Menjarah
Menjarah
Menjarah
Berita

BKSDA Kalsel Berusaha Tangkap Buaya Berkonflik di Tanah Laut

221
×

BKSDA Kalsel Berusaha Tangkap Buaya Berkonflik di Tanah Laut

Share this article
Pihak BKSDA Kalsel menyiapkan itik dan ayam untuk diikatkan pada kail besar. | Foto: Syahza Rei Maghribbi/Kalimantan Live
Pihak BKSDA Kalsel menyiapkan itik dan ayam untuk diikatkan pada kail besar. | Foto: Syahza Rei Maghribbi/Kalimantan Live

Gardaanimalia.com – BKSDA Kalimantan Selatan (Kalsel) sedang berusaha menangkap seekor buaya muara yang berkonflik dengan warga di Kabupaten Tanah Laut, Kalsel.

Konflik tersebut terjadi pada Saharuddin (33), warga Masalembu, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur di Sungai Tanjung-Batakan, Desa Tanjung Dewa, Kecamatan Panyipatan, Kamis (28/3/2024) pekan lalu.

pariwara
usap untuk melanjutkan

“Sekitar pukul 20.30-20.45, ada salah satu warga atas nama Saharuddin ber-KTP Sumenep dan merupakan awak kapal nelayan,” kata Camat Panyipatan M Hadiat Wicaksono mengutip Tribun Video.

Saat ini, korban telah menjalani operasi dan sedang dirawat di RSUD Ulin Banjarmasin untuk proses pemulihan. Informasi ini diperoleh Tribun Banjarmasin, Rabu (3/4/2024).

Usaha penangkapan buaya telah dilakukan sejak satu hari setelah kejadian, yaitu Jumat (29/3/2024). BKSDA Kalsel dan Forkopimcam Panyipatan menggunakan umpan hidup berupa ayam dan itik.

Umpan tersebut diikat dengan tali tambang berukuran sedang yang ditambatkan ke tiang penyangga kapal. Mata kail besar dipasang di tubuh umpan untuk menjerat buaya. Agar tidak tenggelam, umpan itik dan ayam diberikan pelampung kecil.

Mengutip Tribun Banjarmasin, Plh. Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Pelaihari BKSDA Kalsel Debi Imam Saputra mengatakan umpan disebar di enam titik di Sungai Tanjung-Batakan.

Salah satunya ditaruh di lokasi konflik, yaitu di permukiman dekat tempat nelayan menambatkan kapal di RT 2 Dusun 1 Desa Tanjung Dewa.

Setelah tertangkap, rencananya satwa akan dipindahkan ke Muara Sabuhur, Kecamatan Jorong, Kabupaten Tanah Laut. Lokasi tersebut dipilih karena jauh dari permukiman dan masih memiliki pakan alami buaya yang melimpah.

Perlu dicatat, penggunaan kail pancing untuk menangkap buaya berpotensi membahayakan satwa dilindungi tersebut. Kail pancing mampu merobek organ dalam yang dapat menyebabkan kematian pada buaya.

Sampai tulisan ini terbit, tim belum berhasil menangkap buaya muara (Crocodylus porosus) tersebut.

Imbauan kepada Warga

Selain melakukan usaha penangkapan buaya, pihak BKSDA Kalsel juga melakukan edukasi kepada warga Desa Tanjung Dewa tentang risiko konflik dengan buaya muara.

Warga diharapkan menghindari aktivitas di sungai. Jika memang diperlukan, warga diminta untuk hanya berkegiatan ketika siang hari, tidak sendirian, dan benar-benar mencermati kondisi sungai.

Selain itu, tim juga mengimbau warga untuk tidak membuang sampah organik, seperti jasad ayam mati dan bekas daging ternak ke sungai yang bisa memicu kemunculan buaya.

Lalu, warga juga diminta untuk menggunakan tali yang panjang jika ingin mengambil air dari sungai.

Diketahui bahwa buaya masih berkeliaran di sekitar Sungai Tanjung-Batakan. Terakhir, satwa teramati berkeliaran di dermaga Pantai Batakan Baru yang berjarak sekitar 250 meter dari permukiman warga.

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments