Gardaanimalia.com - "Tuiit.. tutuwiitt. tuiit.. tutuwiitt..."
Sebagian besar dari masyarakat pasti tidak asing dengan suara burung tersebut. Meskipun jarang terlihat oleh mata telanjang, nyanyian burung sirit uncuing (Cacomantis merulinus) memang kerap terdengar dari wilayah pedesaan hingga hutan terbuka.
Dalam budaya masyarakat Jawa, nyanyian sirit uncuing atau kedasih ini sering diasosiasikan sebagai pertanda akan datangnya kematian hingga bencana di daerah tersebut.
Dilansir dari Burung Indonesia, nyanyian sirit uncuing dipengaruhi oleh suasana hatinya. Saat cuaca sedang cerah dan persediaan pakan berlimpah, nada suara burung sirit uncuing akan terdengar lebih tinggi dan riang. Namun, pada musim hujan, nada suaranya akan lebih mendayu dan menurun seperti sedang murung.
Perubahan nada di kala mendung inilah yang memperkuat kesan mistis dalam persepsi masyarakat. Padahal, itu hanyalah respons alami burung terhadap perubahan tekanan udara dan suasana alam.
Di balik mitos yang membayanginya, ternyata burung sirit uncuing memiliki peran krusial sebagai penyeimbang alam, lho.
Berikut fakta-fakta tentang burung sirit uncuing yang jarang diketahui.
Sang Pengendali Hama Alami, Sahabat Petani
Burung ini merupakan insektivora, yaitu pemakan serangga yang kerap muncul di sekitar ladang dan persawahan. Oleh karena itu, tidak salah jika sirit uncuing disebut berperan penting sebagai pengendali hama sekaligus sahabat bagi para petani.
Selain di area pertanian, sirit uncuing juga memangsa larva serangga dan ulat di dalam hutan. Keberadaannya sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dengan mengendalikan populasi serangga hutan.
Meski makanan utamanya adalah serangga, burung ini juga gemar mengonsumsi makanan lain, yaitu buah-buahan berukuran kecil.
Memiliki Perilaku Parasit!
Burung yang juga dikenal dengan nama manuk emprit ganthil atau wiwik kelabu ini merupakan salah satu burung yang bersifat parasit.
Burung ini menerapkan strategi reproduksi parasitisme, khususnya parasitisme sarang (brood parasitism). Induk jantan maupun induk betina, sama-sama tidak menunjukan perilaku membuat sarang atau mengerami telurnya sendiri. Burung ini justru menitipkan telur-telurnya pada sarang burung-burung kecil, seperti cinenen, prenjak, pijantung, cicadaun dan lain-lain
Induk betina akan diam-diam meletakkan telurnya di sarang spesies burung-burung kecil agar telurnya dierami tanpa sepengetahuan induk inang.
Ajaibnya, setelah anakan sirit uncuing sudah menetas, ia akan berperilaku agresif dengan otomatis mendorong telur atau anak burung inang ke luar sarang, sehingga hanya anak sirit uncuing yang bertahan dan mendapatkan perhatian penuh dari sang induk inang.
Selanjutnya, anak sirit uncuing akan sepenuhnya dibesarkan oleh induk inang tanpa melibatkan induk biologisnya. Perilakunya ini mencerminkan adaptasi evolusioner yang memungkinkan sirit uncuing untuk mengalihkan tanggung jawab dalam pengasuhan pada spesies burung lain.
Secara ekologis, hal tersebut menguntungkan bagi kelangsungan reproduksi sirit uncuing tanpa perlu mengeluarkan energi dalam pembangunan sarang dan perawatan anak.
Meskipun burung ini tidak menyebabkan kerusakan secara langsung pada tanaman ataupun bangunan, tetapi perilaku parasitnya dapat mengganggu spesies burung inang karena mengurangi keberhasilan reproduksi mereka.
Wilayah Persebaran yang Luas
Cacomantis merulinus memiliki wilayah persebaran yang sangat luas, mencakup berbagai ekosistem di Asia Tenggara hingga Asia Selatan.
Di Indonesia, burung ini merupakan penghuni tetap yang tersebar luas di pulau-pulau besar. Populasinya dapat ditemukan mulai dari ujung barat di Sumatera, merambah ke Kalimantan, wilayah padat penduduk di Jawa dan Bali, hingga bagian tengah di Sulawesi.
Di luar Indonesia, sirit uncuing memiliki jejak habitat yang membentang dari daratan utama Asia hingga kepulauan Pasifik. Di Asia Tenggara meliputi Semenanjung Malaya, Filipina, Tailan, Vietnam, Laos, Kamboja, dan Myanmar. Serta, di Asia Timur dan Selatan meliputi wilayah selatan Cina, Banglades, hingga ke daratan India.
Karena persebaran yang luas, sirit uncuing kerap dianggap sebagai burung yang sangat adaptif terhadap berbagai kondisi lingkungan, baik di hutan sekunder maupun area perkebunan manusia.
Si Kecil Berwarna Keabuan
Mengutip laman Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat, sirit uncuing memiliki ukuran tubuh kecil hingga sedang, dengan panjang sekitar 21 sentimeter.
Pada fase dewasa, burung ini memiliki kombinasi warna abu-abu di bagian kepala, cokelat keabu-abuan pada area punggung hingga ekor, serta warna merah karat yang dominan di sisi bawah tubuh.
Sebaliknya, burung muda tampil dengan punggung coklat terang dan tubuh bawah keputihan yang dihiasi pola garis hitam lebar. Ciri fisiknya dilengkapi dengan iris coklat, lingkar mata kuning, serta paruh hitam.
Spesies ini sangat mudah dikenali melalui kicauannya yang nyaring dan khas, khususnya ketika memasuki masa kawin.
Jadi, apa pendapatmu tentang burung yang unik ini, Kawan Satwa?














