Gajah dalam Lingkaran Pemburu

  • Share
Gajah dalam Lingkaran Pemburu
Sekelompok Gajah/Foto: Pixabay

Gardaanimalia – Sebanyak 22 ekor gajah sumatera (Elephas maximus sumatrensis) diumumkan mati oleh Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Lampung Timur, Senin (4/10) lalu.

Kematian gajah sumatera yang diakibatkan perburuan liar selama 10 tahun terakhir ini disampaikan pada peringatan Hari Satwa Sedunia.

Dugaan yang muncul terkait perburuan liar berangkat dari ditemukannya bangkai satwa dilindungi tersebut tanpa gading maupun caling sebutan gading untuk gajah betina.

Sementara itu, Lembaga Swadaya Masyarakat Wildlife Conservation Societies (WCS) mencatat selama kurun waktu 8 tahun (2011—2018), ada 26 ekor gajah ditemukan mati dalam kawasan hutan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Lampung Timur.

Dalam sebuah artikel yang dimuat Republika, aktivis WCS Lampung Timur, Sugio merincikan bahwa sebanyak enam ekor gajah terdiri dari lima jantan dan satu betina ditemukan mati pada 2011.

Tahun berikutnya, satu ekor gajah betina. Lalu tiga ekor gajah yakni satu jantan dan satu betina pada 2013. “Jenis kelamin satunya tidak teridentifikasi karena saat ditemukan tinggal tulang belulang,” terang Sugio.

Kemudian pada 2014, dua ekor gajah ditemukan mati terdiri dari satu jantan dan satu betina. Pada 2015, enam ekor gajah mati yakni lima betina dan satu jantan.

Kematian terus terjadi, begitupun pada 2016, ada tiga ekor gajah mati, satu jantan dan satu betina, serta satu bayi gajah yang dikarenakan sakit.

Selanjutnya, pada 2017, empat ekor gajah mati, satu betina dan tiga lainnya tidak diketahui karena hanya tersisa tulangnya. Terbaru, pada 2018 ini, satu ekor gajah betina berusia sekitar 20 tahun ditemukan mati di Wilayah Resort III Kuala Penet TNWK.

“Faktor penyebab banyaknya perburuan karena adanya celah masuk bagi para pemburu ke dalam hutan TNWK. Mengingat topografi hutan Way Kambas yang bersebelahan dengan pemukiman warga, serta berbatasan dengan laut sehingga petugas kesulitan mengawasinya,” ungkap Sugio, aktivis WCS Lampung Timur, seperti dilansir Antaranews.

TNWK Menolak Angka Kematian Gajah

Saat data kematian gajah dirilis, Kepala Balai TNWK, Subakir, menolak angka yang dilaporkan WCS. Namun, ia mengakui Balai TNWK memang kekurangan petugas. Untuk menjaga 125.621 hektare hutan atau 8 kali luas Jakarta Selatan ini institusi hanya memiliki 50 petugas polisi hutan.

BACA JUGA:
Menakar Kesadaran Warga dalam Melindungi Satwa

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pun mengungkap data yang mengejutkan. Dikatakan bahwa ada 46 kasus kematian gajah terjadi di Aceh dalam kurun waktu 2015–2021. Di mana perburuan liar dan konflik dengan manusia menjadi pemicu tertinggi.

Dikutip dari Antaranews, terdapat 528 kasus konflik gajah dengan manusia di Aceh, yakni pada 2015 sebanyak 49 kasus, 44 kasus pada 2016 dan 103 kasus pada 2017.

Kemudian, sebanyak 73 kasus pada 2018, 107 kasus pada 2019, dan lonjakan konflik mencapai 130 kasus pada 2020. Belakangan, hingga Agustus 2021 terdapat 76 kasus. Dan dari itu semua 46 kasus di antaranya adalah kematian gajah.

Gajah Penyambut Leonardo Tinggal Kenangan

Pada 2018, seekor gajah penghuni Conservasi Respone Unit (CRU) Kabupaten Aceh Timur, Aceh bernama Bunta ditemukan mati mengenaskan.

Semasa hidupnya, Bunta pernah menyambut Leonardo DiCaprio. Kini ia telah mati. Kematiannya pun diduga kuat karena diracun oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Selain Bunta, pada 2019, gajah liar ditemukan mati di kawasan konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) PT Arara Abadi yang diduga akibat perburuan liar.

Gajah ini pertama kali ditemukan seorang karyawan PT Arara Abadi di Desa Tasik Serai Kecamatan Talang Mandau, Bengkalis.

Kendati tidak ditemukannya proyektil peluru, tanda-tanda keracunan dan bekas jerat. Namun kemudian, gajah tersebut diduga mati karena perburuan dengan memotong bagian kepala untuk mengambil kedua gadingnya. Ini didasarkan atas temuan bangkai gajah dalam kondisi tanpa gading.

Pelaku, Pemain Lama dalam Perburuan Gading Gajah

Pun pada April 2020, di Kecamatan Kelayang Kabupaten Indragiri Hulu, Riau terdapat satu gajah sumatera ditemukan mati mengenaskan dengan belalai terputus dari kepala, dan gading yang masih utuh.

BACA JUGA:
Ketika Penangkaran Menjadi Sarang Perdagangan Ilegal

Donny Gunaryadi, Sekretaris Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) mengatakan, yang ditangkap Polres Indragiri Hulu itu, pemburu kambuhan, dan spesialis. Mereka tak jera, karena hukuman tak setimpal dengan kejahatan. Nilai gading jauh lebih besar dibanding lama penjara dan denda yang harus dibayar, mengutip Mongabay.

Diketahui, pelaku bahkan mengaku sebagai petugas BKSDA untuk dapat mengelabui masyarakat yang sedang mengusir gajah yang sempat masuk ke perkebunan sawit tersebut.

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments