Khas

Birdwatching Pertama: Mengamati Keunikan Burung-Burung di Sekitar Kita

25/09/2025|Garda Animalia
Para peserta Weekend Birding sedang mengidentifikasi burung yang ditemui dibantu pamflet identifikasi Foto Burung Indones...

Para peserta Weekend Birding sedang mengidentifikasi burung yang ditemui dibantu pamflet identifikasi. | Foto: Burung Indonesia

Gardaanimalia.com Siapa sangka, setiap burung di sekitar kita memiliki keunikannya masing-masing, mulai dari warna, corak, bentuk paruh, hingga suara kicaunya memperlihatkan keanekaragaman alam ini.

Untuk mengajak masyarakat lebih dekat dengan keindahan tersebut, Burung Indonesia kembali mengadakan Weekend Birding, Sabtu (20/9/2025). Berbeda dengan lokasi sebelumnya, kali ini lokasi pengamatan berlangsung di Kampus IPB University Dramaga, Bogor.

Acara bulanan ini dimulai sejak pukul 07.00 WIB, tepatnya di area KOIN IPB. Pertama kali masuk ke titik kumpul, terlihat peserta dari beragam kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Beberapa di antara mereka juga tampak membawa kamera dengan lensa panjang.

Sebelum kegiatan dimulai, panitia mulai melakukan absensi dan membagikan pamflet lipat yang berisi ilustrasi burung-burung di Pulau Jawa, tidak lupa binokular yang akan digunakan untuk mengidentifikasi burung-burung yang kami amati nantinya.

Selanjutnya, panitia mulai mengajarkan cara menggunakan binokular yang dilanjutkan dengan membagi peserta dalam dua kelompok.

Di kelompok saya ada Alfian Surya Fathoni selaku fasilitator dari Burung Indonesia yang bertugas menjelaskan dan memandu kami saat melakukan identifikasi. Sebagai peserta yang baru pertama kali mengikuti kegiatan ini, identifikasi burung bukanlah hal yang mudah bagi saya.

Tantangan pertama, penggunaan binokular. Kecepatan burung berpindah dan kapasitas perbesaran objek binokular membuat saya bingung mencari posisi burung bertengger. Belum lagi warna burung yang menyerupai daun atau batang pohon membuat saya kesulitan untuk melihatnya secara langsung.

Meski sempat kesulitan, dengan bantuan Alfian dan peserta lain, saya akhirnya mulai bisa menggunakan binokular untuk mengamati burung. Beberapa peserta bahkan membawa kamera dengan lensa panjang, sehingga kami bisa melihat detail burung dengan lebih jelas.

Uploaded content

Alfian mengajak peserta untuk mengidentifikasi burung. | Foto: Burung Indonesia

Tantangan kedua, mengidentifikasi spesies burung. Selama ini saya selalu mengira burung-burung di sekitar saya memiliki bentuk dan warna yang sama yaitu, hitam, abu, atau cokelat. Namun, setelah mengikuti kegiatan ini, saya sadar bahwa masing-masing burung memiliki coraknya sendiri. Bahkan beberapa di antaranya berwarna hijau dan merah.

“Ayo, sekarang tebak itu burung apa? Coba dilihat dulu [di pamflet],” ujar Alfian saat kami berhenti untuk mengamati burung berwarna cokelat keabuan.

Para pemandu cukup aktif mendorong peserta untuk mengamati karakteristik burung, seperti ukuran hingga warna, untuk kemudian membimbing kami mengidentifikasi spesies dan membedakannya dengan spesies yang mirip.

Beberapa di antara kami menyahut, mulai dari burung gereja hingga walet. Setelah diminta untuk lebih teliti, barulah ia menjelaskan burung yang kami lihat adalah burung bondol peking (Lonchura punctulata).

“Coba dilihat bagian perutnya, ada [pola] sisiknya kan,” jelas Alfian

Tidak hanya menunjukkan spesies apa yang kami amati selama mengitari IPB, Alfian juga memberi trivia menarik tentang burung, seperti perbedaan burung bertengger dan tidak bertengger (burung aerial). Burung bertengger adalah jenis burung yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bertengger, seperti burung gereja, sedangkan burung aerial lebih banyak menghabiskan waktu di udara dan jarang hinggap dalam waktu yang lama, seperti walet.

“Kelebihan burung aerial ini bisa terbang dari pagi hingga sore tanpa bertengger, bahkan makannya serangga terbang,” jelasnya.

Tidak hanya itu, di pemberhentian selanjutnya, Alfian juga menjelaskan tentang bagian-bagian tubuh burung. Saat itu kami beruntung mengamati burung cabai jawa (Dicaeum trochileum) betina, yang memiliki warna berbeda dengan pejantan.

Kalau kepalanya berwarna merah, berarti dia betina atau jantan?” tanyanya kepada para peserta.

Sebelum memastikan jenis kelaminnya, Alfian lebih dulu bertanya kepada peserta tentang warna tunggir dan tungging burung tersebut. Ia menjelaskan bahwa tunggir adalah bagian punggung tepat sebelum ekor, sering menjadi penanda warna khas pada spesies tertentu. Sementara, tungging adalah pangkal ekor yang juga dapat membantu membedakan bentuk maupun gaya terbang burung. Lalu, ia menjelaskan bahwa pada cabai jawa, individu betina ditandai dengan bagian kepala berwarna merah, sedangkan yang jantan berwarna abu-abu.

Selain cabai jawa, gereja, dan walet. Masih banyak burung yang kami lihat selama perjalanan, seperti takur ungkut-ungkut, betet biasa, bondol peking, layang-layang api hingga elang yang terbang di atas langit.

Uploaded content

Tangkapan gambar burung betet biasa dari kamera peserta. | Foto: Nadaa

Akhirnya, tibalah kami pada ujung acara. Seluruh peserta kembali berkumpul untuk saling berbagi pengalaman. Suasananya terasa akrab, ada yang bercerita tentang burung pertama yang berhasil mereka identifikasi, ada pula dua anak kecil yang datang sambil membawa sarang burung kecil dan satu helai bulu yang ditemukannya saat pengamatan.

Momen sederhana itu membuat kami tersenyum, sekaligus menyadarkan bahwa kegiatan ini bukan hanya soal mengenali spesies burung, tetapi juga tentang bagaimana kita belajar bersama, berbagi rasa ingin tahu, dan menikmati kebersamaan di tengah alam. Weekend Birding kali ini pun ditutup dengan pengalaman yang berkesan.

Uploaded content

Dua peserta anak-anak menemukan sarang dan bulu burung saat pengamatan. | Foto: Garda Animalia


Penulis: Nadaa