Populasi Bekantan Meningkat di Bumi Lambung Mangkurat

  • Share
Ilustrasi kawanan bekantan (Nasalis larvatus) di kawasan Stasiun Riset Bekantan, Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Rabu (14/10/2020). | Foto: Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia
Ilustrasi kawanan Nasalis larvatus di kawasan Stasiun Riset Bekantan, Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Rabu (14/10/2020). | Foto: Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia

Gardaanimalia.com – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan melaporkan peningkatan jumlah satwa jenis bekantan di Bumi Lambung Mangkurat.

Populasi bekantan (Nasalis larvatus) yang merupakan fauna endemik Pulau Kalimantan tersebut dikabarkan meningkat sebanyak sekitar 1.000 ekor.

Peningkatan populasi, yaitu dari yang mulanya berjumlah sekitar 3.000 ekor pada tahun 2019 menjadi 4.000 ekor pada tahun 2022.

“Ini tentunya menjadi kabar gembira di tengah upaya kita semua yang peduli dengan konservasi bekantan,” ungkap Mahrus Aryadi selaku Kepala BKSDA Kalimantan Selatan pada Jumat (8/7) dilansir dari Republika.

Menurut daftar merah The International Union for Conservation of Nature (IUCN), Nasalis larvatus masuk dalam kategori Endangered atau terancam punah sejak tahun 2000.

Tak sebatas itu, satwa dilindungi itu juga memiliki status konservasi Apendiks I berdasarkan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES).

Kategori Apendiks I artinya, primata endemik Kalimantan tersebut termasuk dalam daftar spesies satwa liar yang dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional.

Mahrus Aryadi menyebut, bekantan masuk 25 satwa prioritas di Indonesia yang wajib dilindungi sehingga menjaga populasinya menjadi tugas bersama antara pemerintah dan masyarakat.

Salah satu fokus perhatian BKSDA adalah memastikan habitat dan pakannya tetap tersedia agar monyet ekor panjang tersebut bisa selalu hidup di tempat yang memang seharusnya berada.

“Upayanya dengan memperbanyak pakannya yaitu mangrove rambai, kemudian memperluas lokasi koridor perjalanannya, yaitu tersebar di hutan bakau, rawa, dan hutan pantai,” paparnya.

Selain itu, ujarnya, BKSDA juga mengembangkan Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Bakut di Kabupaten Barito Kuala yang merupakan hunian bagi satwa yang menjadi maskot Kalimantan Selatan tersebut.

BACA JUGA:
Kabar Terbaru Gajah Tanpa Kepala, Diduga Mati Karena Racun

“Dengan dibantu para pihak yang peduli pelestarian bekantan, TWA Pulau Bakut terus berbenah agar wisatawan semakin nyaman berkunjung untuk melihat bekantan,” kata Mahrus Aryadi.

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments