utuh karena jumlah spesies cenderawasih sampai saat ini tidak diketahui secara pasti. Dengan tingginya perburuan, sangat memungkinkan kalau kondisi mereka jauh lebih buruk dibandingkan dengan yang dilaporkan. Pada Peraturan Menteri LHK No. P106 tahun 2018, seluruh spesies cenderawasih yang ada di Indonesia masuk ke dalam daftar hewan diindungi.[10]Republik Indonesia. 1990. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Jakarta: Sekretariat Negara.

Baca juga: Mengenai Pulau Jawa, Penjara Burung Terbesar di Indonesia

Sebenarnya sudah terdapat dua aturan pemerintah yang menegaskan bahwa transaksi produk cenderawasih tidak diperbolehkan. Yang pertama adalah UU 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang diuraikan dalam Peraturan Menteri LHK No. P106 tahun 2018. Undang-undang ini menyatakan bahwa setiap orang dilarang untuk menyimpan dan memperniagakan hewan yang dilindungi baik dalam keadaan hidup maupun mati, termasuk cenderawasih di dalamnya. Aturan yang kedua adalah Surat Edaran Nomor 660.1/6501/SET tanggal 5 Juni 2017 oleh Provinsi Papua yang melarang penggunaan burung cenderawasih sebagai aksesoris dan cendera mata.[11]Suroto, H. 2021. “Kontroversi Mahkota Burung Cenderawasih Jadi Souvenir PON XX Papua”. detikTravel. Diakses dari … Continue reading Yang diperbolehkan dalam surat edaran ini hanya penggunaan burung cenderawasih asli dalam proses adat istiadat yang bersifat sakral.

Surga Itu Terancam Runtuh pada Sebuah Pekan Olahraga

Mahkota cenderawasih merupakan simbol kebesaran masyarakat adat Papua yang hanya boleh dikenakan oleh seorang tokoh adat wilayah pesisir atau kepala suku wilayah daerah pegunungan pada acara-acara tertentu saja.[12]Suroto, H. 2021. “Kontroversi Mahkota Burung Cenderawasih Jadi Souvenir PON XX Papua”. detikTravel. Diakses dari … Continue reading[13]Mayor, R.J. 2021. “’Mahkota Cenderawasih Simbol Kebesara, Jangan Pakai Sembarangan di PON XX Papua’”. Merdeka. Diakses dari … Continue reading Dahulu, bulu cenderawasih dipakai oleh prajurit-prajurit Papua sebagai simbol kekebalan. Oleh para wanita, bulu cenderawasih dikenakan sebagai lambang kesuburan.[14]Andaya, L.Y. 2017. “Flights of fancy: The bird of paradise and its cultural impact”. Journal of Southeast Asian Studies. 48(3): 372-389. DOI: https://doi.org/10.1017/S0022463417000546

Mahkota Cenderawasih Bukan Untuk Cendera Mata
Ilustrasi mahkota cenderawasi. Foto: IDN Times

Namun, berawal dari interaksi suku Papua dengan bangsa Eropa, nilai dari seekor cenderawasih bergeser. Bulu burung ini awalnya dipakai sebagai hadiah kepada raja-raja Eropa. Lama kelamaan, dia dipakai sebagai alat tukar dengan barang-barang berharga lainnya. Dewasa ini, cenderawasih justru menjadi sekadar suvenir. Dalam kata-kata Rosaline Rumaseuw, Ketua Umum Cendikiawan Perempuan Papua, “mahkota ini telah hilang nilai budaya diganti dengan nilai ekonomi. Siapa saja dapat membelinya untuk digunakan pada festival-festival budaya.”[15]co. 2021. “Beramai-ramai Tolak Mahkota Burung Cenderawasih sebagai Suvenir PON Papua”. Andryanto, S.D. (ed). Tempo. Diakses dari … Continue reading

Jika mahkota cenderawasih benar-benar diberikan sebagai cendera mata, maka pemerintah seakan-akan mengaminkan kata-kata ini. Nilai kultural dan kesakralan dari mahkota cenderawasih akan jatuh hingga akhirnya pakaian ini hanya menjadi mode busana lainnya. Kita akan kembali pada abad di mana bulu cenderawasih sekadar menjadi jambul pada topi-topi bangsawan Eropa. Ironisnya, pemerintahlah yang bergerak sebagai promotor utama.

