Ancaman Kepunahan Akibat Mutasi pada Satwa Liar

  • Share
Orangutan albino bernama Alba telah diselamatkan beberapa waktu lalu di Kalimantan Tengah. | Foto: Yayasan BOS
Orangutan albino bernama Alba telah diselamatkan beberapa waktu lalu di Kalimantan Tengah. | Foto: Yayasan BOS

Gardaanimalia.com – Selama ini kita tahu banyak faktor yang menyebabkan turunnya angka atau jumlah populasi satwa liar, khususnya satwa liar yang dilindungi di Indonesia.

Beberapa di antaranya yaitu disebabkan oleh perubahan iklim, deforestasi hutan, dan perburuan ilegal yang mendorong satwa liar menuju ambang kepunahan.

Selain faktor-faktor tersebut, terdapat faktor lainnya yang berasal dari genetik yang terjadi pada satwa liar itu sendiri.

Inilah yang biasa disebut dengan mutasi yang mana juga dapat berdampak serius terhadap kematian dan menurunnya populasi satwa.

Apa itu mutasi?

Mutasi merupakan suatu fenomena berubahnya susunan DNA atau bahan genetik, baik pada tingkat gen maupun pada tingkat kromosom. Pada mutasi gen, muncul alel baru dan menjadi dasar munculnya variasi-variasi baru pada spesies.

Lazimnya, mutasi hanya terjadi pada frekuensi rendah di alam, lebih rendah daripada 1:10.000 individu. Individu yang memperlihatkan perubahan sifat (fenotipe) dalam kajian genetik akibat mutasi disebut mutan. Sedangkan individu yang tidak mengalami perubahan sifat disebut tipe liar atau wild type.[1]Warmadewi, Dewi Ayu. 2017. Buku Ajar Mutasi Genetik.

Apa saja faktor yang dapat menyebabkan mutasi?

Mutasi biasanya disebabkan oleh zat pembangkit mutasi atau biasa disebut mutagen. Secara umum mutagen merupakan bahan fisika, kimia, atau biologi yang memiliki daya tembus kuat sehingga bisa mencapai materi genetis dalam inti sel.

Mutagen ini dapat berupa zat karsinogen, radiasi surya, radioaktif, ultraviolet, sinar X, serta loncatan energi listrik seperti petir.

Namun tidak hanya itu, perkawinan sedarah pada hewan sering kali juga menjadi sebab terjadinya kecacatan atau mutasi. Yang mana biasa terjadi akibat kurangnya alternatif pasangan kawin, baik di alam maupun penangkaran.

Spesies dengan kekerabatan dekat atau sedarah cenderung memiliki komposisi genetik atau gen yang sama. Pada vertebrata (hewan bertulang belakang), fungsi tubuh sangat bergantung pada gen-gen agar dapat bekerja dengan baik.

BACA JUGA:
Ketika Penangkaran Menjadi Sarang Perdagangan Ilegal

Salinan suatu gen dapat mengalami kerusakan dan apabila bertemu dengan salinan serupa melalui perkawinan sedarah, peluang terjadinya mutasi akan semakin besar hingga dapat mengganggu sistem kerja tubuh atau munculnya kelainan.[2]https://nationalgeographic.grid.id/read/131967261/mengapa-satwa-langka-rentan-punah-berikut-penjelasan-peneliti?page=all

Albinisme: Bentuk Nyata Mutasi pada Hewan

Pasti kita pernah mendengar istilah albino, sebelumnya. Ternyata albino tidak hanya bisa terjadi pada manusia, namun juga dengan hewan.

Albino merupakan kelainan genetik yang menyebabkan suatu individu lahir dengan sedikit atau tanpa melanin. Melanin merupakan sel yang dihasilkan oleh sel melanosit yang berfungsi memberi warna pada mata, kulit dan rambut.[3]https://www.alodokter.com/albinisme

Kurangnya pigmentasi ini terjadi ketika hewan tertentu mewarisi satu atau beberapa gen yang bermutasi dari induknya.

Hewan yang lahir dengan albinisme akan terlihat berbeda dengan spesies sesamanya. Biasanya warna tubuh akan lebih putih atau pucat dan terlihat mencolok di dalam suatu populasi.

Namun, tidak semua hewan yang berwarna putih merupakan albino. Salah satu cara mengenali hewan albino adalah ketika mata satwa tersebut memiliki kecenderungan berwarna pucat atau merah muda. Yang mana hal dikarenakan ada pembuluh darah yang tertahan di retina.[4]https://www.idntimes.com/science/discovery/etantyo-nathaniel/albino-pada-hewan-exp-c1c2/5

Hewan albino kerap kali mengalami kondisi masalah kesehatan. Kurangnya melanin pada tubuh menyebabkan kurangnya pigmentasi pada iris mata sehingga pembuluh darah pada retina menjadi terlihat.

Kondisi inilah yang kemudian menyebabkan berkurangnya kualitas indra penglihatan pada satwa tersebut. Akibatnya, hewan albino akan kesulitan untuk mencari makan, melacak hewan lain dan bereproduksi.

