Khas

Menjaga Harmoni Alam dari Desa: Merayakan Hari Puspa dan Satwa Nasional bersama Masyarakat Mandalare

03/12/2025|Nadaa
Peserta melakukan pengamatan burung di pagi hari di Desa Mandalare Foto NadaaGarda Animalia - Menjaga Harmoni Alam dari D...

Peserta melakukan pengamatan burung di pagi hari di Desa Mandalare. | Foto: Nadaa/Garda Animalia

Garaanimalia.com - Di tengah pesatnya perkembangan di kawasan urban, keberadaan desa-desa yang masih menjalin hubungan dengan alam menjadi aset penting bagi keberlanjutan lingkungan. Salah satunya Desa Mandalare di Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, yang menunjukkan komitmennya dalam menjaga kelestarian puspa dan satwa di sekitarnya.

Dalam rangka memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) 2025 yang jatuh pada 5 November, warga Mandalare bersama Yayasan Cikananga Konservasi menggelar serangkaian kegiatan edukasi pada 26 - 27 November 2025.

Di hari pertama, peserta disambut dengan tarian ekek geling yang dipentaskan oleh warga desa. Empat anak mengenakan kostum burung mengepakkan sayap diiringi musik hadroh, membuat tarian ini unik dan menyenangkan.

Ekek geling jawa (Cissa thalassina) merupakan satwa endemik Jawa Barat yang populasinya terancam dan susah ditemukan. Menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan P.106 Tahun 2018, ekek geling jawa termasuk dalam daftar satwa dilindungi, sedangkan menurut IUCN Red List satwa ini dikategorikan kritis (critically endangered).

“Kalau dulu mau melihat (ekek geling jawa) mudah, sekarang susah,” ujar Agus warga Mandalare yang juga pemandu dalam kegiatan HCPSN 2025, Rabu (26/11/2025).

Uploaded content

Tarian ekek geling menjadi simbol hubungan suci antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. | Foto: Shahnaz/Garda Animalia

Hidup Berdampingan dengan Satwa

Asisten Staf Edukasi Yayasan Cikananga Rizka Malintan yang akrab dipanggil Ica menjelaskan, masyarakat desa sangat berperan dalam pelestarian lingkungan dan makhluk hidup di dalamnya karena masyarakat sudah lama hidup berdampingan dengan alam.

Lokasi desa yang berada di kawasan penyangga Suaka Margasatwa Gunung Sawal membuat seluruh kegiatan warga, seperti pertanian, pemanfaatan air, dan kebutuhan sehari-hari, bergantung pada alam. Hal ini otomatis kesadaran untuk menjaga lingkungan.

“Selama ini masyarakat juga terbiasa menghormati keberadaan satwa dengan tidak mengganggu atau ngeburu. Di sini (Gunung Sawal) masih ada macan, tetapi belum pernah ada konflik dengan warga. Jadi memang ada pemahaman bahwa ada hutan jadi ruang hidup bersama,” ujar Ica pada Garda Animalia, Selasa (2/12/2025).

Ica juga menambahkan beberapa nilai juga masih kuat dijalankan, seperti larangan untuk tidak menebang pohon di sumber-sumber mata air, kebiasaan untuk menjaga tutupan hutan di perbukitan dekat desa, dan adanya batas wilayah hutan desa yang tidak boleh dibuka untuk kebun.

“Selain itu, masyarakat juga masih memegang nilai someah ka alam, yaitu sikap menghormati alam dan satwa sebagai bagian dari kehidupan,” tambahnya.

Keanekaragaman satwa di Desa Mandalare juga terlihat jelas saat pengamatan satwa malam dilakukan. Mulai dari burung cekakak sungai (Todiramphus chloris), ular weling (Bungarus candidus), hingga katak percil jawa (Microhyla achatina) terlihat di sepanjang perjalanan kami saat menyusuri perkampungan di Desa Mandalare.

Uploaded content

Peserta menemukan cekakak sungai saat pengamatan satwa malam. | Foto: Shahnaz/Garda Animalia

Kolaborasi untuk Menjaga Lingkungan

Meski sudah memegang nilai-nilai untuk menjaga harmoni antara manusia dan lingkungan, Yayasan Cikananga tetap melakukan edukasi dan peningkatan kapasitas masyarakat agar keterlibatan mereka sebagai ‘penjaga’ semakin signifikan.

“Kelompok Biodiversitas Mandalare terbentuk secara mandiri dan sukarela ya, sekarang mereka aktif melakukan kegiatan monitoring satwa di jalur-jalur hutan yang mereka buat sendiri, memandu pengunjung, bahkan membantu edukasi lingkungan ke keluarga mereka sendiri,” jelas Ica.

Sebagai penutup, Ia juga menekankan pentingnya peran desa dalam lingkup konservasi karena desa merupakan ruang pertama untuk edukasi, mitigasi konflik satwa-manusia, dan pengembangan ekonomi lokal yang selaras dengan konservasi.

“Pemerintah desa bisa sebagai eksekutor utamanya dalam pelaksanaan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan mitra konservasi. Melalui Peraturan Desa, program desa, dan penguatan kelompok masyarakat, desa dapat memastikan bahwa pengelolaan lingkungan dilakukan secara berkelanjutan,” ujarnya.