Edukasi

Mengenal Suara Burung dari Balik Pohon: Kicauan, Panggilan, dan Perannya dalam Konservasi

20/04/2026|Zidan Raihan Rafi
Burung gereja bertengger di pohon Anastasiya RomanovaUnsplash - Mengenal Suara Burung dari Balik Pohon Kicauan Panggilan...

Burung gereja bertengger di pohon. | Anastasiya Romanova/Unsplash

Gardaanimalia.com –  Di kala kita sedang berjalan di area yang memiliki banyak vegetasi, seperti rumput-rumputan, semak belukar, pepohonan, dan masih banyak lagi, tidak jarang kita akan mendengar suara-suara alam. Suara-suara alam tersebut bisa berupa suara hembusan angin pagi di saat matahari mulai terbit, suara tetesan air yang berjatuhan ke genangan air setelah hujan reda, hingga suara satwa-satwa liar yang hidup di sana. Salah satu suara satwa liar yang kerap terdengar adalah burung.

Layaknya satwa liar lainnya, mengeluarkan suaranya sebagai salah satu bentuk komunikasinya dengan lingkungan sekitar mereka.  Pada burung, ada dua tipe utama, yaitu suara calls atau panggilan dan songs atau nyanyian/kicauan1.

Secara umum suara panggilan memiliki struktur suara yang lebih sederhana dan pendek dibandingkan dengan suara kicauan yang memiliki struktur suara yang lebih kompleks, panjang, dan memiliki ritme yang terkadang diiringi oleh irama suara yang merdu. Selain itu, kicauan terkadang memiliki ritme nada suara yang berulang-ulang.
YouTube Video Thumbnail

Tipe Suara Songs atau Kicauan

Suara songs atau kicauan burung memiliki dua fungsi utama, yaitu sebagai penarik perhatian lawan jenis dan sebagai penanda teritori wilayah mereka. Tiap burung mempelajari suara kicauan mereka dari generasi ke generasi.

Anak burung biasanya akan mempelajari kicauan khas spesies mereka lewat mendengarkan kicauan burung dewasa, bisa dari induk mereka, atau dari kawan sesama spesies. Ketika kita mendengar tipe suara burung ini di alam, maka ada kemungkinan kita sudah memasuki teritori suatu spesies burung karena seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya salah satu fungsi tipe suara ini adalah sebagai penanda teritori mereka. 

Selain itu, ketika burung mengeluarkan suara ini besar kemungkinan mereka tidak menganggap kehadiran kita sebagai suatu ancaman. Hal ini disebabkan karena burung jarang sekali mengeluarkan kicauan ketika mereka dalam posisi tertekan atau terancam. 

Beberapa contoh kicauan yang sering kita dengar adalah suara burung tekukur biasa (Spilopelia chinensis) dengan suara khasnya yang menjadikannya nama lokal burung ini sendiri: “te-kuk-kurr” dengan suara “kurr” di akhir memiliki nada yang lebih panjang. Contoh kicauan lainnya yang tidak kalah familier adalah suara ayam kampung jantan (Gallus gallus domesticus) dengan suara “kukuruyuk”nya ketika matahari mulai terbit.

Tipe Suara Calls atau Panggilan 

Berbeda dengan kicauan yang memiliki melodi dan pola nada yang jelas, suara panggilan umumnya terdengar lebih sederhana dan tidak beraturan nadanya.

Walaupun begitu, suara panggilan memiliki variasi yang sangat beragam sehingga dapat digunakan dalam berbagai situasi. Keberagaman ini sejalan dengan fungsinya yang juga beragam, mulai dari komunikasi antarsesama spesies, penanda posisi, pengaturan formasi terbang, hingga pemberi informasi soal keberadaan mangsa atau peringatan akan adanya predator.

Intensitas suara panggilan yang dikeluarkan burung juga berubah bergantung pada situasi yang sedang dihadapinya. Semakin genting situasi yang dihadapi, semakin keras pula suara panggilannya.

Sebagai contoh, perbedaan intensitas antara suara panggilan posisi dan suara panggilan perpisahan. Suara panggilan posisi, yang dikeluarkan ketika burung bertemu sesama spesies, cenderung bernada rendah dan tenang.

Sebaliknya, suara panggilan perpisahan yang dikeluarkan ketika burung kehilangan kawannya terdengar lebih keras. Intensitas ini akan meningkat drastis ketika burung bertemu predator, yang disebut suara panggilan peringatan, dan mencapai puncaknya ketika burung sedang dikejar predator, yang disebut suara panggilan bahaya.

Pentingnya Suara Burung terhadap Kegiatan Konservasi 

Suara burung merupakan salah satu sinyal kehadiran burung dalam suatu ekosistem yang paling mudah dideteksi. Bahkan dari suaranya, kita dapat mengidentifikasi jenisnya, walaupun idealnya pengamatan bentuk fisik tetap diperlukan agar tidak terjadi kesalahan identifikasi.

Namun, kondisi di lapang terkadang tidak sesuai harapan. Burung adalah satwa liar yang lincah, cerdik, dan cukup sensitif terhadap lingkungan sekitarnya. Tidak jarang ketika melakukan pengamatan, kita hanya dapat mendengar suaranya tanpa bisa melihat wujudnya secara langsung, seakan burung tersebut sengaja bersembunyi di balik vegetasi. 

Walaupun demikian, keterbatasan ini tidak menghentikan para peneliti dan pengamat burung untuk terus mempelajari keberadaan burung di alam. Untungnya, ilmu bioakustik hadir sebagai jawaban atas keterbatasan visibilitas tersebut. Bioakustik adalah ilmu yang mempelajari suara-suara hewan. 

Dari ilmu ini, peneliti menemukan berbagai tipe suara burung beserta makna dan fungsinya, sebuah temuan yang sangat berguna dalam upaya konservasi. 

Dari sinilah kita mengetahui bahwa suara burung bukan sekadar penghias alam, melainkan juga merupakan pola komunikasi, penanda teritori, penarik pasangan, hingga peringatan akan kehadiran predator. Dalam konteks konservasi, kemampuan mendeteksi keberadaan burung lewat suaranya memungkinkan kita menilai kondisi suatu ekosistem, mengingat burung dapat berfungsi sebagai bioindikator kesehatan dan perubahan lingkungan.


1 Marler P. 2004. Bird calls: Their potential for behavioral neurobiology. Annals of the New York Academy of Sciences. 1016:31–44. doi:10.1196/annals.1298.034.