Lebih lagi, kondisi tubuh seperti ini akan sulit untuk menghalangi sinar-ultraviolet matahari sehingga hewan rentan mengalami masalah kulit bahkan mengalami kanker kulit akibat terpapar UV dengan konsentrasi tinggi.[5]https://www.idntimes.com/science/discovery/etantyo-nathaniel/albino-pada-hewan-exp-c1c2/5

Seekor kukang albino bernama Alby. | Foto: Denny Setiawan/IAR Indonesia
Seekor kukang albino bernama Alby. | Foto: Denny Setiawan/IAR Indonesia

Bagaimana Mutasi dapat Mendorong Kepunahan Satwa?

Salah satu bentuk akibat mutasi yaitu munculnya penyakit genetik yang mematikan, kanker misalnya. Kanker terjadi akibat kelainan pada sel akibat mutasi dan dapat menyebar ke seluruh bagian tubuh hingga menyebabkan kematian.

BACA JUGA:
Bantai Satwa Liar dengan Sadis, Kawanan Pemburu di Lampung Ditangkap

Munculnya penyakit ini membuat angka harapan hidup suatu populasi satwa liar menjadi semakin menurun. Mutasi gen yang bersifat merusak dapat terkumpul dalam suatu populasi. Hal ini terjadi karena mutasi tidak selalu berhasil diseleksi oleh alam.

Mutasi pada mulanya tidak langsung memberi dampak pada fungsi tubuh, sehingga individu mutan tidak dapat langsung terseleksi atau hilang.

Akibatnya, gen rusak pada individu mutan dapat diwariskan hingga beberapa generasi dan dapat terakumulasi apabila terjadi perkawinan sedarah hingga taraf yang mematikan.

Mutasi seperti albinisme, ia menyebabkan morfologi suatu individu terlihat mencolok. Hal ini mengakibatkan satwa liar sulit melakukan penyamaran untuk menghindari predator dan berangsur-angsur akan menurunkan jumlah populasi apabila terus terjadi peristiwa serupa.

Selain itu, hewan albino juga dipandang sebagai hewan eksotis yang langka karena penampilannya. Di mana manusia tentunya memiliki ketertarikan terhadap fenomena yang tak biasa ini.

Sehingga ketika masyarakat tidak mendapatkan edukasi yang tepat, maka yang terjadi adalah tingkat perburuan hewan albino akan tinggi. Dalam hal ini secara tidak langsung mutasi dapat memperbesar peluang kepunahan satwa langka.[6]https://www.amazine.co/22205/albinisme-pada-hewan-penyebab-masalah-pada-hewan-albino/

Sebagai contoh, ada sebuah analisa terhadap genom mammoth berbulu (Mammuthus primigenius) –kerabat gajah yang sudah punah pada Zaman Es- menunjukkan bahwa individu terakhir spesies ini menyimpan banyak mutasi berbahaya sebelum akhirnya mati.[7]https://nationalgeographic.grid.id/read/131967261/mengapa-satwa-langka-rentan-punah-berikut-penjelasan-peneliti?page=all

Pun, berdasarkan analisis genomik terhadap hewan-hewan terancam punah semisal cheetah Afrika (Acinonyx jubatus), serigala abu-abu (Canis lupus), dan burung ibis endemik Jepang (Nipponia nippon) juga menunjukkan tren yang serupa.[8]https://nationalgeographic.grid.id/read/131967261/mengapa-satwa-langka-rentan-punah-berikut-penjelasan-peneliti?page=all

Adakah Upaya untuk Menanggulangi?

Terdapat beberapa upaya yang telah dan dapat dilakukan untuk meminimalisir fenomena mutasi pada hewan khususnya satwa langka yaitu upaya translokasi, modifikasi genom, dan ketepatan adaptasi regulasi. Berikut penjelasannya:

BACA JUGA:
Satwa Liar di Bawah Tekanan Perubahan Iklim

Upaya translokasi

Translokasi dilakukan dengan cara menambahkan individu baru ke dalam sebuah populasi. Mekanisme ini bertujuan agar tercipta lebih banyak variasi genetik melalui perkawinan sehingga dapat melarutkan mutasi gen berbahaya.

Namun upaya ini perlu dilakukan secara hati-hati karena hasil yang diperoleh bisa saja tidak sesuai dengan harapan.

Modifikasi genom

Teknologi ini dilakukan dengan menyunting gen-gen tertentu agar dapat mempunyai ketahanan lebih terhadap suatu penyakit atau mutasi.

Namun, penerapan teknologi ini masih berskala laboratorium dan perlu dikembangkan serta mempertimbangkan dampak yang muncul pada generasi populasi satwa di masa depan.

Ketepatan adaptasi regulasi

Munculnya teknologi-teknologi yang mendukung upaya konservasi perlu diimbangi dengan adaptasi yang tepat. Pemerintah sebagai pemegang kebijakan tertinggi perlu dengan serius mengkaji upaya-upaya yang telah berkembang dalam konservasi satwa karena kepunahan berpacu dengan waktu dan bisa terjadi kapan saja.

Selain itu, dibutuhkan adanya kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan para ahli yang akan menentukan langkah apa yang harus diambil dalam penanganan mutasi hewan dan permasalahan lainnya.

Referensi[+]

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments