Gardaanimalia.com - Senin, 20 Oktober 2025, pukul 11.00 WIB, kami bertolak dari Pasir Belo, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam. Mesin boat meraung, membelah Sungai Lae Soraya. Di kiri dan kanan, perkebunan warga masih terlihat. Namun, semakin jauh masuk, lanskap berubah.
Kebun berganti hutan yang lebih rapat, lebih teduh. Perjalanan dua jam itu perlahan membawa kami meninggalkan ruang terbuka menuju ruang yang kembali dipulihkan.
Sekitar pukul 14.00 WIB, perahu berbelok ke aliran sungai kecil. Jalurnya menyempit. Dahan-dahan rendah menggantung di atas kepala. Mesin diturunkan, suaranya melembut.
Tiba-tiba, seekor burung besar melintas rendah di depan kami. Sayapnya lebar. Kepakannya tenang, tetapi kuat.
“Itu burung hantu,” celetuk pengemudi yang sejak tadi menakhodai kapal membelah Sungai Lae Soraya.
Stasiun Penelitian Soraya
Beberapa menit kemudian, tepat pukul 14.09 WIB, perahu merapat di dermaga. Di seberang sungai berdiri Stasiun Penelitian Soraya, sekitar 300 meter dari tepian Sungai Alas—yang di wilayah ini dikenal sebagai Lae Soraya.
Bangunan sederhana itu menjadi pusat aktivitas penelitian satwa liar di bentang hutan Soraya. Dari sana para peneliti keluar-masuk hutan, memeriksa camera trap, mencatat jejak, dan menyusun data keanekaragaman hayati.
Burung yang tadi melintas sudah lebih dulu tiba. Ia bertengger di ranting tak jauh dari dermaga. Diam dan mengawasi.
Dalam bahasa Indonesia ia dikenal sebagai beluk ketupa. Nama ilmiahnya Ketupa ketupu, burung hantu besar penghuni hutan dataran rendah di sekitar sungai dan rawa.
Burung hantu umumnya adalah satwa nokturnal, aktif berburu di malam hari dan beristirahat saat siang. Namun, individu satu ini berbeda. Ia aktif di bawah matahari. Namanya Jek, seperti biasa dipanggil Anhar.
Di Stasiun Penelitian Soraya, ia juga dikenal sebagai Burhan, singkatan dari burung hantu.
Restorasi Soraya
Tak jauh dari stasiun penelitian, di lokasi berbeda dalam bentang alam yang masih sama, terdapat Restorasi Soraya.
Kawasan ini dulunya merupakan bekas perkebunan warga. Sebelum itu, bentang alam Soraya pernah mengalami kerusakan serius.
Pada 2017, tercatat sekitar 2.778 hektare hutan di dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) rusak akibat perambahan dan penanaman sawit di wilayah hutan lindung.
Restorasi Soraya bermula sebagai respons atas kerusakan itu.
Lahan-lahan yang telah berubah fungsi kemudian diganti rugi dan dipulihkan melalui inisiatif konservasi oleh Forum Konservasi Leuser (FKL).
Pohon-pohon ditanam kembali, penjagaan dilakukan. Prosesnya tidak instan, membutuhkan waktu, kesabaran, dan konsistensi. Di ruang yang pernah terbuka itulah kehidupan perlahan kembali.
Dan Jek menjadi salah satu tandanya.
Burung Hantu yang Memilih Soraya
Anhar, Kepala Pos Restorasi Lae Soraya Subulussalam, adalah orang pertama yang berjumpa dengan Jek pada 2024.
“Dia datang sendiri. Malam Jumat, berdiri di pamflet restorasi,” kenang Anhar.
Saat itu Jek masih remaja dan dalam kondisi sehat. Seolah memilih sendiri tempat yang ingin ia tinggali. Nama Jek, kata Anhar, hanya nama candaan.
“Biasa kami panggil lucu-lucu, Jack… Jack…” memperagakan cara memanggilnya.
Beberapa minggu setelah kedatangannya, Jek terlibat pertarungan dengan seekor elang hampir dua jam lamanya. Elang itu kalah dan sempat dirawat sekitar satu minggu, tetapi luka di pahanya memburuk hingga akhirnya tak terselamatkan.
Sejak peristiwa itu, Jek semakin sering terlihat di kawasan Soraya.
Menurut Anhar, ia tidak menetap di satu titik saja. Ia kerap bolak-balik antara Restorasi Soraya dan Stasiun Penelitian Soraya.
“Kadang satu minggu dia nginap di restorasi, nanti pindah lagi satu minggu di stasiun penelitian,” jelas Anhar. Seolah ia memiliki dua rumah dalam satu hutan yang sama.
Ia ikut ketika tim mencari sinyal pada malam hari. Kadang terbang mengikuti kapal dalam gelap. Jika dua hari tak terlihat, para petugas merasa kehilangan.
“Sudah jadi kawan,” kata Anhar.
Dulu, setiap kali mereka memancing, selalu ada bagian ikan untuknya. Kini, memasuki tahun ketiga sejak kemunculannya, Jek lebih sering berburu sendiri. Tikus di area restorasi hampir tak terlihat lagi.
Kukunya tajam, tidak sembarang orang bisa memegangnya. Ia tidak mengganggu makanan manusia, tetapi suara musik keras membuatnya terusik.
“Kalau dengar musik, kadang menyerang kepala. Mungkin dia tidak suka,” ucap Anhar menjelaskan.
Sudah empat tahun Anhar bertugas di kawasan itu. Hingga kini, ia belum pernah menemukan sarang Jek.
Ancaman diburu atau ditembak, sejauh ini, tidak ada. Hutan Soraya masih cukup aman baginya. Namun, pernah ada yang datang meminta izin untuk membawanya ke kampung.
Ia penjaga malam dari Lae Soraya yang memilih tinggal, dan membiarkan hutan tetap menjadi rumahnya.















