Edukasi

Berkenalan dengan Alba, Satu-Satunya Orangutan Albino di Dunia

23/09/2025|Garda Animalia
Alba, orangutan albino yang menjadi ikon konservasi. | Foto: BOS Foundation

Alba, orangutan albino yang menjadi ikon konservasi. | Foto: BOS Foundation

Gardaanimalia.com Berambut putih terang dan bermata biru membuatnya terlihat beda dari yang lain. Itulah Alba, orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) albino satu-satunya di dunia. Orangutan yang kembali viral di berbagai kanal media ini rupanya ditemukan pada 2017 di Desa Tanggirang, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Tengah.

Awalnya, orangutan betina ini sempat ingin diberi nama salah satu tokoh kera putih dalam dunia pewayangan, yaitu Hanoman. Namun, nama tersebut kemudian diganti melalui proses kompetisi penamaan yang digelar Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation.

“Kita berpikir waktu itu ya, ini keunikan ini harus kita jadikan keunikan konservasi orangutan. Dan harus jadi milik dunia. Kemudian bikin kompetisi nama lah. Nah, kemudian menanglah [Alba],” jelas CEO BOS Foundation Jamartin Sihite pada Garda Animalia, Selasa (23/09/2025).

Alba diperkirakan berusia lima tahun saat pertama kali ditemukan oleh masyarakat yang sempat mengamankan keberadaannya.

“Ketika ditemukan, Alba agak kurus karena musim kering. Tapi masyarakat langsung melapor, tidak sempat dipelihara lama,” ujar Jamartin.

Albinisme pada Orangutan

Setelah menjalani proses cek medis, Alba dinyatakan albino dengan ciri utama warna rambut putih, mata biru, serta adanya keterbatasan penglihatan. Selain itu, hasil tes menunjukkan Alba hanya bisa melihat jelas dalam jarak sekitar lima meter dan kulitnya lebih rentan terhadap sinar matahari, seperti manusia albino.

“Waktu kita tes semua kriteria, dari mata, kulit, sampai sensitivitas terhadap cahaya, jelas bahwa Alba albino. Inilah yang membuatnya unik, tapi sekaligus rentan,” jelas Jamartin.

Menurut Jamartin, albinisme bisa terjadi jika ada orangutan albino kawin dengan orangutan normal. Dalam kasus itu, sebagian keturunannya bisa menjadi pembawa sifat albino (carrier). Selama karier tersebut kawin dengan orangutan normal, anak-anaknya akan tetap lahir normal. Namun, jika dua individu carrier bertemu dan kawin, maka ada kemungkinan sekitar 25 persen anak yang lahir menjadi albino.

Dengan logika ini, keberadaan Alba mengindikasikan bahwa di masa lalu mungkin pernah ada orangutan albino. Namun, hingga kini, hasil penelitian dan penelusuran yang dilakukan tidak pernah menemukan orangutan dengan kondisi serupa.

“Tapi kan penelitian dan tracing yang kita lakukan dengan segala yang terbatas, nggak pernah ketemu albino. Kita katakan ini albino satu-satunya di dunia, karena nggak pernah ketemu,” paparnya.

Terkait potensi lahirnya spesies dengan kondisi albino, Jamartin menjelaskan jika suatu saat Alba kawin dengan orangutan jantan normal, kemungkinan anak-anaknya akan menjadi pembawa sifat albino.

“Jika kedua anak pembawa sifat ini bertemu dan kawin, maka peluang melahirkan keturunan albino bisa muncul kembali, meskipun sangat kecil, hanya sekitar 25 persen menurut teori biologi,” tambahnya.

Sang Ikon Konservasi

Uploaded content
Alba tidak susah bersosialisasi dengan orangutan lainnya. | Foto: BOS Foundation

Selama menjalani rehabilitasi, tidak ada laporan terkait susahnya Alba beradaptasi, bahkan orangutan lainnya tidak mempermasalahkan perbedaan dalam diri Alba.

“Orangutan lain tidak mempermasalahkan warna rambut, dan Alba juga tidak mempermasalahkan perbedaan itu. Justru ini jadi pesan sosial buat kita, kalau orangutan saja bisa menerima perbedaan, kenapa manusia tidak? Makanya Alba itu menjadi ikon konservasi,” kata Jamartin.

Pada 18 Desember 2018, Alba akhirnya dilepasliarkan bersama individu orangutan lain di kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR). Hanya dalam waktu satu bulan setelah dilepasliarkan, pemantauan tim BOS Foundation mencatat Alba telah mampu beradaptasi secara mandiri.

Karena kondisi fisiknya, BOS Foundation melepasliarkan Alba di hutan hujan yang memiliki kanopi yang lebat, sehingga kondisi tersebut aman bagi Alba dari paparan sinar matahari langsung. Ia juga menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh, termasuk jantung dan paru-paru. Hasilnya, semua normal kecuali keterbatasan yang disebabkan oleh albinisme.


Kondisi Alba Saat Ini

Uploaded content
Alba mudah beradaptasi dengan alam liar setelah direhabilitasi. | Foto: BOS Foundation

Wujudnya yang berbeda sempat memberikan kekhawatiran, tidak hanya terkait perburuan, tetapi juga adaptasi dengan lingkungannya di alam liar.

“Dengan warna putihnya, ancaman utama bagi Alba lebih pada soal adaptasi terhadap lingkungan sekitar, terutama terkait kamuflase,” ungkap Jamartin.

Warna yang cukup mencolok ini jelas akan membuatnya sulit berkamuflase dan terlihat jelas oleh predator.

Meski begitu, dengan segala tantangan yang harus dihadapi Alba, hingga saat ini Alba masih hidup di TNBBBR dengan sehat.

So far, selama kita pantau, dia bisa bersosial, bisa membuat sarang, dan punya karakter yang cukup kuat dengan perilaku liarnya, ia bisa memanjat pohon, makan buat, dan menjelajah,” jelas Jamartin.


Penulis: Nadaa