Edukasi

Mudskipper yang Tidak 'Mud' Lagi: Ironi Penjualan Ikan Glodok di Kalangan Penghobi Ikan Hias

24/06/2026|Haifa Nur Raidah
Ikan gelodok dengan karakteristiknya yang unik Foto commons wikimedia - Mudskipper yang Tidak Mud Lagi Ironi Penjualan I...

Ikan gelodok dengan karakteristiknya yang unik. | Foto: commons wikimedia

Gardaanimalia.com - Siapa yang tidak kenal mudskipper (Periophthalmus sp)? Ikan ini termasuk dalam famili Oxudercidae dengan subfamili Oxudercinae, sejenis ikan gobi. Di beberapa daerah disebut juga sebagai ikan glodok, tembakul, lunjat, atau belacak. Ikan ini memiliki ciri fisik dan pola hidup yang sangat unik. 

Saking uniknya, ia kerap dijuluki sebagai ikan yang "menentang logika" dunia perikanan. Ikan glodok merupakan spesies amfibi yang menyukai wilayah perairan dengan tingkat kadar garam rendah dan kaya akan invertebrata bentik seperti daratan berlumpur, hutan mangrove, rawa-rawa air payau, daerah pasang surut, hingga muara sungai 1

Ekosistem semi terestrial menyediakan variasi makanan yang berlimpah dan sesuai dengan kebutuhan nutrisi ikan glodok yang bersifat opportunistic feeder, yaitu pemakan segala sumber daya yang ada di lingkungan mereka. Meski begitu, ikan glodok cenderung menjadikan crustacea sebagai makanan utama, zooplankton, fitoplankton, dan polychaeta sebagai makanan pelengkap serta hexapoda sebagai makanan tambahan 2

Tercatat ada 24 spesies ikan glodok yang teridentifikasi mendiami perairan Indonesia. Keberadaan mereka tersebar luas di wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua. Angka tersebut membuktikan bahwa Indonesia menjadi rumah bagi sebagian besar jenis ikan glodok, dengan total hampir tiga perempat spesies dunia ada di perairan tanah air. 

Mengenal Ciri Ikan Glodok

Ikan glodok memiliki adaptasi fisik yang unik, seperti sepasang sirip dada yang berfungsi layaknya kruk dengan memberikan dorongan ke permukaan tanah untuk mengangkat massa tubuh dan melangkah maju 3. Adaptasi ini membantu mereka bergerak leluasa di darat seolah sedang berjalan ngesot atau melompat di atas lumpur. 

Kebutuhan mereka dalam menghabiskan waktu di darat, didukung oleh struktur tulang dan otot khas berupa dua sendi engsel yaitu sendi bahu dan sendi sirip yang terbentuk karena ikan glodok memiliki tulang radial yang memanjang dan menonjol ke luar tubuhnya. Sebagian besar ikan glodok juga memiliki otot sirip dada yang terbagi menjadi dua bagian, di atas dan di bawah sehingga memungkinkan sirip mereka untuk bergerak lebih fleksibel dan kuat ketika di daratan. 

Selain itu, ikan ini memiliki bentuk mata yang unik. Kedua matanya menonjol di atas kepala, sehingga memungkinkan mereka untuk memandang dengan lebih luas. Menariknya, mata ikan glodok juga dapat berkedip serta dinaik-turunkan sesuai kebutuhan. Jika biasanya ikan yang berkedip sering diasosiasikan sebagai ikan siluman atau ikan jadi-jadian, lain halnya dengan ikan glodok. Matanya yang berkedip ketika berada di darat, merupakan bentuk dari evolusi konvergen sebagai solusi atas tantangan di lingkungannya 4

Uniknya, ikan glodok tidak benar-benar berkedip, melainkan menarik mata mereka ke dalam rongga mata yang nantinya akan tertutup oleh membran kulit yang disebut dermal cup. Inilah yang menyebabkan seolah-olah ikan glodok terlihat sedang berkedip. 

Fungsinya untuk membasahi mata yang mengalami dehidrasi akibat lingkungan kering serta membersihkan kotoran dari kornea mata mereka. Sebagai ikan amfibi, sistem pernapasan ikan glodok juga ikut berevolusi untuk bernapas di dua alam. Berbeda dengan ikan lainnya ketika berada di darat, ikan glodok mengandalkan pernapasan kulit (cutaneous respiration5

Kulit bagian kepala mereka, memiliki jaringan pembuluh darah kapiler yang sangat padat untuk menyerap oksigen secara langsung melalui udara.

Agar kulit mereka tidak kering dan dehidrasi akibat udara pantai yang panas menyengat, ikan glodok memiliki kebiasaan melumuri tubuhnya dengan lumpur basah agar dapat bertahan lebih lama di daratan. Tubuh ikan glodok juga dapat mengeluarkan lendir (mucus) sebagai lapisan pelindung untuk meminimalkan menguapnya air dari jaringan kulit. 

Tak hanya mengandalkan penyerapan oksigen melalui kulit, ikan glodok juga mengalami modifikasi pembuluh darah respirasi insang serta bagian rongga mulut dan insang agar lebih fungsional untuk bernapas di udara. 

Menariknya, sebelum naik ke daratan atau masuk ke lubang sarang yang minim oksigen, ikan glodok akan mengunci pasokan air dan gelembung udara di dalam rongga insang yang tebal. Cadangan udara inilah yang menjaga mereka tetap dapat bergerak dengan leluasa di daratan.   

Incaran Penghobi Ikan Hias

Segala keunikan yang dimiliki ikan glodok, justru menjadi daya tarik tersendiri bagi para penghobi ikan hias. 

Belakangan ini, ikan glodok tidak hanya ditangkap untuk dinikmati kelezatan dagingnya, namun juga mulai dilirik sebagai komoditas industri ikan hias. Penjualan ikan glodok dengan embel-embel “ikan hias air tawar”, mulai merambah ke berbagai platform jual beli online

Iming-iming keunikan fisik dan perawatan mudah, seolah menjadi sajian hangat yang harus segera dibungkus oleh para penghobi untuk menambah koleksi mereka.  

Uploaded content
Tangkapan layar jual beli ikan glodok di forum daring. | Foto: istimewa

Namun, di sinilah ironi itu dimulai. Demi memuaskan rasa penasaran dan estetika manusia, ikan glodok yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di atas daratan berlumpur, kini dipaksa hidup di dalam akuarium kaca dengan substrat pasir dangkal yang dipenuhi air tawar. Tak jarang, mereka juga hanya ditampung dalam boks kontainer kosong tanpa substrat, yang hanya dihiasi beberapa bongkah batu dan kayu alakadarnya. 

Banyak penjual nakal yang mengelabui pembeli dengan label "ikan hias air tawar" agar dagangannya terdengar mudah untuk dipelihara. Di sisi lain, pembeli pun kerap abai dan enggan mencari informasi lebih lanjut mengenai kebutuhan biologis satwa yang akan mereka beli. Akibatnya, alih-alih menjadi peliharaan yang lestari, banyak ikan glodok yang stres dan mati dalam waktu singkat di dalam akuarium. 

Ketika Mudskipper Sudah Tidak 'Mud' Lagi 

Kata 'mud' (bahasa gaul dari mood) sering ditujukan untuk menggambarkan optimistik, situasi yang baik, atau situasi yang menyenangkan. Namun, hal ini tidak ditemukan pada mudskipper. Kata 'mud' dalam kehidupan satu mudskipper direnggut oleh keegoisan manusia, keunikan yang mereka miliki tidak lagi berfungsi sebagai alat untuk bertahan hidup. 

Pada akhirnya, adaptasi fisik yang luar biasa itu hanya berakhir sebagai pajangan singkat demi memanjakan mata manusia secara sia-sia.

Lumpur dalam kehidupan ikan glodok bukan hanya sekadar pelengkap, melainkan berperan vital bagi kelangsungan hidup mereka. Ikan glodok memerlukan lumpur untuk membasahi tubuhnya agar kulit mereka tetap lembab, sehingga oksigen dapat diserap dengan baik oleh jaringan kapiler di kepalanya. 

Jika tidak ada ritual "masker lumpur" untuk menjaga hidrasi ini, kulit mereka akan cepat mengering. Dampaknya bisa sangat fatal, mulai dari dehidrasi hingga kegagalan pada sistem pernapasan.

Sebagai hewan penghuni lubang, ikan glodok juga memanfaatkan karakteristik tanah yang kaya akan lempung pada lumpur untuk membangun lubang sarang yang kokoh. Sarang ini memiliki banyak fungsi penting bagi insting alami mereka, seperti menjadi tempat untuk bersembunyi dari predator, tempat menyimpan cadangan udara ketika air pasang, serta tempat untuk bereproduksi dan membesarkan telur-telur mereka. 

Ironinya, oleh sebagian penjual dan penghobi ikan hias, lumpur ini sering kali digantikan oleh substrat lain seperti pasir dangkal dengan alasan estetika dan efektifitas. Disisi lain, pasir memiliki karakteristik yang gembur. Membangun sarang di atas substrat gembur hanya akan menjadi proyek sia-sia nagi ikan glodok.

Tanpa adanya lumpur, ikan glodok tidak hanya kehilangan kemampuan alami untuk menggali, tetapi juga kehilangan tempat berlindung yang sangat mereka butuhkan.     



1 Arumugam Kumaraguru, Rosette Celsiya Mary, dan Vijayaraghavalu Saisaraswathi, "A Review about Fish Walking on Land," Journal of Threatened Taxa 12, no. 17 (2020): 17276–17286, https://doi.org/10.11609/jott.6243.12.17.17276-17286.
2 Lidyana Maya Gosal dkk., "Kebiasaan Makanan Ikan Gelodok (Periophthalmus sp.) di Kawasan Mangrove Pantai Meras, Kecamatan Bunaken, Kota Manado, Sulawesi Utara," Jurnal Bios Logos 3, no. 2 (2013): 46.
3 C. M. Pace dan A. C. Gibb, "Mudskipper Pectoral Fin Kinematics in Aquatic and Terrestrial Environments," Journal of Experimental Biology 212, no. 14 (2009)
4 Brett R. Aiello, M. Saad Bhamla, Jeff Gau, dkk., "The Origin of Blinking in Both Mudskippers and Tetrapods Is Linked to Life on Land," Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America 120, no. 18 (2023)
5 Arumugam Kumaraguru, Rosette Celsiya Mary, dan Vijayaraghavalu Saisaraswathi, "A Review about Fish Walking on Land," Journal of Threatened Taxa 12, no. 17 (2020): 17276–17286, https://doi.org/10.11609/jott.6243.12.17.17276-17286.