Edukasi

Bagaimana Cara Hewan Berkabung?

06/01/2026|Nadaa
Ilustrasi induk gajah yang sedang berduka Foto Canva - Bagaimana Cara Hewan Berkabung

Ilustrasi induk gajah yang sedang berduka. | Foto: Canva

Gardaanimalia.com - Pada pertengahan Mei 2025, sebuah video viral di media sosial menampilkan pemandangan memilukan, seekor induk gajah terlihat menunggu jasad anaknya yang tewas tertabrak truk saat menyebrang Jalan Raya Timur-Barat, negara bagian Perak, Malaysia.

Sang induk terus menjaga, menyentuh, dan seperti berusaha membangunkan bayinya yang tak bernyawa. Gestur yang ditunjukkan induk gajah ini bukan sekadar naluri, melainkan cermin kesedihan mendalam yang juga bisa dirasakan oleh hewan.

Kejadian ini menunculkan pertanyaan, apakah hewan benar-benar bisa merasakan duka seperti manusia?

Mengutip laman Smithsonian Magazine, seorang ahli bioetika dari University of Colorado Denver mengungkapkan semakin banyak bukti ilmiah yang mendukung gagasan bahwa hewan sebetulnya mengalami masa berkabung.

Mengutip BBC Earth, dalam mengekspresikan kesedihan, manusia bukan satu-satunya makhluk yang memiliki emosi. Ya, hal ini juga banyak dirasakan satwa.

Hewan tidak dapat menunjukkan emosinya melalui kata-kata, seperti halnya manusia. Namun, konsep kesedihan yang mereka tunjukkan mengacu pada suatu perilaku, seperti penurunan nafsu makan, gangguan tidur, penurunan sosialisasi dan peningkatan stres.

​​Becky Millar, peneliti dari Cardiff University dalam jurnal Can Animals Grieve? memaknai bahwa duka perlu melihat salah satu aspek penting, yaitu harus terarah pada individu tertentu.

Duka bukan sekadar respons terhadap kekosongan, tetapi terhadap kehilangan seseorang yang memiliki peran spesifik dalam kehidupan.

Kritik terhadap duka pada hewan sering berangkat dari anggapan bahwa hewan tidak mampu memahami individu sebagai sosok yang unik dan tak tergantikan. Karena kemampuan ini sering dianggap khas manusia, maka respons hewan terhadap kematian kerap dianggap sebagai bentuk stres, kebingungan, atau kecemasan.

Namun, penelitian perilaku menunjukkan, banyak hewan mampu mengenali individu tertentu, membangun ikatan jangka panjang, dan bereaksi secara berbeda terhadap kematian anggota kelompok yang dekat dibanding individu lain.

Dalam beberapa studi, hewan yang kehilangan kerabat dekat menunjukkan peningkatan stres fisiologis.

Sementara, individu lain dalam kelompok yang sama tidak menunjukkan perubahan serupa. Hal ini menunjukkan bahwa yang hilang bukan sekedar kehadiran, melainkan individu tertentu dengan makna sosial yang khas.

Tanda-Tanda Hewan sedang Berkabung

Dalam tinjauan ilmiah yang diterbitkan oleh Medwin Publishers, Fanucchi dan Newberry menjelaskan bahwa banyak mamalia sosial menunjukkan respons terhadap kematian anggota kelompoknya, seperti tetap berada di dekat jasad, perubahan perilaku sosial, penurunan aktivitas, hingga vokalisasi yang tidak biasa.

Salah satu bentuk duka juga tampak pada gajah liar. Sejumlah penelitian perilaku hewan menunjukkan bahwa gajah memberikan respons yang kuat ketika kehilangan anggota kelompoknya. 

Saat seekor gajah mati, anggota kawanan lainnya tidak langsung meninggalkan lokasi tersebut. Mereka justru mendekati jasad, menyentuhnya dengan belalai, serta memeriksa tubuh dengan cara mengendus atau menyentuh bagian kepala dan kaki, seolah memastikan kematian itu benar-benar terjadi.

Dalam beberapa kasus, gajah bahkan bertahan di sekitar jasad dalam waktu lama, termasuk setelah tubuh mulai membusuk, dan ada pula yang kembali ke lokasi kematian di kemudian hari, seakan melakukan kunjungan.

Uploaded content
Induk gajah melihat dan menemani anaknya yang tewas tertabrak truk di Malaysia. | Foto: tangkapan layar akun TikTok @Chimenx

Pemahaman tentang duka pada hewan membantu melihat mereka bukan sekadar sebagai objek atau bagian dari ekosistem, melainkan sebagai individu yang hidup dalam relasi sosial.

Respons mereka terhadap kematian menunjukkan bahwa kehilangan dapat memengaruhi perilaku dan kondisi fisiologis secara nyata.

Temuan-temuan ini memperkuat pentingnya pendekatan yang lebih hati-hati dan berbasis ilmu pengetahuan dalam pengelolaan, perlindungan, dan interaksi manusia dengan satwa liar.