Opini  

Kenapa Kita Tidak Boleh Mengultuskan Masyarakat Tradisional?

Harimau bali telah diburu oleh Oskar Vojnich, seorang warga Hungaria. Warga lokal hanya menjadi porter. Gambar diambil di Gunung Gondol, Kabupaten Buleleng, Bali. | Foto: Vojnich Pál/Wikimedia Commons
Harimau bali telah diburu oleh Oskar Vojnich, seorang warga Hungaria. Warga lokal hanya menjadi porter. Gambar diambil di Gunung Gondol, Kabupaten Buleleng, Bali. | Foto: Vojnich Pál/Wikimedia Commons

Gardaanimalia.com – Bayangkan kita adalah bagian dari suatu tim ekspedisi. Kita masuk ke dalam hutan belantara dalam upaya konservasi spesies rusa yang sangat langka.

Orang-orang berlegenda kalau bubuk tanduknya bisa mengobati segala jenis penyakit. Dari selesma sampai kanker. Dari sembelit sampai covid. Karenanya, rusa itu diburu habis-habisan sampai jumlahnya hanya terbilang puluhan.

Di gerbang hutan, kita disambut kelompok penduduk lokal. Mereka diagungkan sebagai penjaga belantara dengan segala kearifannya. Pemerintah menghibahkan sebentang lahan kepada mereka dalam program pelestarian hutan karena konon mereka memegang kunci sakral bagi kehidupan yang harmonis dengan alam.

Upacara penyambutan dan jamuan dimulai. Ritual-ritual diibadahkan. Ada tarian-tarian tradisional yang penuh dengan dentuman gendang. Ada nyanyian-nyanyian yang bergaung bersama pepohonan. Ada sesajian tradisional dari tanaman-tanaman hutan.

Pada puncak sambutan, segelondong hewan panggang yang ditutup oleh daun-daun pisang diarak ke hadapan kita untuk disantap bersama. Ketika sang tetua adat menyibakkan daun pisang itu, ternyata yang dihidangkan adalah rusa langka yang kita cari!

Bertanyalah kita kepada sang tetua adat tentang kegiatan perburuan rusa ini. Ternyata dia memberikan jawaban yang membuat semua terkaget-kaget: oh, ini rusa kesukaan orang kota. Bukannya kalian membeli daging dan tanduknya dengan harga mahal dari kami?

Apa yang perlu kita lakukan? Tetap ikut merayakan adat sebagai tanda hormat? Atau justru memasukkan mereka sebagai ancaman kepunahan?

Ini adalah dilema yang sering kita hadapi ketika membahas hubungan masyarakat tradisional dan kelestarian alam. Kadang kita menemukan para penjaga alam ini ternyata melakukan tindakan yang tidak menjaga alam.

Sebelum membahas masalah ini, perlu kita ketahui dahulu kalau hubungan antara kesejahteraan masyarakat tradisional dan kelestarian alam memang benar adanya. Penelitian oleh Estrada dkk. (2022) menunjukkan bahwa populasi primata yang berada pada kawasan masyarakat adat cenderung lebih stabil ketimbang yang berada di luar populasi.[1]Estrada, A., Garber, P.A., Gouveia, S., dkk. 2022. “Global importance of Indigenous Peoples, their lands, and knowledge systems for saving the world’s primates from extinction”. Science … Continue reading

Pada budaya Sunda tradisional misal, mengganggu kukang dianggap tabu. Di wilayah yang masih menjunjung tabu ini, kukang dapat ditemukan dalam jumlah yang melimpah.[2]Nijman, V. dan Nekaris, K.A. 2014. “Traditions, taboos and trade in slow lorises in Sundanese communities in southern Java, Indonesia”. Endangered Species Research. 25:79-88. Kita juga mengingat bagaimana harimau jawa dan bali dianggap sebagai hewan sakral. Keduanya baru punah setelah koloni Belanda memburunya sebagai hobi.[3]Ashraf, M. 2006. “The extirpation of Bali and Javan tiger: lessons from the past”. Tiger Paper. 33(3): 3-8.

Namun, tidak jarang kita menemukan kasus transaksi hewan-hewan langka yang dilakukan oleh masyarakat lokal. Telur-telur penyu dijajakan sebagai kuliner khas.[4]Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 2013. BKSDA Sumsel Amankan 2.287 Telur Penyu Sisik Dari Upaya Penyelundupan. Begitu pula dengan ikan belida yang diolah menjadi kerupuk di pasar-pasar tradisional Kalimantan.[5]Trisna, R. 2022. Balada di Balik Gurih Kerupuk Belida (Bagian 1). Kanal Kalimantan.

