Edukasi

Tidak Tercantum dalam Regulasi, Babi Kutil Bawean Tetap Wajib Dilindungi

10/06/2026|Irvan Sjafari
Babi kuti bawean yang terekam kamera jebak Foto BBKSDA Jawa Timur - Tidak Tercantum dalam Regulasi Babi Kutil Bawean Teta...

Babi kuti bawean yang terekam kamera jebak. | Foto: BBKSDA Jawa Timur

Gardaanimalia.com - Pulau Bawean punya satwa endemik bernama babi kutil Bawean (Sus blouchi). Satwa ini memiliki karakter morfologi yang khas dan tidak dimiliki babi hutan biasa.

Bagian wajahnya memiliki tonjolan atau kutil yang menjadi penanda utama, sering kali disertai rambut menyerupai janggut di sekitar moncong. Tubuhnya cenderung lebih ramping dengan kaki yang relatif lebih panjang, memberikan kesan lebih lincah dibanding babi hutan biasa (Sus scrofa) yang cenderung lebih kekar dan masif. Perbedaan ini bukan sekadar estetika, tetapi mencerminkan adaptasi ekologis yang berbeda dalam memanfaatkan habitat.

Status ini menjadikannya bukan sekadar bagian dari fauna lokal, tetapi juga representasi kekayaan hayati yang unik dan tidak dimiliki wilayah lain.

Dalam konteks konservasi, endemisitas adalah alarm sekaligus tanggung jawab besar. Demikian diungkapkan Pengendali Ekosistem Hutan (PEH)  Ahli Muda Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA)  Jawa Timur Fajar Dwi Nur Aji kepada Garda Animalia, Selasa (9/6/2026).

Sayangnya, babi kutil hingga saat ini belum tercantum sebagai satwa dilindungi secara nasional. Namun, memahami satwa hanya dari status hukum adalah pendekatan yang terlalu sempit.

Spesies ini merupakan satwa endemik Pulau Bawean, artinya satu-satunya tempat ia hidup di dunia adalah di pulau tersebut. Dalam perspektif konservasi, kondisi ini justru menempatkannya pada posisi yang sangat rentan.

“Jadi, ketika satu populasi hilang, maka hilang pula spesies itu secara global. Oleh karena itu, meskipun belum dilindungi secara formal, secara ekologis dan moral, keberadaannya tetap wajib dijaga,” ujar Fajar.

Perjumpaan Manusia dan Babi Kutil Bawean Meningkat

Dalam beberapa waktu belakangan, intensitas perjumpaan dengan babi kutil bawean meningkat. Ternyata, hal ini memicu keresahan warga di sekitar Suaka Margasatwa Pulau Bawean.

Perubahan lanskap di Kumalasa telah menciptakan ruang interaksi baru. Area penampungan sampah dan lahan terbuka menjadi titik yang secara konsisten dikunjungi babi kutil bawean. Fenomena tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami dinamika ekosistem yang sedang berubah.

Uploaded content
Seekor babi kutil jawa dalam rekaman jebak sedang mengendus lantai hutan. | Foto: BBKSDA Jatim

Melalui analisis jejak dan pola aktivitas, kandang jebak ditempatkan di lokasi strategis pada 11 Mei 2026 yang lalu. Pertemuan dan diskusi secara maraton telah dilakukan Tim BBKSDA Jawa Timur dengan stakeholder terkait, sambil terus memantau perkembangan pergerakan satwa target di sekitar kandang jebak melalui kamera jebak.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini juga melibatkan Gapoktan Desa Kumalasa beserta para petani sekitar kawasan.

Pihak Desa Kumalasa sangat menyambut baik kegiatan kolaboratif ini dengan menawarkan bantuan sebagai bentuk kontribusi dukungannya, seperti penggunaan balai desa sebagai pos selama kegiatan berlangsung.

Tim juga melakukan penyesuaian kondisi kandang jebak dengan menutup atau menambahkan ranting dan dedaunan di sekeliling pagar kandang.

Tindakan ini diharapkan dapat menyamarkan bentuk kandang agar terlihat lebih alami dan mengelabui satwa target untuk masuk ke dalamnya.

