Gardaanimalia.com - Di sudut-sudut kota, kicau pleci (Zosterops melanurus) menjadi hal yang akrab di telinga. Dari teras rumah hingga arena lomba, burung kecil ini terus bersahut-sahutan, seolah suaranya tak pernah habis.
Bagi sebagian penghobi, pleci bukan sekadar peliharaan, melainkan bagian dari ritme harian—dirawat, dilatih, dan dipertandingkan. Namun, cerita itu tak sepenuhnya datang dari kota. Di lereng-lereng Gunung Muria, Jawa Tengah, tempat burung ini berasal, suasananya berbeda. Beberapa titik yang dahulu dikenal sebagai tempat terbang bebasnya tak lagi meriah seperti dulu.
Kicau yang seharusnya menjadi penanda kehadiran koloninya mulai terasa keabsenannya, tergantikan oleh sunyi yang terasa asing untuk hutan yang menjadi rumah koloni burung berkicau.
Perubahan ini tidak selalu terlihat secara kasat mata atau tercatat dalam statistik data. Tidak ada penurunan yang tiba-tiba, tidak pula hilangnya populasi secara drastis dalam satu waktu. Namun, bagi mereka yang terbiasa mengamati, pergeseran itu nyata—muncul sebagai pola kecil berulang, dari satu titik ke titik lain.
Di antara ramainya permintaan dari para penghobi kicau mania dan perubahan yang terjadi di habitat alaminya, muncul pertanyaan yang sulit diabaikan: bagaimana sebenarnya hubungan antara keduanya?
Tinggi Peminat, Pleci Muria Terus Dijerat
Pleci muria memiliki ciri yang secara umum serupa dengan jenis pleci lain, terutama pada lingkaran putih di sekitar mata yang menjadi penanda khas kelompok ini, karena itu ia juga dikenal dengan nama burung kacamata.
Di Muria, terdapat dua tipe yang dikenal sebagai endemik Muria, yakni pleci “mata putih” dan “mata cokelat”. Pleci mata putih menjadi yang paling diminati, terutama dalam lomba kicau karena dinilai memiliki volume suara yang lebih kuat serta postur tubuh yang lebih padat atau “bontet”, sehingga tampak lebih unggul secara visual maupun performa.
Sementara itu, pleci mata cokelat memiliki nilai ekonomi yang lebih rendah karena karakteristik tersebut tidak eksklusif atau banyak dijumpai pada pleci di wilayah lain.
Kepada Garda Animalia, Wahono selaku penghobi kicau mania menjelaskan bahwa pleci muria memiliki posisi yang cukup istimewa di kalangan para penghobi.
“Burung ini banyak diminati karena punya karakter suara yang nyaring dan stabil. Apalagi kalau dipakai dalam kontes kicau, banyak sekali yang minat dengan jenis satu ini,” ujarnya pada Jumat (17/4/2026).
Budaya memelihara burung kicau di Indonesia telah lama berkembang sebagai praktik sosial yang kuat. Nilai estetika suara dan identitas spesies menjadi faktor utama dalam preferensi penghobi.
Wahono juga memaparkan bahwa ketertarikan terhadap pleci tidak berhenti pada satu individu. Pleci dikenal sebagai burung koloni yang hidup berkelompok di alam dan aktif berinteraksi. Kondisi ini terbawa hingga ke praktik pemeliharaan. Seekor pleci yang dipelihara sendirian cenderung kurang aktif berkicau, sehingga penghobi biasanya memelihara lebih dari satu individu sebagai “perangsang”.
Dalam praktiknya, kehadiran betina dapat memicu respons vokal dari jantan. Sementara, sesama jantan dimanfaatkan sebagai “viktor” atau burung pancingan.
Pola ini secara tidak langsung membentuk kebutuhan yang melampaui kepemilikan tunggal.
Studi perdagangan burung di Jawa menunjukkan bahwa permintaan tidak hanya didorong oleh keinginan memiliki, tetapi juga oleh dinamika komunitas dan preferensi yang terus berkembang sehingga mendorong konsumsi berulang.
Di dalam komunitas kicau, kompetisi seperti lomba turut memperkuat pola tersebut. Penghobi tidak hanya memelihara, tetapi juga melatih dan mengoptimalkan performa burung.
Pada titik ini, pleci tidak lagi sekadar peliharaan, melainkan bagian dari sistem kompetisi. Akibatnya, permintaan terhadap pleci muria terus bergerak dan tidak sederhana.
Secara lebih luas, tingginya permintaan pasar telah diidentifikasi sebagai pendorong utama perdagangan satwa liar di Indonesia dan berkontribusi pada tekanan terhadap populasi di alam.
Perburuan pleci di alam tidak berlangsung secara acak. Sejumlah studi menunjukkan bahwa aktivitas perburuan cenderung mengikuti pola tertentu dan berulang di lokasi yang sama, terutama pada area yang mudah diakses dan memiliki potensi pertemuan tinggi dengan satwa target.
Pola ini juga tercermin di kawasan Muria, tempat aktivitas perburuan semakin intens sejak pertengahan 2010-an, seiring dengan meningkatnya harga dan popularitas pleci di pasar.
Kepada Garda Animalia, pemerhati lingkungan dari Yayasan Penggiat Konservasi Muria (PEKA MURIA) Setyawan Rahayu mengatakan bahwa lonjakan harga menjadi titik balik.
“Sekitar 2015-an ke atas, perburuan sudah mulai banyak banget. Dari yang harga awalnya puluhan ribu, naik sampai jutaan,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Ia menambahkan, saat ini harga pleci muria hasil tangkapan bisa mencapai jutaan rupiah.
“Burung sejempol, kalau sekarang baru dapat hasil pikatan, harganya minimal sekitar Rp2,5 juta untuk yang dada kuning mata putih. Sementara yang mata cokelat, sepasang pernah dibeli sekitar Rp1,5 juta untuk diternakkan,” jelasnya.
Menurutnya, kenaikan ini berkaitan erat dengan meningkatnya kelas lomba burung kicau yang secara tidak langsung mendorong eksploitasi dari alam.
Dampaknya terlihat jelas di lapangan. Jika sebelumnya pleci dapat dengan mudah ditemukan bahkan di sekitar pemukiman warga, kini keberadaannya semakin sulit dijumpai.
“Dulu sampai depan rumah itu banyak. Sekarang di hutan pun cari satu saja susah,” tambahnya.
Membaca Habitat Potensial Pleci dan Kaitannya dengan Perburuan
Peta tersebut merupakan hasil interpretasi spasial berdasarkan kondisi topografi dan informasi lapangan secara umum, mencakup observasi umum terkait kondisi habitat dan medan, serta pengetahuan mengenai preferensi ekologis pleci muria. Peta itu tidak merepresentasikan lokasi pasti keberadaan pleci muria, melainkan gambaran potensi habitat dan keterjangkauannya.
Berdasarkan analisis tersebut, area yang berpotensi mendukung keberadaan pleci muria cenderung berada pada rentang elevasi menengah hingga tinggi, sekitar 1.100–1.400 meter di atas permukaan laut. Zona-zona ini umumnya berada pada area dengan kontur rapat, seperti lereng dan gunung yang menunjukkan kesesuaian dengan karakter habitat yang dibutuhkan.
Selain itu, pola sebaran area potensial ini juga memperlihatkan keterhubungan secara spasial, membentuk jalur-jalur alami yang memungkinkan pergerakan satwa sekaligus membuka kemungkinan akses bagi aktivitas manusia.
Setyawan juga menjelaskan, pemburu memanfaatkan momen tertentu untuk meningkatkan hasil tangkapan, salah satunya saat musim hujan ketika pleci berkumpul pada pohon-pohon sumber pakan.
“Kalau musim hujan, mereka ngumpul di satu pohon makanan, jadi lebih gampang dapatnya,” jelasnya.
Metode yang digunakan pun relatif sederhana, seperti penggunaan getah (pulut), tetapi efektif dalam jumlah besar, bahkan dalam satu kali perburuan dapat membawa pulang puluhan hingga ratusan individu.
Ketika keberadaan satwa dan aksesibilitas bertemu dalam satu ruang, terbentuklah apa yang dapat disebut sebagai koridor perburuan, jalur yang berulang digunakan karena efisien dan menguntungkan.
Dalam jangka waktu tertentu, tekanan yang terfokus pada jalur-jalur ini mulai membentuk ulang pola persebaran pleci muria, sehingga beberapa area yang sebelumnya aktif perlahan mengalami penurunan, bahkan hilang dari pengamatan.
Nihilnya Nilai Konservasi Penangkaran Sejauh Ini
Di tengah menurunnya eksistensi pleci muria di alam, penangkaran kerap muncul sebagai jawaban yang dianggap mampu meredam tekanan perburuan.
Secara logika, praktik ini menawarkan alternatif: memenuhi permintaan tanpa harus terus mengambil dari alam. Namun, realitas di lapangan tidak sesederhana itu.
Setyawan mengungkapkan bahwa penangkaran yang berkembang saat ini lebih banyak didorong oleh faktor ekonomi dibandingkan upaya konservasi. Burung hasil ternak umumnya hanya dijual kembali guna memenuhi pasar dan tidak dikembalikan ke alam.
“Dibilang efektif sebenarnya tidak juga, karena tujuan ternak itu untuk dijual lagi, bukan dilepasliarkan. Kalau di alam masih banyak, kemungkinan tetap akan diambil dari alam,” tuturnya.
Hal ini menunjukkan bahwa penangkaran tidak selalu mampu menekan eksploitasi satwa liar. dalam kondisi tertentu, penangkaran justru berjalan berdampingan dengan perburuan, terutama ketika permintaan pasar tetap tinggi atau bahkan meningkat. Dalam situasi seperti ini, penangkaran tidak memutus rantai, melainkan menjadi bagian dari sistem yang sama.
Saat ini penangkaran berada di posisi yang ambigu. Di satu sisi, ia menawarkan alternatif. Di sisi lain, ia belum tentu mampu mengurangi tekanan pada populasi liar.
Tanpa pengelolaan yang murni berorientasi pada konservasi, praktik ini beresiko hanya menjadi perpanjangan dari rantai yang sama, yaitu mengisi permintaan tanpa benar-benar menyelesaikan sumber masalahnya.
Kicau di Kota, Senyap di Rimba
Perjalanan pleci muria dari hutan ke sangkar bukanlah peristiwa yang tiba-tiba timbul, melainkan bagian dari sebuah rantai yang saling terhubung. Dimulai dari tingginya permintaan di tingkat penghobi, berlanjut pada pola perburuan yang terstruktur di lapangan, hingga upaya penangkaran yang belum tentu mampu menjadi solusi.
Di kota, pleci terus berkicau menjadi simbol hobi, kompetisis, dan prestise. Namun, di hutan Muria, suara yang sama perlahan menghilang, tergantikan oleh jejak-jejak yang kian sulit ditemukan.
Pertanyaannya kemudian tidak lagi sekadar tentang siapa yang berburu, tetapi bagaimana sistem ini terus berjalan. Ketika permintaan tetap tinggi, jalur perburuan tetap terbuka, dan solusi belum sepenuhnya menjawab akar persoalan, maka tekanan terhadap populasi liar akan terus berulang.
















