Mendalam

Rangkong di Lampung, Petani Hutan dan Simbol Budaya yang Terancam Perburuan

06/04/2026|Meza Swastika
Burung rangkong yang dijumpai di Hutan Kawasan Register 39 Kotaagung Utara Foto Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indone...

Burung rangkong yang dijumpai di Hutan Kawasan Register 39 Kotaagung Utara. | Foto: Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI)

Gardaanimalia.com - Bukan hanya di Kalimantan, burung rangkong atau enggang yang menjadi simbol penting bagi kebudayaan masyarakat Dayak, ternyata juga masih lestari di hutan-hutan Lampung.

Rangkong, bukan hanya memegang peran ekosistem penting buat tutupan hutan tetapi juga menjadi bagian kearifan dari kebudayaan masyarakat Lampung itu sendiri.

Upaya penggagalan penyelundupan paruh burung rangkong gading yang dilakukan oleh petugas Bea dan Cukai Batam beberapa waktu lalu, mengungkap keberadaan spesies burung rangkong di berbagai daerah kawasan hutan di Lampung. Spesiesnya diketahui masih banyak, tetapi terus berada dalam ancaman para pemburu dan avikultur.

Sebelumnya, diinformasikan bahwa barang yang diselundupkan tersebut dikirim melalui Perusahaan Jasa Titipan J&T Express dari Bandar Lampung tujuan Tanjung Pinang melalui Batam. 

Setahun lalu, petugas dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Batutegi, mengidentifikasi habitat rangkong yang masih amat banyak ditemukan keberadaannya di dua hutan kawasan Register 39 Kotaagung Utara dan Register 22 Way Waya.

Diketahui ada dua spesies rangkong yang masih menjadikan dua hutan kawasan ini sebagai habitat alami mereka; rangkong gading (Rhinoplax vigil) dan rangkong badak (Buceros rhinoceros).

Spesies rangkong ini memiliki ciri khas casque yang besar dan melengkung seperti tanduk atau cula badak dengan warna oranye atau merah di bagian depan paruhnya.

Tiap hari, suara parau puluhan burung rangkong ini memenuhi area hutan kawasan, terbang berkelompok, sesekali hinggap di cabang-cabang pohon, kemudian menghilang di rimbunnya hutan. 

Rangkong di Hutan Lampung

Rangkong badak memiliki ukuran tubuh yang besar dan sering terlihat terbang di atas kanopi tutupan hutan di dua register itu, jumlahnya diketahui masih amat banyak, ini diketahui melalui koloni-koloninya. Selain itu, beberapa jenis rangkong lainnya juga sesekali terlihat.

Salah satu cara mengidentifikasi keberadaan rangkong adalah suaranya yang khas dan amat keras.

Rangkong gading memiliki casque solid yang lebih besar dan lebih tebal dibandingkan rangkong badak, dengan warna emas atau gading. Hal ini pulalah yang kemudian menarik perhatian pemburu gelap hingga avikultur untuk koleksi satwa peliharaan mereka.

Meski habitatnya diketahui masih banyak di dua hutan kawasan ini, tetapi rangkong gading saat ini sudah lebih jarang terlihat karena habitatnya semakin berkurang akibat deforestasi dan perburuan.

Hutan kawasan yang berada di area Batutegi, Lampung menjadi salah satu habitat penting bagi kelestarian rangkong gading di Indonesia, utamanya di hutan Lampung. 

Persebaran Rangkong di Hutan Lampung

Sebagai burung pemakan buah (frugivorous) dari famili Bucerotidae, persebaran rangkong di hutan-hutan yang ada di Lampung, diketahui tak hanya ditemukan di dua kawasan itu saja.

Di tiga hutan kawasan lainnya, yakni Register 19 Taman Hutan Raya (Tahura) Wan Abdul Rahman di Kabupaten Pesawaran dan hutan Register 3 Gunung Rajabasa di Kabupaten Lampung Selatan, hingga di Taman Nasional Way Kambas, spesies ini juga diketahui masih banyak.

Bahkan, spesiesnya amat beragam, selain rangkong badak dan rangkong gading, ada pula rangkong jambul (Aceros comatus), julang dompet atau julang jambul hitam (Aceros corrugatus), julang emas (Aceros undulatus), enggang papan (Buceros bicornis), enggang klihingan (Anorrhinus galeritus), kangkareng perut putih (Anthracoceros albirostris), dan kangkareng hitam (Anthracoceros malayanus).

Hamid (60) petani lada, warga Air Naningan, Kabupaten Tanggamus mengenang, dulu ketika ia masih remaja, burung-burung rangkong selalu mudah ia jumpai di hutan kawasan yang bersisian dengan kebunnya.

Sekarang, pemandangan berpuluh-puluh rangkong yang biasa ia jumpai terbang di sekitar kebunnya ketika remaja, hanya jadi cerita masa lalu ke cucu-cucunya saja.

“Dulu, kalau liat rangkong di dekat kebun itu tenang rasanya, karena itu berarti hutan masih subur, air masih banyak,” kenang Hamid ketika ditemui awal Maret 2026 lalu.

Selain itu, burung-burung ini juga menjadi penanda waktu untuk menghentikan aktivitas di kebun bagi masyarakat.

“Kita berkebun nggak pakai jam tangan. Ukuran waktunya cuma matahari dan suara burung rangkong saja. Kalau sudah tidak ada lagi suara rangkong itu berarti sudah mau magrib,” tuturnya lagi. 

Perburuan Rangkong di Lampung

Uploaded content
Penyelundupan paruh rangkong dan taring beruang asal Lampung yang berhasil digagalkan Bea Cukai Batam pada 24 Oktober 2025 lalu. | Foto: Bea Cukai Batam

Di daerah endemis utamanya, Kalimantan, burung rangkong yang menjadi satwa yang bersentuhan langsung dengan kebudayaan masyarakat Dayak, kondisinya kini semakin langka dan terancam punah, setelah diburu habis-habisan.

Setelah populasinya semakin menurun, pemburu kemudian mengincar eksistensi rangkong di hutan-hutan Lampung.

Indikasi maraknya perburuan rangkong gading dan rangkong badak yang mulai menyasar sejumlah hutan kawasan di Lampung terungkap setelah jaringan sindikat penjual paruh rangkong gading yang berhasil digagalkan petugas Bea dan Cukai Batam pada akhir Oktober 2025 lalu.

Perburuan burung rangkong gading ini terbilang sadis, karena umumnya pemburu hanya mengambil cula maupun paruh dari burung rangkong untuk dijual ke Cina seharga Rp40 juta per buahnya.

Dari keterangan pelaku kepada petugas Bea dan Cukai pula, jaringan ini sudah terbentuk sedemikian lama di Lampung dan beberapa daerah lain yang menjadi wilayah endemik rangkong di Pulau Sumatera, seperti Jambi dan Riau.

Di tiap-tiap daerah yang menjadi jaringan sindikat ini, sudah disiapkan secara khusus lokasi pengumpulan paruh untuk didistribusikan ke Batam dan selanjutnya diselundupkan ke Cina.

Meski tak dijelaskan secara spesifik lokasi penampungan paruh burung rangkong ini di Lampung, tetapi aktivitas perburuan burung rangkong di Lampung sudah berlangsung selama beberapa tahun terakhir, terhitung sejak makin punahnya spesies burung rangkong atau enggang di Pulau Kalimantan. 

Antara Rangkong, Pemburu, dan Avikultur

Kondisi makin kompleks mana kala burung-burung ini tak hanya diburu untuk diambil paruh dan culanya, tapi juga menjadi incaran para kolektor burung berukuran besar ini.

Februari 2026 lalu, puluhan burung rangkong yang diduga milik salah satu hotel di kawasan pesisir Teluk Lampung diketahui bermigrasi ke permukiman warga yang jaraknya lebih dari 10 kilometer dari lokasi taman hotel. Kondisinya yang relatif jinak cepat menyita perhatian warga sekitar yang berebut memberi makan burung-burung ini.

Fakta lain juga menunjukkan kondisi burung-burung ini amat memprihatinkan karena tak dirawat hingga kekurangan makanan.

Beberapa warga di sana mengakui, burung-burung ini memang kerap terbang melintasi kawasan pesisir dan menuju ke permukiman warga yang terbilang padat, untuk mencari makan.

“Kita sudah biasa dengan burung-burung ini, karena sering terbang ke sini, cari makan, dikasih makan apa aja mau. Di kasih nasi juga mau makan,” tutur seorang warga di Telukbetung Barat, Bandar Lampung, yang daerahnya kerap disinggahi burung-burung ini, awal Maret 2026.

Kami berupaya menemui pengelola Hotel JW Marriot di kawasan Pantai Mutun, Kabupaten Pesawaran untuk bertanya lebih jauh tentang keberadaan burung-burung dilindungi ini, tetapi tak kunjung mendapat penjelasan secara resmi.

Selain hotel, beberapa warga di Bandar Lampung juga diketahui memiliki burung rangkong. Hal ini terungkap ketika setahun lalu, sepasang burung rangkong gading lepas ke kawasan perkotaan. Namun, hingga kini belum diketahui siapa pemiliknya.  

Eksistensi Rangkong pada Kebanyakan Masyarakat Lampung

Uploaded content
Balo-balo, makhluk mitologi berwujud manusia berkepala rangkong. | Foto: IG/Adat_Lampung

Sebenarnya, eksistensi burung rangkong pada masyarakat dan kebudayaan Lampung sudah berlangsung lumayan lama dan mendapat tempat yang istimewa.

Oleh masyarakat Lampung, burung ini bahkan memiliki nama sendiri; burung Kuk Sengang, ada pula nama lainnya; Sang Gekhak.

Bagi masyarakat adat Lampung, status penghormatan terhadap keberadaan burung ini hampir sejajar dengan gajah maupun harimau.

Oleh masyarakat adat Lampung, burung rangkong juga direpresentasikan sebagai makhluk mitologi. Wujudnya, manusia berkepala burung rangkong dengan paruh yang melengkung panjang bahkan melebihi tubuhnya.

Patung manusia berkepala rangkong yang oleh masyarakat disebut dengan balo-balo yang kerap kali dijumpai di rumah-rumah adat milik tetua adat maupun balai-balai adat.

Fungsi Balo-balo seperti patung Dwarapala dalam tradisi Hindu-Budha yang menjadi pelindung atau sesuai dengan namanya pada bahasa Sansekerta sebagai Penjaga (Dvara) Pintu (Pala).

Seperti halnya patung Dwarapala yang digambarkan sebagai sosok manusia raksasa bertubuh gambot dengan wajah menyeramkan menggenggam gada, balo-balo pada Rumah Sesat masyarakat Lampung direpresentasikan dalam wujud tubuh manusia berkepala rangkong yang juga memegang senjata, berbentuk tombak. Fungsinya sebagai penjaga rumah, dan hanya boleh ditempatkan ditempatkan di tempat tinggal Penyimbang atau tetua adat dan balai adat saja.  

Uploaded content
Balo-balo di salah satu rumah adat Lampung. Foto: IG/Adat_Lampung

Balo-balo biasanya ditempatkan di kedua sisi Ijan Geladak atau tangga menuju ke anjung-anjung Nuwou Balak.

Balo-balo sampai kini masih lestari. Salah satunya di Nuwo Balak Kedatun Keagungan milik Mawardi Harirama gelar Suttan Pengiran Pesirah Mergo di Kotasepang, Way Halim, Bandar Lampung. 

Uploaded content
Keris Lampung (Tekhapang) berhulu ukiran burung rangkong milik salah satu tetua adat. | Foto: IG/Adat_Lampung

Wujud lain penghormatan terhadap burung ini juga dilakukan oleh masyarakat adat Lampung dengan mengukir gambar burung ini pada gagang keris Lampung atau Hulu.

Tak semua masyarakat adat bisa memiliki keris (Tekhapang) dengan hulu berukir rangkong. Hanya kelompok bangsawan saja yang bisa memiliki keris berhulu ukiran rangkong ini, karena ia erat kaitannya dengan kewibawaan, status sosial hingga pelindung spiritual.

Namun, seiring kebutuhan dan perubahan zaman, perburuan masih menjadi ancaman nyata bagi eksistensi rangkong, baik untuk menjadikan paruhnya sebagai koleksi maupun pemenuhan hasrat status sosial.

Jika masyarakat tak lagi punya kecenderungan untuk melindungi dan menjaganya, rangkong tidak lenyap dalam hutan-hutan Lampung, tetapi juga hilang dalam ingatan budaya.