Berita

Selamat Jalan Indra, Gajah Latih Andalan TN Way Kambas Tutup Usia

26/06/2026|Meza Swastika
Gajah Indra saat dinyatakan mati oleh tim medis Balai TNWK Foto Dok TNWK - Selamat Jalan Indra Gajah Latih Andalan TN Way...

Gajah Indra saat dinyatakan mati oleh tim medis Balai TNWK. | Foto: Dok. TNWK

Gardaanimalia.com - Bagi tim ERU (Elephant Response Unit), kabar itu datang seperti petir di siang hari. Gajah Indra, ikon konservasi gajah di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) akhirnya kalah dari cedera panjang yang ia alami sejak lebih dari 8 tahun lalu.

Gajah jantan paling jinak ini selalu bisa diandalkan oleh kebanyakan mahout (pawang gajah), terlebih ketika ada laporan konflik gajah yang masuk ke permukiman warga.

Ia gajah paling siap diantara kebanyakan gajah terlatih lain yang dimiliki oleh Tim ERU ketika menerima laporan terjadinya konflik.

Indra adalah gajah andalan Tim ERU, tim khusus yang biasa menangani konflik antara manusia dan gajah tanpa kekerasan, sekaligus paling bisa diandalkan saat melakukan patroli rutin, sepanjang lebih dari 30 tahun kiprahnya.

Sejak masuk ke TNWK dan mulai disiapkan sebagai bagian dari Tim ERU pada 1995, Indra memang memiliki postur paling tinggi dan paling besar di antara kebanyakan gajah lainnya di TNWK. Selain itu, ia juga dikenal amat jinak kepada mahout.

Hampir sebagian besar penanganan konflik antara manusia dan gajah selalu melibatkan Indra. Tercatat beberapa kasus konflik manusia dan gajah yang pernah dibantu oleh Indra selama tiga dekade meliputi berbagai wilayah penyangga di sekitar TNWK, yakni; Kecamatan Labuhanratu, Way Jepara, Kecamatan Brajaselebah hingga Kecamatan Margatiga.

Nama Indra selalu tercatat dalam Tim ERU paling inti. Tugasnya amat berat, ia menjadi gajah yang memimpin gajah-gajah liar yang masuk permukiman untuk digiring kembali ke hutan.

Dalam berbagai patroli yang aksesnya sulit ditembus bahkan dengan berjalan kaki sekalipun, Indra selalu tampil di depan, berbagai medan hutan yang sulit di TNWK berhasil ia tembus.

Eksistensi Indra sebagai gajah jinak pula efektif untuk mempengaruhi perilaku kawanan gajah liar baik yang hendak masuk ke permukiman maupun perkebunan warga, sehingga resiko cedera bagi manusia maupun gajah bisa ditekan seminimal mungkin.

Indra telah terbiasa menghadapi gajah-gajah liar yang paling agresif sekalipun untuk ia giring kembali ke dalam hutan.

Sebuah Kecelakaan yang Menimbulkan Cedera

Keberhasilan Indra itu pula yang membuatnya terpilih sebagai satu-satunya gajah yang secara khusus dibawa ke Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) untuk menjalani operasi penanganan konflik gajah dan manusia pada 2017.

Sepulang dari misi itulah, kendaraan pengangkut Indra mengalami kecelakaan yang membuatnya cedera pada ruas tulang belakang (suspect ruptur os vertebrae). Insiden ini pada akhirnya membuat Indra harus dipensiunkan dari tugasnya di Tim ERU.

Tim dokter hewan dan perawat satwa TNWK memberikan perawatan intensif, terapi, serta pemantauan harian untuk menjaga kualitas hidupnya. Namun, kondisi fisiknya terus menurun seiring bertambahnya usia.

Dalam rilis Balai TNWK melalui Kementerian Kehutanan menyebutkan, Minggu sore, (21/6/2026) Indra menjalani aktivitas rutin mandi di area rawa.

Saat hendak diarahkan naik kembali menuju kandang, Indra tiba-tiba ambruk di lereng rawa dan tidak mampu berdiri.

Upaya darurat segera dilakukan oleh mahout pendamping, Siswo, bersama tim rescue dengan bantuan gajah jinak lainnya.

Meskipun sempat berhasil diposisikan duduk selama beberapa menit, kondisi fisik yang sangat lemah membuat Indra kembali rebah.

Mengingat keterbatasan medan rawa dan kondisi fisik satwa yang tidak memungkinkan untuk dievakuasi ke fasilitas medis utama, tim dokter hewan langsung melakukan tindakan penyelamatan darurat secara intensif di lokasi kejadian.

Setelah berjuang keras selama lebih dari 20 jam untuk mempertahankan kondisi vitalnya, Gajah Indra akhirnya dinyatakan mati pada Senin, 22 Juni 2026 pukul 11.06 WIB.

Kenangan tentang Indra

Sebagai bagian dari standar operasional prosedur (SOP) medis dan pemenuhan akuntabilitas ilmiah, tindakan nekropsi dilakukan tiga jam setelah kematian.

Proses bedah bangkai ini dipimpin oleh drh. Diah Esty Nggraeni (PLG TNWK) dan drh. Atma (Sumatran Rhino Sanctuary), didukung lima tenaga kesehatan hewan dari Rumah Sakit Gajah TNWK.

“Gajah Indra bukan hanya satwa binaan, tetapi bagian dari sejarah panjang konservasi gajah Sumatra di Way Kambas. Dedikasinya dalam berbagai kegiatan lapangan dan penanganan konflik satwa liar telah memberikan kontribusi nyata. Kami menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya atas pengabdian Gajah Indra selama hidupnya," ujar Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK), MHD. Zaidi dalam siaran pers.

Kepergian Indra bukan hanya menyisakan kesedihan bagi Tim ERU maupun Balai TNWK, tapi juga bagi kebanyakan warga yang tinggal di daerah penyangga hutan TNWK yang merasa amat terbantu dengan kehadiran Indra dalam setiap patroli hutan.

Rico, salah satu warga di Margatiga sekaligus pengelola ekowisata di sana kenal betul dengan Indra, ia beberapa kali berinteraksi dengan gajah itu.

“Itu gajah paling jinak yang pernah saya kenal seumur hidup saya. Bahkan, ketika saya memanggil namanya, ia seperti tahu, dan langsung mengenali saya,” tutur Rico ketika dihubungi Kamis (25/6/2026) siang.

Rico menyebut Indra selalu dihadirkan dalam setiap kasus serangan gajah ke permukiman warga di sekitar TNWK.

“Sepertinya hampir semua konflik atau serangan gajah ke perkebunan atau ke permukiman warga, selalu Indra yang dihadirkan. Sebuas apapun gajah liar yang datang, Indra selalu bisa menghalaunya. Itu gajah luar biasa. Dia (Indra) itu seperti anugerah buat teman-teman di ERU.”