Berita

Nelayan Jadi Garda Depan Penyelamatan Burung Laut di Aceh

15/07/2026|Mardili
Pengamatan burung laut yang dilakukan kelompok masyarakat bersama nelayan Foto Istimewa - Nelayan Jadi Garda Depan Penyel...

Pengamatan burung laut yang dilakukan kelompok masyarakat bersama nelayan. | Foto: Istimewa

Gardaanimalia.com - Peringatan Hari Burung Laut Sedunia 2026 menjadi momentum untuk menegaskan pentingnya peran nelayan dalam mendukung upaya konservasi burung laut di Aceh. Melalui pendekatan citizen science, nelayan di berbagai wilayah pesisir dilibatkan untuk melaporkan, menyelamatkan, hingga melepaskan kembali burung laut yang terjerat alat tangkap.

Ketua Kelompok Studi Lingkungan Hidup Aceh, Heri Tarmizi, mengatakan nelayan merupakan pihak yang paling sering berinteraksi dengan burung laut saat melaut. Karena itu, mereka memiliki peran strategis dalam mendukung pemantauan dan penyelamatan satwa tersebut.

"Para nelayan kami ajak untuk melaporkan setiap burung laut yang terjerat jaring. Kami juga memberikan pengetahuan mengenai cara merawat dan melepaskan burung laut yang terjerat agar dapat kembali ke habitatnya dengan aman," kata Heri, Selasa (14/7/2026).

Menurut Heri, bagi sebagian nelayan, keberadaan burung laut juga menjadi penanda lokasi gerombolan ikan sekaligus indikator kondisi tambak udang. Pengetahuan lokal tersebut kemudian dipadukan dengan pendampingan dari peneliti sehingga mampu memperkuat upaya konservasi.

"Kolaborasi antara peneliti dan masyarakat menjadi fondasi penting bagi pemantauan jangka panjang sekaligus memperkuat upaya konservasi burung laut di pesisir Aceh," ujarnya.

Ia menjelaskan, setiap laporan dari nelayan mengenai perjumpaan dengan burung laut menjadi data penting yang membantu peneliti melengkapi informasi mengenai jumlah, sebaran, dan kondisi burung laut di perairan Aceh.

Uploaded content
Pelibatan nelayan menjadi solusi atas terbatasnya data mengenai burung laut di Indonesia. | Foto: Istimewa

Secara nasional, Indonesia merupakan salah satu kawasan penting bagi burung laut di jalur migrasi Asia - Australia. Dengan lebih dari 74 persen wilayahnya berupa laut dan memiliki 17.380 pulau, perairan Indonesia menjadi lokasi mencari makan, beristirahat, hingga berkembang biak bagi berbagai spesies burung laut.

Berdasarkan data aplikasi eBird periode 1900–2025, sedikitnya 75 jenis burung laut tercatat memanfaatkan perairan Indonesia. Namun, berbagai spesies masih menghadapi ancaman berupa hilangnya habitat, pencemaran laut, tangkapan sampingan perikanan (bycatch), gangguan di lokasi berkembang biak, hingga dampak perubahan iklim.

Koordinator Burung Laut Indonesia, Fransisca Noni Tirtaningtyas, mengatakan keterlibatan masyarakat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi keterbatasan data burung laut di Indonesia.

Menurutnya, sejak 2020 kegiatan pemantauan burung laut terus berkembang dan melibatkan semakin banyak pengamat dari berbagai daerah. Perkembangan tersebut didorong oleh penyebaran informasi melalui media sosial dan pendampingan kepada masyarakat, sehingga minat untuk terlibat dalam pengamatan burung laut terus meningkat.

Noni menambahkan, pendampingan tetap diperlukan karena banyak spesies burung laut memiliki ciri fisik yang hampir serupa sehingga membutuhkan pengalaman untuk dapat diidentifikasi secara akurat.

Peringatan Hari Burung Laut Sedunia 2026 di Indonesia turut diisi seminar bertajuk "Melindungi Burung Laut Indonesia: Langkah Lokal untuk Dunia" yang diselenggarakan Kelompok Studi Hidupan Liar Comata Universitas Indonesia bekerja sama dengan Burung Laut Indonesia.

Seminar tersebut menjadi ajang berbagi pengalaman konservasi burung laut dari berbagai daerah, termasuk Aceh, yang menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat pesisir menjadi salah satu kunci menjaga kelestarian satwa laut tersebut.