Mendalam

Mengejar Kelestarian Lutung Jawa di Tengah Perburuan dan Hutan yang Menyusut

07/04/2026|Eko Widianto
Lutung jawa Trachypithecus auratus masuk dalam kategori rentan vulnerable dalam IUCN Red List Foto ProFauna - Mengejar Ke...

Lutung jawa (Trachypithecus auratus) masuk dalam kategori rentan (vulnerable) dalam IUCN Red List. | Foto: ProFauna

Gardaanimalia.com - Ketua ProFauna Indonesia, Rosek Nursahid, bersama Ranger ProFauna menemukan bagian tubuh lutung jawa (Trachypithecus auratus) di Hutan Lindung Malang Selatan, berupa ekor, kaki, dan rambut. Temuan itu didapat saat patroli pada awal Maret 2026. Mereka menduga bagian tubuh tersebut ditinggalkan setelah dagingnya diambil.

“Daging dikonsumsi, biasa menjadi tambul atau camilan pendamping minuman beralkohol,” kata Rosek pada Selasa (10/3/2026).

Menurut Rosek, daging lutung jawa menjadi favorit karena dianggap memberi efek lebih memabukkan pada minuman keras. Permintaan pada daging lutung seperti itu pun terus memicu perburuan.

Sesuai Undang-Undang (UU) Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDAHE), pelaku perburuan satwa dilindungi terancam hukuman penjara paling singkat tiga tahun dan paling lama 15 tahun.

Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), lutung jawa berstatus rentan (vulnerable) karena populasinya terus menurun dan habitatnya terdegradasi.

Uploaded content
Ranger ProFauna tengah berpatroli di sejumlah hutan lindung di kawasan Malang dan Batu. | Foto: ProFauna

Lutung jawa dapat hidup di hutan dataran rendah hingga pegunungan, sampai ketinggian 3.500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Spesies ini juga merupakan bioindikator kelestarian hutan di Jawa.

Selain tekanan perburuan, kondisi habitat turut memengaruhi keberlangsungan populasinya. Rosek menekankan pentingnya menjaga hutan sebagai habitat utama lutung jawa.

Untuk menghentikan perburuan di alam liar, patroli dan pengawasan di Hutan Lindung Malang Selatan perlu dilakukan secara rutin. Namun, Rosek mengaku kesulitan mendeteksi jumlah pelaku, pintu masuk, dan persebarannya.

“Pintu masuknya banyak sekali. Jadi belum punya data pasti berapa angka perburuan,” katanya.

Hutan Lindung Malang Selatan seluas 11.530 hektare tersebar di Kecamatan Donomulyo, Pagak, Gedangan, Sumbermanjing, Tirtoyudo, dan Ampelgading. Sekitar 200 hektare di antaranya rusak akibat pembalakan liar.

Uploaded content
Lutung jawa remaja dan anak memiliki rambut berwarna oranye atau kuning keemasan. Warna rambut itu akan menghitam seiring bertambahnya usia. | Foto: ProFauna

Ranger ProFauna rutin berpatroli untuk membantu tugas polisi hutan Perum Perhutani. Monitoring difokuskan pada kawasan yang berbatasan dengan wilayah Batu dan Malang.

Mereka juga memantau lutung jawa di hutan lindung kaki Gunung Arjuno sepanjang Januari hingga Desember 2025. Secara administrasi, Gunung Arjuno berada di Kabupaten Pasuruan, Mojokerto, Malang, dan Kota Batu.

Selama pemantauan, ProFauna menjumpai sembilan kelompok lutung jawa di wilayah Batu dan Karangploso dengan total sekitar 54 individu. Dari jumlah tersebut, 10 individu tergolong muda yang ditandai warna rambut oranye atau kuning keemasan.

“Terjadi penurunan populasi yang signifikan, data ini mengkhawatirkan,” kata Rosek.

Kekhawatiran itu bukan tanpa sebab. Sekitar 20 tahun lalu, ProFauna mencatat sedikitnya 20 kelompok lutung jawa di lokasi yang sama. Biasanya, satu kelompok terdiri dari tujuh hingga 15 individu. 

Alih fungsi hutan menjadi ladang pertanian menjadi salah satu pemicu penurunan populasi di kaki Gunung Arjuno.

“Banyak kawasan yang hutan, sekarang menjadi ladang pertanian," katanya.

Selain itu, perburuan liar yang marak pada 2000-an hingga 2015 juga turut menekan populasi. Lutung jawa sepenuhnya bergantung pada pohon karena ia merupakan satwa arboreal. Berbagai jenis dedaunan hutan juga menjadi sumber pakan utamanya.

Merespons Ancaman, Menawarkan Solusi

Alih fungsi hutan menjadi ladang pertanian juga menjadi pemicu menurunnya populasi lutung jawa di kaki Gunung Arjuno.

“Banyak kawasan yang hutan, sekarang menjadi ladang pertanian," kata Rosek. 

Merespons ancaman ini, ProFauna mendampingi petani hutan untuk meninggalkan kebun sayur dan beralih ke tanaman buah atau kopi tanpa merusak kawasan hutan. Langkah ini juga menjadi bagian dari mitigasi bencana, karena pada 2021, banjir dan longsor sempat terjadi dan menyebabkan tujuh korban jiwa.

“Kami percaya program pengalih komoditas tanaman dari sayur menjadi tanaman berkayu menjadi salah satu solusi untuk menyelamatkan hutan di lereng Gunung Arjuno,” kata Rosek.

Ia menyebut, luas hutan lindung yang beralih fungsi diperkirakan mencapai 3.000 hektare. Dalam kondisi ideal, kawasan tersebut seharusnya tetap berupa hutan lindung dengan vegetasi multispesies.