Pada 8 Juni 2026 dini hari, sebanyak tujuh ekor babi kutil berhasil masuk dalam kandang jebak, meski tanpa jantan utama.

Ketujuh ekor babi tersebut merupakan koloni yang selama ini sering terpantau turun ke lokasi kandang jebak. Dengan tertangkapnya koloni babi kutil ini, tim langsung melakukan penutupan pada sekeliling sisi kandang menggunakan terpal, yang ditujukan untuk mengurangi stres pada satwa.

Tim segera membuat jadwal untuk pemberian pakan hingga minum dan penjagaan di areal transit satwa hasil penangkapan.

Omnivora Opotunistik

Nah, Fajar sebagai PEH Ahli Muda sekalingus Kepala RKW 09 Gresik Bawean, memandang bahwa kemunculan babi kutil Bawean di sekitar permukiman bukan sekadar persoalan satwa liar, melainkan sinyal bahwa keseimbangan antara ruang hidup manusia dan satwa mulai bergeser.

Perilaku ini bukanlah penyimpangan, melainkan bentuk adaptasi. Babi kutil adalah omnivora oportunistik yang sangat responsif terhadap ketersediaan pakan. Ketika di dalam hutan sumber makanan alami, seperti buah, umbi, dan organisme kecil menjadi terbatas atau kalah mudah diakses, maka kawasan permukiman, terutama tempat penampungan sampah, menjadi pilihan yang rasional.

“Mereka mencari sisa makanan, buah busuk, limbah organik, bahkan material yang masih menyimpan aroma nutrisi. Dalam sudut pandang satwa, TPS adalah “ladang energi instan” yang jauh lebih efisien dibanding menjelajah hutan,” tutur Alumni Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga ini.

Saat ini, populasi babi kutil bawean berada dalam kondisi terbatas dan sensitif. Mengacu pada rujukan global seperti IUCN Red List, spesies dengan sebaran sempit seperti ini sangat rentan terhadap tekanan.

Di Bawean sendiri, keberadaannya masih terdeteksi, tetapi menghadapi tekanan nyata berupa daya dukung habitat terbatas, konflik dengan manusia, serta potensi perburuan. Tanpa pengelolaan yang tepat, tren populasinya berisiko menurun.

Di lapangan, persepsi hama sering kali menjadi pintu masuk konflik. Ketika babi kutil memasuki kebun, respons yang muncul adalah pembasmian, melalui jerat, perburuan, bahkan racun. Tanpa disadari, tindakan ini dapat menggerus populasi secara signifikan, terlebih pada spesies dengan wilayah sebaran terbatas seperti di Bawean.

Babi Kutil Sang Penjaga Ekosistem

“Dalam konteks Bawean, babi kutil adalah bagian dari sistem kehidupan pulau yang tidak tergantikan. Menjaganya bukan sekadar kewajiban hukum, tetapi tanggung jawab menjaga keseimbangan ekosistem,” ujar pria yang banyak bekerja di lapangan, khususnya di Nusa Barung, Jawa Timur ini.

Babi kutil memainkan peran penting sebagai penggerak dinamika lantai hutan. Aktivitas mengais tanah membantu menggemburkan lapisan tanah dan mempercepat proses dekomposisi.

Mereka juga berperan sebagai penyebar biji, memastikan regenerasi vegetasi berjalan alami.

Dalam ekosistem pulau yang rapuh, peran-peran ini menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan. Pendekatan mitigasi tidak bisa berdiri pada satu sisi.

Ketika satwa mendekat ke manusia, yang perlu diperbaiki bukan hanya perilaku satwa, tetapi juga tata kelola lingkungan manusia.

Pengelolaan sampah menjadi kunci utama, karena sumber pakan dari limbah organik adalah pemicu utama kedatangan mereka.

Di sisi lain, perlindungan kebun, edukasi masyarakat, serta monitoring populasi harus berjalan beriringan.

Dalam kondisi tertentu, penanganan individu bermasalah dapat dilakukan, tetapi tetap berbasis kajian, bukan reaksi spontan. 

Babi kutil bukanlah hama yang harus dihilangkan, tetapi bagian dari sistem alam Bawean yang harus dikelola dengan bijak. Menjaga mereka berarti menjaga keseimbangan pulau itu sendiri,” pungkas Fajar.