Gardaanimalia.com - Kalimantan merupakan pulau terbesar ketiga di dunia yang menyimpan kekayaan biodiversitas luar biasa. Secara administratif pulau yang sering disebut Borneo ini terbagi menjadi tiga negara yaitu 1 persen Brunei Darussalam, 26 persen Malaysia, dan 73 persen Indonesia1.
Dengan bentang alam yang luas, Kalimantan menjadi rumah bagi ribuan flora dan fauna, banyak di antaranya bersifat endemik yang artinya mereka tidak dapat ditemukan di belahan bumi mana pun selain di sini.
Salah satu penghuni paling ikonik adalah bekantan (Nasalis larvatus), primata dengan hidung panjang yang menjadi ciri khas sekaligus daya tarik utamanya. Bekantan hidup di kawasan hutan mangrove, rawa, dan tepian sungai yang menjadi bagian penting dari ekosistem pesisir Kalimantan.
Namun, di balik keunikan tersebut, bekantan kini menghadapi ancaman serius. Perubahan fungsi hutan menjadi lahan perkebunan, terutama kelapa sawit, terus mengurangi ruang hidup alaminya. Penyempitan habitat ini tidak hanya mengancam kelangsungan hidup bekantan, tetapi juga berdampak pada keseimbangan ekosistem yang selama ini mereka jaga.
Mengenal Bekantan Lebih Dekat
Bekantan memiliki berbagai sebutan, seperti proboscis monkey atau monyet berhidung panjang. Di kalangan masyarakat lokal, hewan ini dikenal dengan nama kera belanda, pika, bahara bentangan, raseng, dan kahau 2. Ciri yang paling mencolok tentu saja hidung panjang yang hanya dimiliki pejantan. Hidung ini berfungsi sebagai daya tarik seksual terhadap betina, penanda dominasi, hingga pengeras suara saat berkomunikasi.
Secara fisik, primata ini mudah dikenali dari bulu kemerahan dan perutnya yang buncit. Sebagai satwa arboreal, mereka memiliki ekor panjang untuk menjaga keseimbangan di atas pohon. Menariknya, bekantan juga merupakan perenang yang handal. Mereka kerap melintasi sungai atau kanal untuk mencari makan dan menghindari predator, sebuah kemampuan unik yang jarang dimiliki primata lain.
Habitat mereka cukup spesifik, yakni kawasan riparian (tepian sungai) dan hutan mangrove. Mereka sangat bergantung pada pohon-pohon besar di pinggir sungai karena dianggap sebagai tempat tidur yang aman dari predator darat.
Peran Vital Bekantan dalam Ekosistem
Kehadiran bekantan di alam liar bukan tanpa alasan. Mereka memegang peranan yang cukup penting dalam menjaga napas hutan tetap panjang. Sebagai satwa pemakan buah dan pucuk daun, bekantan bertindak sebagai penyebar biji (seed disperser) yang efektif.
Dengan sisa-sisa pencernaan yang mereka tinggalkan saat berpindah tempat, regenerasi hutan pun dapat terjadi secara alami. Dari situ, pepohonan baru bisa terus tumbuh menggantikan yang tua.
Kehadiran bekantan di suatu wilayah pun dapat menjadi indikator dari kesehatan lingkungan tersebut. Sebab, bekantan hanya bisa bertahan hidup di ekosistem mangrove dan riparian yang berkualitas baik. Ketika populasi mereka menyusut atau menghilang dari suatu wilayah, itu adalah sinyal peringatan dini bahwa benteng alam di situ sedang rusak.
Tanpa hutan mangrove yang sehat sebagai tempat bekantan bernaung, kawasan pesisir akan kehilangan pelindung alaminya. Akibatnya, pemukiman manusia di sekitar lebih rentan terhadap abrasi air laut dan krisis air bersih.
Sawit dan Ancaman Fragmentasi Habitat
Kini, bekantan bernasib sama seperti kebanyakan hewan endemik lainnya, yaitu mengalami ancaman kepunahan karena habitat alami mereka yang dirusak.
Melansir WWF Indonesia, selain invasi dari sektor pertambangan, alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit juga menjadi ancaman tersebar terhadap keberadaan bekantan.
Masalahnya bukan hanya sekadar pepohonan yang hilang, melainkan fragmentasi habitat.
Ketika hutan primer dibuka, ruang hidup bekantan terpecah menjadi potongan-potongan (fragmen) yang lebih kecil, terisolasi, dan tersebar tidak beraturan. Bekantan yang terjebak di tengah kepungan sawit akan mengalami kesulitan mencari makanan karena tanaman monokultur tersebut tidak menyediakan nutrisi yang mereka butuhkan.
Hal ini memaksa mereka keluar dari zona nyaman dengan masuk ke area perkebunan, atau bahkan permukiman warga. Itulah sebabnya kenapa konflik bisa muncul.
Bekantan jadi sering dianggap sebagai "hama" padahal mereka adalah pengungsi di rumahnya sendiri. Selain itu, saat terpaksa turun ke darat untuk menyeberangi jalan atau kanal perusahaan, mereka rentan diserang predator darat seperti anjing liar atau bahkan tertabrak kendaraan seperti kasus yang sering terjadi di Trans Kalimantan.
Ekspansi perkebunan kelapa sawit di Kalimantan memang bisa menjadi jalan menuju keberhasilan ekonomi, namun bagi bekantan, ini adalah ancaman eksistensial. Laporan terbaru dari Auriga Nusantara menunjukkan bahwa Kalimantan masih menjadi episentrum deforestasi di Indonesia.
Pada tahun 2025, luas hutan yang hilang mencapai 158.283 hektare, meningkat sekitar 22 persen dari tahun sebelumnya. Sejalan dengan itu, data tahun 2022 menunjukkan empat provinsi di Kalimantan masuk dalam jajaran 10 besar sentra sawit nasional dengan total luas lahan mencapai lebih dari 5,7 juta hektare.
Ironisnya, di tengah jutaan hektar hamparan hijau monokultur tersebut, habitat alami bekantan hanya tersisa dalam petak-petak kecil yang terputus. Dampaknya sangat fatal. Studi dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengungkapkan, populasi primata endemik ini telah terjun bebas, menyusut hingga lebih dari 70 persen, bahkan mendekati 80 persen, hanya dalam kurun waktu tiga generasi terakhir.
Status Darurat Bekantan
Berdasarkan penilaian terbaru dalam Daftar Merah IUCN, bekantan kini menyandang status Endangered (Terancam Punah) dengan kriteria A2acd+4acd.
Kode kriteria tersebut merupakan bukti ilmiah bahwa penurunan populasi bekantan yang drastis disebabkan oleh rusaknya habitat asli dan tekanan aktivitas manusia yang diprediksi akan terus memburuk jika tidak ada intervensi segera. Kondisi darurat ini juga diakui secara hukum di Indonesia.
Bekantan dilindungi secara ketat melalui Peraturan Menteri LHK No. P.106 Tahun 2018. Status hukum ini menegaskan bahwa setiap aktivitas yang merusak habitat atau mengancam nyawa primata endemik ini merupakan pelanggaran hukum serius yang memiliki konsekuensi pidana. Perlindungan ini bukan lagi sebuah pilihan, melainkan mandat undang-undang untuk mencegah hilangnya identitas alam Kalimantan dari peta biodiversitas dunia.
Upaya Pelestarian Bekantan dan Habitatnya
Melestarikan bekantan berarti menjaga keseimbangan antara pembangunan dan lingkungan. Diperlukan upaya nyata melalui penetapan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) agar perusahaan sawit tidak hanya mengejar produksi, tetapi juga menyediakan koridor hijau bagi satwa untuk berpindah.
Bekantan adalah identitas Kalimantan. Jika habitatnya terus menyempit hingga mereka menghilang, kita tidak hanya kehilangan satu spesies unik, tetapi juga kehilangan bagian besar dari jati diri alam Borneo.
Menjaga habitat mereka hari ini adalah investasi agar generasi mendatang masih bisa melihat si "hidung panjang" ini melompat bebas di atas tajuk pohon, bukan hanya melihatnya sebagai gambar mati di buku sejarah.
















