Gardaanimalia.com - Dalam novel Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer, pembaca diajak menjumpai sosok Surati, gadis muda yang dijual ayahnya sendiri, Sastro Kassier, sebagai gundik kepada Administratur Pabrik Gula Tulangan Sidoarjo, Plikemboh (Frits Homerus Vlekkenbaaij).
Alih-alih hanya berpasrah, Surati dengan ketegarannya menghadapi sendiri ujian hidupnya dengan keluar rumah seorang diri di malam hari untuk menantang Sang Tuan Administratur. Gerombolan ajag yang berkeliaran di tengah gelap malam turut memperkuat suasana mencekam dalam kisah tersebut. Ajag digambarkan bergerak secara berkelompok, memburu mangsa, dan mampu mengancam manusia maupun ternak penduduk.
Citra serupa juga muncul dalam novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan. Melalui tokoh Shodanco, mantan perwira Seinendan didikan Jepang, ajag digambarkan sebagai satwa yang dijinakkan untuk membantu memburu babi hutan liar di daerah fiktif Halimunda.
Bahkan, dalam tradisi Adu Babi, lima hingga enam ekor ajag dihadapkan dengan seekor babi hutan dalam sebuah arena hingga hewan tersebut mati terkoyak. Bagi sebagian orang, gambaran-gambaran tersebut mungkin menjadi satu-satunya cara mengenal ajag. Dalam karya sastra Indonesia, satwa yang juga dikenal sebagai anjing hutan ini kerap hadir sebagai simbol kegelapan, ancaman, dan keganasan. Padahal, di balik citra yang dibangun dalam cerita, ajag (Cuon alpinus) merupakan predator asli yang memegang peranan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Mengenal Satwa Ajag
Menjelang malam hari, di beberapa pedesaan dan tepian hutan masih sering terdengar lolongan suara satwa pemburu yang bernama ajag atau dalam bahasa Inggris disebut dhole. Berdasarkan ciri fisiknya, ajag memang mirip seperti anjing sehingga masyarakat umum sering menganggapnya sebagai anjing liar Asia.
Pada masyarakat Jawa misalnya, satwa ini disebut juga sebagai ‘
asu kikik’ karena kerap mengeluarkan suara mengikik saat berinteraksi dengan kawanannya. Ajag memang masih berasal dari keluarga
Canidae, yang artinya berkerabat dengan anjing domestik, serigala, rubah, hingga coyote, dan jackal. Satwa liar yang satu ini tersebar di banyak daratan Asia seperti di India, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Indonesia, hingga Tiongkok
1.
Di Indonesia sendiri, ajag terbagi dalam dua subspesies yakni Cuon alpinus sumatrensis yang dijumpai di hutan-hutan Sumatera dan Cuon alpinus javanicus di Jawa. Biarpun sekilas nampak seperti anjing, tetapi ajag memiliki tampilan fisik dan perilaku yang cukup khas untuk dikenali.
Ajag memiliki perawakan tubuh yang ramping dengan warna bulu cokelat kemerahan serta corak warna putih di bagian dagu yang kadang memanjang sampai leher dan ujung perut. Sementara bagian ekornya memiliki bulu yang lebih tebal dengan ujung berwarna kehitaman. Selain itu, bagian telinga ajag berbentuk segitiga dengan ujung yang cenderung lebih membulat, dan terdapat bulu pinna berwarna putih yang menyelubungi lubang telinganya.
Melansir
Mongabay, pada perawakan wajah, ajag memiliki bagian moncong hidung yang lebih pendek, dan struktur tengkorak kepala yang nampak lebih cembung jika dibandingkan anjing. Tubuh ajag secara umum berukuran panjang sekitar 88-113 sentimeter, tinggi berkisar 45 sampai 50 sentimeter, dan bobot tubuh 10 hingga 20 kilogram.
Perilaku Ajag di Alam Liar
Dibandingkan dengan perilaku predator puncak lain seperti harimau dan macan tutul yang bersifat soliter, ajag justru hidup dalam kelompok. Secara perilaku, ajag dianggap menyerupai serigala dan anjing liar afrika yang berburu secara berkelompok dengan masing-masing kelompok terdiri dari lima hingga 12 ekor .
Satwa karnivora ini juga punya reputasi yang kejam karena kerap menghabisi dan mengoyak daging mangsanya saat masih dalam keadaan hidup. Memiliki jangkauan habitat hidup yang luas dari mulai di pegunungan, hutan lebat, hutan hujan tropis, sampai padang rumput sabana, satwa predator ini punya kategori mangsa yang juga cukup beragam.
Ajag dikenal mampu memangsa tikus, pengerat kecil lainnya, kepiting, ikan, reptil, unggas, hingga binatang yang lebih besar dari tubuhnya seperti kambing, babi hutan, rusa, dan banteng. Saat mendapat mangsa yang berukuran besar, mereka terkadang tidak langsung menghabiskannya, tetapi meninggalkan sejenak untuk kemudian kembali menyantap bangkai sisa buruannya di lain waktu.
Dalam keadaan tertentu saat mangsa sulit ditemukan di alam liar, gerombolan ajag ini sering mendatangi desa penduduk untuk berburu. Binatang ternak masyarakat seperti sapi, domba, kambing, hingga ayam sering ditemukan musnah disantap gerombolan mereka. Hal tersebut yang membuat ajag sering dianggap sebagai hama yang meresahkan dan merugikan peternak lokal masyarakat. Di alam liar pun, keberadaan mereka sering mendapatkan tuduhan sebagai faktor penyebab menurunnya populasi banteng jawa dan rusa timor di beberapa taman nasional.
Masuk dalam Daftar Satwa Dilindungi
Nasib yang kurang baik nampaknya sering mewarnai perjalanan hidup satwa predator yang berburu dalam kelompok ini. Tuduhan hingga persekusi dan perburuan dari manusia sering mereka alami karena dianggap sebagai biang keladi musnahnya ternak.
Padahal masih banyak orang yang belum dapat membedakan antara ajag sungguhan dengan anjing domestik yang hidup secara lepas liar di area permukiman warga.
Deforestasi dan alih fungsi hutan menjadi salah satu penyebab menyempitnya ruang hidup alami mereka di alam liar. Ditambah lagi, jumlah mangsa buruan mereka seperti rusa, kerbau, banteng, dan babi hutan yang juga semakin menipis karena perburuan manusia, turut membuat mereka kesulitan mencari makan.
Alhasil, dalam puluhan tahun terakhir jumlah mereka di alam liar terus mengalami penurunan. Dalam laman
IUCN Red List ajag atau
dhole sudah masuk dalam status yang terancam punah (
Endangered/EN). Hal ini juga terjadi di Indonesia, ajag masuk dalam jenis satwa dilindungi berdasarkan
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 106 Tahun 2018. Estimasi jumlah ajag di seluruh dunia saat ini berkisar 4.500-10.500 individu, di mana hanya 949-2.215 yang merupakan individu dewasa.
Di pulau Sumatera dan Jawa, jumlah populasi ajag di habitat alaminya juga semakin terpencar dan terus berkurang. Lewat beberapa dokumentasi dari kamera jebak, kawanan ajag diketahui berada di Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Tesso Nilo, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, dan Taman Nasional Kerinci Seblat.
Di Jawa sendiri, keberadaan ajag terfragmentasi di wilayah paling barat seperti Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Gunung Halimun Salak, serta di bagian paling timur yakni di Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Alas Purwo di Jawa Timur. Diharapkan ke depannya, terdapat upaya yang lebih serius terkait konservasi pelestarian ajag di habitat alaminya.
Meski dianggap sebagai satwa liar predator yang kerap menghabisi ternak warga, keberadaannya tetap penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan di Indonesia dan Asia. Semoga generasi berikutnya kembali dapat mendengar lolongan satwa yang hidup bagaikan serigala di wilayah tropis.