“Jadi status hukumnya hutan lindung, tapi secara existing sudah tidak tampak hutan lindung,” katanya.

Rosek juga mengkritik rencana Kementerian Kehutanan menambah 21 ribu hingga 70 ribu personel polisi hutan pada 2026 untuk mengamankan 125 juta hektare hutan. Menurutnya, pelibatan masyarakat lokal lebih efektif dibandingkan penambahan personel.

“Di banyak tempat, polhut justru tidak banyak di hutan. Mereka berada di kantor,” katanya.

Masyarakat sekitar hutan dilatih untuk berpatroli dan memantau kondisi kawasan. Mereka pun dinilai lebih memahami situasi di lapangan.

ProFauna merekrut dua hingga tiga warga di setiap lokasi patroli. Total terdapat 17 warga lokal yang terlibat di Gunung Arjuno, Gunung Kawi, dan Hutan Lindung Malang Selatan.

“Mereka tidak digaji bulanan, tetapi diberi biaya operasional saat berpatroli,” katanya.

Uploaded content
Rosek bersama pohon rimba di Hutan Lindung Gunung Arjuna yang dibiarkan tumbang akibat kebakaran hutan. Tidak ada upaya reboisasi di kawasan tersebut. | Foto: Eko Widianto

Jalan Panjang Upaya Konservasi

Upaya konservaai tak luput pula dari proses rehabilitasi satwa liar yang menjadi korban perdagangan atau pemeliharaan. Proses rehabilitasi berujung pada harapan bahwa satwa dapat dilepasliarkan untuk melestarikan populasi di alam. 

Manajer Proyek Javan Langur Center (JLC), Iwan Kurniawan, menyebut pihaknya telah melepasliarkan 192 ekor lutung jawa sejak 2011.

Satwa tersebut dilepas di berbagai kawasan, antara lain Coban Talun di Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, Hutan Lindung Malang Selatan, Cagar Alam Pulau Sempu, Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung, dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Setelah pelepasliaran, personel JLC melakukan pemantauan selama tiga hingga enam bulan.

“Namun, yang intensif memantau dilakukan [hanya] di Coban Talun, karena keterbatasan personel,” katanya pada Selasa (10/3/2026).

Pemantauan dilakukan secara manual menggunakan binokular. Dari tujuh ekor lutung jawa yang dilepas pada 2021, populasinya berkembang menjadi 38 ekor, masuk pada generasi ketiga. Lutung yang dirilis itu berasal dari sitaan BBKSDA Jawa Timur dari operasi di Lamongan pada 2009.

Iwan menyebut keberhasilan reproduksi didukung oleh kondisi lingkungan yang baik. Pelepasliaran bertujuan memberi kesempatan hidup bebas di alam, menambah populasi, serta mencegah perkawinan sedarah.

Namun, kerusakan habitat di Tahura Raden Soerjo menjadi tantangan serius.

“Ada alih fungsi menjadi kebun pertanian, jalan dan bermacam-macam proyek,” katanya.

Uploaded content
JLC melepaskan lutung jawa di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pada medio 2024. | Foto: Eko Widianto

Pulau Sempu, Benteng Hidup Lutung Jawa

Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Ahli Muda BBKSDA Jawa Timur, Fajar Dwi Nur Aji, memimpin monitoring lutung jawa di Cagar Alam Pulau Sempu pada September 2025.

Survei dilakukan selama 10 hari bersama 10 personel dengan menjelajahi berbagai jalur, termasuk membuka jalur baru. Hasilnya, ditemukan 251 individu dalam 47 kelompok dengan kepadatan rata-rata 0,92 individu per hektare.

Hasil penelitian Kebun Raya Purwodadi LIPI 2015-2016 menyebutkan CA Pulau Sempu memiliki 168 jenis pohon. Sebagian besar merupakan sumber pakan lutung jawa.

“Ketersediaan pakan melimpah,” katanya pada Kamis (19/3/2026).

Saat patroli, petugas mengamati bahwa komposisi lutung jawa merata, baik dewasa, remaja, dan anak-anak. Kondisi ini menunjukkan jika perkembangbiakan dan pertumbuhan lutung jawa cukup baik.

Kemudian, hingga kini keberadaan macan tutul jawa sebagai predator alami belum terkonfirmasi secara visual melalui kamera jebak. Meski begitu, laporan warga menyebut pernah terjadi perjumpaan di beberapa lokasi.

“Tapi belum berbukti secara data digital,” katanya.

Uploaded content
Sekitar 3 ribu hektare hutan lindung di kaku Gunung Arjuna beralih fungsi menjadi kebun sayuran hingga menyebabkan banjir bandang pada 2021. Kondisi ini membuatnya rentan sebagai habitat lutung jawa, kontras dengan Pulau Sempu yang dinilai layak secara ketersediaan pakan. | Foto: Eko Widianto

Pulau Sempu menjadi habitat beragam satwa, mulai dari primata hingga burung dan biota pesisir.

Kawasan ini dinilai sebagai benteng terakhir lutung jawa di Jawa Timur. Fajar merekomendasikan penguatan pengawasan, termasuk sosialisasi bahwa kawasan tersebut bukan destinasi wisata, lalu pemasangan larangan berburu, dan pendataan pohon pakan.

“Patroli rutin dilakukan mencegah gangguan dari perburuan, illegal logging atau wisata,” katanya.

Upaya lain adalah pelepasliaran untuk menjaga keberagaman genetik dan mencegah inbreeding.

“Kawasan konservasi menjadi benteng terakhir, karena tidak ada proses eksploitasi dan vegetasinya beragam. Sehingga harus dijaga, khusus untuk penelitian dan pendidikan,” ujarnya.