Edukasi

Transformasi Wajah Konservasi Gajah: Tak Ada Lagi Atraksi, Kini Utamakan Kesejahteraan

30/04/2026|Dewi Puspasari
Gajah-gajah bermain dan mendinginkan tubuh pada siang hari yang gerah Foto Dewi Puspasari - Transformasi Wajah Konservasi...

Gajah-gajah bermain dan mendinginkan tubuh pada siang hari yang gerah. | Foto: Dewi Puspasari

Gardaanimalia.com - Hari itu cuaca cerah dan lumayan gerah karena sudah masuk tengah hari. Kami sudah tiba di tempat parkir kendaraan di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dan tengah menanti tibanya kendaraan keliling.

Tak lama mobil keliling tiba. Pengemudinya adalah petugas taman nasional sekaligus seorang mahout. Sambil berkeliling, ia bercerita banyak seputar gajah dan perubahan konsep di TNWK.

Dulu, taman nasional ini dikenal sebagai rumah gajah sekaligus pusat latihan dan pertunjukan kemampuan gajah. Bahkan, ada pula atraksi sepak bola gajah.

Konsep TNWK dulu adalah menunjukkan gajah sebagai satwa yang cerdas. Gajah digunakan untuk menarik wisatawan dan menghibur pengunjung.

Mendengar penjelasan mahout tersebut, saya jadi teringat pengalaman saya menyaksikan gajah yang ditunggangi para pengunjung di sebuah kebun binatang. Saya juga pernah melihat pertunjukan gajah-gajah yang melukis di negara tetangga. 

Ya, dulu nasib gajah seperti para satwa liar lainnya yang digunakan untuk menarik wisatawan bak bintang sirkus.

Kini Utamakan Kesejahteraan Satwa

Sebelumnya, berbagai program pertunjukan gajah, termasuk menunggang gajah, dianggap sebagai bagian wisata edukasi dan konservasi. Namun, seiring pergeseran cara pandang, meningkatnya kesadaran publik akan pentingnya kesejahteraan satwa, serta tekanan dari komunitas dan pegiat konservasi, maka praktik pertunjukan gajah itu pun disorot dan dikritik.

Sorotan itu bukan tanpa sebab. Hal ini karena gajah harus melewati proses latihan yang keras agar mampu melakukan atraksi. Selain itu, perilaku yang ditampilkan gajah untuk menghibur pengunjung itu sebenarnya tidaklah natural.

Kini, sudah tidak ada lagi wisata menunggang gajah, ujar petugas tersebut. Pertunjukan gajah seperti sepak bola gajah juga sudah lama ditiadakan. TNWK kini berfokus sebagai wisata edukasi dengan memperhatikan kesejahteraan satwa, imbuhnya.

Meski demikian, tetap ada proses pelatihan gajah yang penting untuk membantu mahout mengawasi habitat gajah dan membantu apabila terjadi konflik antara gajah dan manusia. Durasi pelatihan tidak lama dan dilakukan perlahan-lahan karena sifat gajah sebenarnya mudah penasaran sekaligus mudah bosan, cerita mahout tersebut.

Kini interaksi gajah dan pengunjung sangat terbatas. Pengunjung hanya dapat melihat aktivitas gajah secara alami dan memberi makan gajah dengan ditemani mahout. Waktunya juga sangat dibatasi agar gajah tidak kelelahan.

Larangan Menjadikan Gajah sebagai Tunggangan

Uploaded content
Gajah-gajah di Way Kambas setelah melakukan patroli kawasan hutan. Saat ini, hanya mahout yang diperbolehkan menunggangi gajah sebatas untuk kebutuhan patroli. | Foto: Dewi Puspasari

Sebenarnya sudah ada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDAHE) yang melarang eksploitasi terhadap satwa dilindungi. Pelanggaran akan undang-undang ini bisa dikenakan sanksi berupa hukuman penjara dan denda.

Gajah menjadi satwa liar yang dihormati dan dilindungi di TNWK. Sayangnya, di luar sana masih banyak oknum yang menjadikan gajah sebagai tunggangan wisata demi pundi-pundi.

Oleh karena itu, Surat Edaran Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Kehutanan Nomor 6 Tahun 2025 yang diterbitkan pada 18 Desember 2025 merupakan kabar baik bagi para gajah yang hidup di lembaga konservasi, termasuk kebun binatang.

Dalam surat edaran itu, jelas termuat larangan gajah digunakan sebagai tunggangan wisata. Bahkan, kontak fisik antara pengunjung dan gajah dilarang. Kontak fisik hanya diperbolehkan antara gajah dan mahout untuk patroli, perawatan medis, dan kegiatan konservasi lainnya.

Tak sedikit gajah yang mengalami masalah fisik dan mental karena dieksploitasi sebagai sosok penghibur dan bintang pertunjukan. Contohnya adalah wisata tunggang gajah di Bali dan kegiatan serupa di Kebun Binatang Surabaya

Setelah surat edaran terbit, Kemenhut melalui laporan warganet masih menemukan pelanggaran. Hal itu terjadi di PT Wisatareksa Gajah Perdana, pengelola Mason Elephant Park & Lodge, yang masih kedapatan melakukan praktik tunggang gajah.

Padahal, gajah yang bertahun-tahun menjadi tunggangan wisata bisa mengalami kelelahan kronis, luka pada kulit, dan juga cedera tulang belakang

Wakil Ketua Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), Wishnu Sukmantoromenyampaikan bahwa punggung gajah memang tidak didesain untuk menanggung beban manusia secara intens. Hal ini karena tulang belakang gajah memiliki lengkungan (spinal arch) dengan tonjolan tulang (spinous processes) yang relatif tinggi. Kemudian, otot penyangganya berfungsi untuk menopang organ internal, bukan beban eksternal. 

Selain cedera fisik, gajah juga bisa mengalami stres dan trauma. Hal ini dikarenakan pelatihan gajah agar menjadi jinak umumnya dilakukan secara keras.

Yuk, kita sayangi dan hargai keberadaan gajah sebagai satwa liar. Jangan biarkan gajah punah dan tersiksa sebagai objek atraksi wisata.

Gajah adalah penjaga alam. Dengan melindungi satwa liar, kita juga menjaga keseimbangan kehidupan dan merawat bumi ini untuk generasi masa depan.