Gardaanimalia.com - Deretan kasus interaksi negatif buaya muara (Crocodylus porosus) dan manusia di Bangka Belitung tak kunjung usai.
Dalam kurun delapan bulan terakhir, sedikitnya delapan warga menjadi korban insiden dengan predator tersebut, enam antaranya meninggal dunia.
Korban berasal dari beragai kalangan, di antaranya penambang timah, nelayan, petani, pekerja, bahkan anak-anak.
Kejadian terbaru menimpa seorang pria berinisial I (53), warga Desa Payabenua, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka. I hilang dan diduga digigit buaya saat memancing di alur Sungai Menduk, Sabtu (2/8/2025) malam. Korban ditemukan satu hari kemudian dalam kondisi meninggal dunia.
Beberapa hari sebelumnya, konflik menimpa warga berinisial A (42) warga Desa Rias, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan. Korban diserang buaya ketika sedang mencuci kangkung hasil panen di irigasi perairan sawah. Beruntung korban sempat menyelamatkan diri setelah melawan gigitan buaya tersebut.
Mengutip Bangka Pos, berikut rangkaian konflik buaya sepanjang 2025:
- Caca (5), meninggal dunia saat mandi di kulong eks tambang timah di Bukit Layang (11 Januari 2025)
- Tina Ramadhani (8), diseret buaya di Muara Sungai Pangkalbalam dan ditemukan meninggal dua hari kemudian (2 Februari 2025)
- Safit (60), meninggal dunia karena serangan diserang buaya saat mancing di muara Sungaiselan (Kolong Haji Amat), Kecamatan Sungai Selan (26 Februari 2025)
- Sapan (36), meninggal saat memancing di Sungai Kabal, Desa Sebagin, Kabupaten Bangka Selatan (7 Februari 2025)
- Abu Bakar (66), terluka parah di tangan bagian kiri. Peristiwa terjadi saat ia menangkap ikan di Sungai Kampung Sebrang, Kota Pangkalpinang (8 Maret 2025)
- Febry Yansah (19), berkonflik dengan buaya saat menambing timah di Sungai Pelaben Jembatan Air Anyir Desa Air Anyir, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka (2 Juli 2025). Ditemukan meninggal dunia dua hari setelah kejadian
Habitat Buaya yang Rusak dan Pertanyaan tentang Solusi
Dalam banyak sumber, pakar lingkungan maupun pegiat lingkungan berkali-kali menekankan bahwa kasus yang tak berkesudahan ini adalah pengaruh langsung dari kerusakan habitat buaya.
Khususnya di Bangka Belitung, sungai, rawa, dan kulong sebagai tempat hidup buaya terdesak karena beberapa aktivitas, yaitu pertambangan timah (legal maupun ilegal), penebangan mangrove dan vegetasi sungai lainnya, serta permukiman di pinggir aliran sungai.
“Buaya tidak sengaja menyerang. Mereka mempertahankan wilayah atau merasa terancam karena habitatnya terusik,” kata Dr. Eni Laraswati, peneliti konservasi satwa liar di Universitas Bangka Belitung, mengutip Bangka Pos.Menanggapi serangkaian peristiwa nahas ini, pemerintah daerah provinsi atau kabupaten/kota hingga belum memiliki sistem mitigasi konflik manusia-buaya yang terpadu.
“Masyarakat tidak diberikan edukasi tentang bahaya buaya. Sementara, aktivitas mandi, memancing, hingga bekerja di sungai terus berjalan tanpa perlindungan,” tambah Dr. Eni.
Pembentukan Satuan Tugas Tumbuhan dan Satwa Liar yang sempat dicanangkan oleh Pemprov Bangka Belitung saat Diskusi Publik Konflik Buaya Muara dan Manusia di Bangka Belitung pada 28 Februari 2024–pasca-terbitnya liputan Membagi Muara untuk Buaya dan Manusia–belum tampak progresnya.
Pemetaan wilayah rawan buaya, restorasi habitat, kampanye edukasi dan sosialisasi menjadi hal krusial yang harusnya dilakukan pemerintah setempat.
Sebelumnya, Garda Animalia telah mencatat jumlah konflik buaya dan manusia di Bangka Belitung sepanjang 2016 sampai Agustus 2023 mencapai 154 kasus, 37,4 persen di antaranya fatal.
Kenyataannya, hingga saat ini korban masih berjatuhan. Predikat sebagai salah satu daerah dengan angka konflik buaya tertinggi di Indonesia akan terus disematkan pada Provinsi Bangka Belitung, selama tak ada langkah nyata untuk menyelesaikan.
“Ketika manusia merusak rumah buaya, jangan salahkan mereka jika kemudian mendatangi rumah kita,” tutup Dr. Eni.
Penulis: Ogi Saputra
