BACA JUGA:
Satgas Pamtas RI-PNG sita satwa burung dilindungi

Lebih daripada itu, pemberian cendera mata akan memperlihatkan ketidakseriusan pemerintah terhadap usaha konservasi spesies yang dilindungi. Dengan menyebarluaskan produk hewan dilindungi, PON, sebuah acara nasional yang digelar oleh pemerintah Indonesia, akan melanggar peraturan yang dibuatnya sendiri.

Bisa jadi hanya akan ada satu atau dua mahkota yang disematkan selama PON XX berlangsung dan itu tidak mengganggu populasi cenderawasih secara langsung. Namun, ini tidak berarti masalah menjadi selesai. Dengan menampilkan cendera mata cenderawasih walaupun barang satu ekor, pemerintah memberikan lampu hijau kepada calon-calon oknum untuk memburu dan memperjualbelikan burung cenderawasih dengan lebih leluasa. Efek domino dari kegiatan ini seharusnya terlalu kentara untuk tidak dapat dilihat oleh para pemangku kebijakan.

Fakta bahwa beberapa spesies cenderawasih masih pada status kekhawatiran rendah (least concern) dalam daftar IUCN tidak dapat dijadikan alasan. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, rendahnya status burung cenderawasih dalam daftar IUCN lebih merefleksikan lemahnya penelitian cenderawasih ketimbang memperlihatkan populasi asli burung ini di alam liar. Lagipula, sebanyak apapun jumlahnya, hewan endemik seperti cenderawasih akan selalu lebih rentan punah karena mereka tersebar pada wilayah yang sangat terbatas.[16]Isik, K. 2011. “Rare and endemic species: why are they prone to extinction?”. Turkish Journal of Botany. 35(4): 411-417. DOI: http://dx.doi.org/10.3906/bot-1012-90 

Kabar baiknya, Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, menegaskan bahwa mahkota cenderawasih tidak akan diberikan sebagai cendera mata bagi peserta PON XX. Jika memang akan ada, yang akan diberikan adalah mahkota dengan bulu cenderawasih imitasi.[17]Wally, E. 2021. “Bupati Jayapura: Topi Cenderawasih tidak dikenakan pada tamu PON XX”. Jubi. Diakses dari … Continue reading Namun, sampai benar-benar bisa dibuktikan bahwa mahkota cenderawasih tidak akan diberikan sebagai cendera mata, masyarakat dan pemerintah perlu tetap melakukan pengawasan agar tidak terjadi pelanggaran yang dapat membahayakan spesies burung cenderawasih manapun.

BACA JUGA:
BKSDA Sulut dan Balai Karantina Pertanian Manado Translokasi 107 Satwa

Ada kepercayaan di kalangan masyarakat adat Papua bahwa ketika sekarat, cenderawasih akan terbang ke arah matahari hingga dia kelelehan dan akhirnya jatuh ke Bumi.[18]Andaya, L.Y. 2017. “Flights of fancy: The bird of paradise and its cultural impact”. Journal of Southeast Asian Studies. 48(3): 372-389. DOI: https://doi.org/10.1017/S0022463417000546 Jika kita tidak menghormati burung-burung surga ini, mungkin satu hari kita akan melihat mereka berbondong-bondong pergi ke sana. Sebagian akan mati dan jatuh kembali ke Bumi, sedangkan yang lainnya akan hangus terbakar dalam api. Mereka akan memilih untuk mati bersama-sama secara alami ketimbang dijerat dan dipereteli oleh tangan tamak manusia yang hanya melihat mereka sebagai pelumas gerigi ekonomi.

Surga akan runtuh di hadapan kita dan yang tersisa pada langit Papua hanya warna biru yang pucat pasi.

Referensi[+]

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments