Atasi Konflik Manusia dan Beruang Madu, KSDA Pasang Kandang Jebak

  • Share
Resor KSDA Agam melakukan pemasangan kandang jebak untuk mengatasi konflik antara manusia dan beruang madu. | Foto: Yusrizal/Antara
Resor KSDA Agam melakukan pemasangan kandang jebak untuk mengatasi konflik antara manusia dan beruang madu. | Foto: Yusrizal/Antara

Gardaanimalia.com – Beruang madu masuk perkebunan dan permukiman warga Sidang Tangah, Nagari Matua Mudiak, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, Sumatera Barat sejak Januari 2022 lalu.

Zurniati, seorang warga Surau Kubangan, Lubukbasung mengatakan bahwa masuknya satwa langka tersebut ke perkebunan warga mengakibatkan terjadi kerusakan.

Ia menyebut bahwa beruang madu itu sempat memakan tebu dan buah-buahan nangka milik warga. Bahkan, ungkapnya, beruang kerap lewat depan rumah masyarakat dan kebun cabai.

Beberapa titik yang acap kali terjadi kemunculan beruang sejak Januari lalu, kata Zurniati, yaitu Paparan, Surau Kubangan dan Aia Katiak.

Zurniati mengungkapkan pada Selasa (8/3) sekitar pukul 7.00 WIB, satwa dengan nama ilmiah Helarctos malayanus juga muncul dan sempat berpapasan dengan masyarakat.

Menurutnya, pertemuan masyarakat dan satwa dilindungi tersebut membuat warga merasa ketakutan untuk berangkat ke perkebunan. Kalaupun pergi ke kebun, biasanya hanya sekitar satu jam di sana.

“Beruang madu tidak mengeluarkan suara saat di kebun tebu dan kami takut diserang nantinya. Untuk anak-anak, saya larang untuk main keluar rumah,” ujarnya.

Sementara itu, Saparudin, salah seorang warga lainnya mengakui bahwa lahan perkebunan tebu miliknya telah lima kali mengalami kerusakan sejak satu bulan lalu akibat konflik dengan beruang.

“Hampir seperempat hektare tebu saya dirusak beruang madu dan terakhir pada Sabtu (5/3) malam,” ungkapnya.

Menanggapi kejadian itu, Ade Putra, Kepala Resor Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Agam mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan pemasangan kandang jebak di lokasi kebun tebu yang rusak.

Ia mengungkapkan, beruang madu tidak mungkin dihalau karena kemunculannya terjadi di sekitar permukiman warga. Sehingga petugas memasang kandang untuk bisa melakukan evakuasi terhadap satwa langka itu.

BACA JUGA:
Tak Banyak Tersisa di Hutan, Populasi Harimau Sumatera Harus Dijaga!

“Kita memasang kandang jebak di dalam kebun tebu dan pemasangan kandang jebak dibantu Patroli Anak Nagari (Pagari) Baringin Kecamatan Palembayan, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) dan masyarakat sekitar,” ujar Ade Putra.

Ade Putra mengungkapkan bahwa petugas telah berusaha menangani konflik manusia dengan satwa dilindungi tersebut sejak Januari hingga sekarang.

Salah satu upaya penanganan konflik yang dilakukan yaitu melakukan wawancara dengan saksi mata yang melihat beruang, identifikasi lapangan, memantau keberadaan satwa dari kotoran, jejak cakaran, dan sisa makanan yang ditinggalkan.

“Upaya telah kita lakukan, namun belum berhasil untuk mengevakuasi beruang madu,” kata Kepala Resor KSDA Agam tersebut.

Ia pun melakukan imbauan kepada masyarakat untuk mengantarkan anak mereka ke sekolah dan lebih berhati-hati saat pergi ke kebun dengan cara tidak pergi seorang diri.

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments