Gardaanimalia.com - Perjalanan menuju keindahan sejati tak pernah mudah. Ia menuntut langkah, waktu, dan kesabaran. Di tengah rimbunnya hutan hujan tropis Papua, tepatnya di Tablasupa, sebuah desa di kaki Pegunungan Cycloop, kesabaran itu akhirnya berbuah emas: pertemuan singkat yang magis dengan Sang Cenderawasih, burung yang menjadi simbol kemurnian alam Papua.
Gerbang Menuju Keajaiban Papua
Pagi masih terasa lembut di Kecamatan Abepura, Jayapura, saat kendaraan mulai bergerak meninggalkan hiruk pikuk kota. Jalanan berliku selama kurang lebih dua jam membawa kami menuju Tablasupa, sebuah nama yang tak asing bagi para pengamat burung dunia.
Namun, perjalanan kali ini menjadi lebih kaya. Dalam perjalanan, kami menyempatkan diri untuk singgah di area budidaya anggrek yang terletak di jalur menuju Cycloop.
Kunjungan ini memberikan wawasan tentang upaya konservasi berbasis masyarakat dan pemanfaatan berkelanjutan dari kekayaan flora Papua. Persinggahan untuk mengamati keindahan flora sebelum menjelajahi faunanya inilah yang menjadi alasan mengapa kami tiba di titik pendakian utama relatif sore.
Setibanya di Tablasupa, udara terasa lebih segar dan lembap. Inilah gerbang menuju keajaiban Cycloop, kawasan vital sebagai cagar alam dan penjaga ketersediaan air bagi wilayah Jayapura.
Menembus Tirai Kanopi Hutan: Eksplorasi Cycloop
Jalur pendakian dimulai dari titik awal di ketinggian 0 meter di atas permukaan laut, menantang kami untuk menapaki jalur yang terus menanjak hingga mencapai sekitar 600 meter. Ini bukan sekadar berjalan—ini adalah eksplorasi vertikal menuju jantung hutan hujan tropis, di mana setiap langkah membawa kami lebih dekat pada lapisan-lapisan kehidupan yang tersembunyi di lerengnya.
Vegetasi di sini begitu padat, membentuk tirai kanopi yang tebal, menyaring cahaya matahari hingga suasana di bawahnya selalu teduh dan lembap. Setiap langkah kami disambut oleh akar-akar raksasa yang melintang seperti urat bumi di jalur tanah, memaksa kami untuk melangkah hati-hati. Udara yang kami hirup berbau tanah basah, lumut, dan kehidupan.
Di sepanjang jalur, hutan memamerkan kekayaan biologisnya. Kami melihat sekilas anggrek hutan dengan warna-warna mencolok yang menempel di batang pohon tua, diselingi lalu lalang kupu-kupu berwarna cerah yang hanya sebentar hinggap. Setiap langkah terasa seperti memasuki dunia lain, dunia yang hanya milik burung, pepohonan, dan angin—sebuah ekosistem murni yang nyaris tak tersentuh.
Belum lama setelah pendakian dimulai, langit mulai meneteskan air. Rintik hujan perlahan turun, menciptakan suara ritmis yang khas di antara dedaunan.
Kekhawatiran sempat muncul—burung biasanya enggan menampakkan diri saat hujan. Namun, langkah tetap diteruskan, didorong rasa penasaran yang besar. Butuh sekitar 40 menit pendakian intens untuk mencapai pos pengamatan.
Tarian di Bawah Kilau Emas
Oleh karena sempat singgah untuk melihat budidaya anggrek di sepanjang jalan, tim baru tiba di pos pengamatan pada pukul 15.30 WIT. Namun, keberuntungan berpihak pada kami. Seolah mengerti maksud kedatangan kami, hujan pun berhenti.
Cahaya sore yang lembut mulai menembus sela-sela daun, menciptakan kilau keemasan di antara kabut tipis. Kami menunggu dalam diam, dalam suasana hening yang penuh harap.
Awalnya hanya suara. Panggilan khas cenderawasih yang lembut, tetapi tegas memecah keheningan. Kami menajamkan pandangan, menelusuri setiap cabang pohon tinggi, hingga akhirnya, ia muncul.
Seekor cenderawasih kecil (Paradisaea minor) jantan dengan bulu keemasan berkilau memamerkan tarian anggunnya. Gerakannya penuh percaya diri, seolah menunjukkan siapa penguasa sejati di kanopi hutan.
Burung jantan memang terkenal dengan bulu spektakuler dan tarian uniknya sebagai pertunjukan memikat betina.
Saat itu, semua lelah pendakian dan dinginnya rintik hujan sirna, digantikan oleh rasa syukur menyaksikan keindahan yang begitu murni.
Tak lama setelahnya, hutan kembali bersuara: kepakan kuat julang papua (Rhyticeros plicatus) melintas rendah, meninggalkan gema khas, melengkapi orkestra alam sore itu.
Pemilik Misteri dari Tanah Papua
Pegunungan Cycloop merupakan rumah bagi beragam kehidupan endemik. Dari anggrek liar, kupu-kupu mencolok, hingga burung cenderawasih (Bird of Paradise) yang mendunia.
Dari 43 spesies cenderawasih di dunia, sebagian besar hanya bisa ditemukan di Papua dan pulau-pulau sekitarnya.
Menariknya, di balik pesonanya, cenderawasih masih menyimpan banyak misteri. Para ilmuwan mengakui bahwa hingga kini, lokasi sarang alami dari sebagian besar spesiesnya hampir tidak pernah terekam langsung.
Cenderawasih seolah hidup nyaris tersembunyi, menjadikan setiap pengamatan di habitat aslinya—seperti di Tablasupa ini—bukan sekadar pengalaman estetika, tetapi juga kesempatan langka untuk mengungkap rahasia alam.
Etika dan Persiapan
Di ketinggian Cycloop, keindahan sejati menuntut perjuangan. Bagi siapa pun yang ingin merasakan sensasi serupa, menyapa Sang Emas di antara kabut dan pepohonan, ada beberapa hal penting yang patut dipersiapkan: waktu terbaik untuk mengamati cenderawasih adalah pagi hari sekitar pukul 06.00 hingga 09.00 WIT atau sore hari menjelang matahari terbenam, saat burung jantan aktif menari dan bersuara.
Selalu bawa teropong dan kamera dengan lensa panjang agar bisa mengamati tanpa mengganggu. Kenakan pakaian berwarna netral dan siapkan fisik yang baik, termasuk sepatu trekking tahan air dan jas hujan ringan, mengingat jalur di Cycloop cenderung menanjak dan lembap.
Kunci utama adalah didampingi oleh pendamping lokal yang mengenal jalur dan kebiasaan burung. Dan yang paling utama, jaga etika selama di hutan: hindari memutar suara burung untuk memancingnya keluar, jangan meninggalkan sampah, dan biarkan hutan menerima kita dengan cara alaminya.
Di antara kabut sore yang tenang dan nyanyian hutan yang alami, Tablasupa mengajarkan sebuah pelajaran berharga: keindahan sejati tidak selalu mudah ditemukan, tetapi selalu layak diperjuangkan.