Dahulu, populasi cenderawasih terjun bebas karena penduduk asli tanah Maluku dan Papua menjual burung surga itu kepada pelayar-pelayar Eropa.[6]Pires, T. 1944. The Suma Oriental of Tomé Pires of 1512-1515. McGill University Library (kontributor). London: The Hakluyt Society, 578 hal.

Romantisasi Pengetahuan Tradisional

Mari tinggalkan sebentar bahasan tentang kelestarian hewan dan diskusikan sedikit masalah masyarakat tradisional.
Dalam bukunya Awan Terhimpun Awan Membuyar, Hery Santoso mengkritik keluguan kita yang selalu meromantisasi masyarakat tradisional.[7]Santoso, H. 2020. Awan Terhimpun Awan Membuyar. Interlude: Yogyakarta, xii + 186 hal. ISBN: 9786237676478

Kita menganggap mereka sebagai kaum purba puritan yang selalu menjaga tradisi leluhur. Mereka pasti menolak pengaruh luar dan menjunjung tinggi adat istiadat.

BACA JUGA:
Ketika Monpai Diajak Alih Profesi dari Topeng Monyet ke Youtuber

Padahal, beberapa di antara mereka juga beradaptasi dengan dunia di luar pasak-pasak desa yang mereka buat. Mereka tertarik dengan teknologi mutakhir, mereka mengikuti perkembangan pasar, dan tidak sedikit dari mereka yang secara aktif mendekatkan diri pada dunia modern.

Dampaknya, kita tidak menganggap mereka yang berkehidupan dengan dunia luar sebagai masyarakat tradisional. Mereka dibiarkan begitu saja berinteraksi dengan pasar. Inilah asal mula dari banyak perusakan lingkungan oleh kelompok-kelompok ini.

Kita juga senang menggelorakan pengetahuan tradisional. Adat istiadat dianggap sebagai mantra pembuka bagi rahasia keharmonisan alam. Sains mungkin absolut, tapi tidak ada yang lebih bijaksana dibandingkan kearifan lokal.

Daging trenggiling yang disita di suatu bandara. | Foto: Jmiah12/Wikimedia Commons
Daging trenggiling yang disita di suatu bandara. | Foto: Jmiah12/Wikimedia Commons

Sementara, beberapa pengetahuan tradisional juga dapat menjadi ancaman. Bukankah kepercayaan khasiat pengobatan sisik trenggiling, cula badak, dan gading gajah berakar dari pengetahuan tradisional?

Ini adalah contoh yang terjadi ketika kita hanya mengultuskan pengetahuan tradisional tanpa melihat hubungan dan konsekuensinya terhadap kelestarian alam.

Lalu bagaimana cara kita menyikapinya? Caranya adalah dengan memanusiakan masyarakat tradisional dan segenap pengetahuan yang mereka genggam. Maksudnya, kita tidak boleh memandang mereka sebagai instrumen penyejahtera lingkungan dan asal menyomot pengetahuan mereka.

Setiap masyarakat tradisional punya hak untuk membuka diri pada dunia atau tetap menjadi tertutup. Maka, pertama dan utama, mereka perlu kita bebaskan memilih. Setelah kita tahu putusan itu, barulah kita bisa bergerak.

Kearifan Lokal yang Tetap Lokal

Sepertinya, usaha yang lebih sederhana bisa kita lakukan bagi kelompok yang memutuskan untuk tetap tertutup. Kepada mereka, respon terbaik kita adalah menghormati keputusan itu.

Ada satu hal yang membuat hubungan antara kelompok-kelompok ini dengan alam berbeda dengan masyarakat global. Mereka telah berada pada titik kesetimbangan dengan lingkungan tempat mereka hidup.

BACA JUGA:
Tesso Nilo dan Gajah yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

Mereka berburu, menebang, dan menanam sesuai dengan kebutuhan. Hidup mereka subsisten. Mereka adalah salah satu komponen dalam ekosistem yang stabil.

Inilah yang ditekankan oleh Estrada dkk. (2022) ketika melihat peningkatan kesejahteraan primata yang hidup berdekatan dengan masyarakat tradisional. Mereka tidak melakukan pembabatan hutan dan tidak pula melakukan perburuan yang tidak perlu.

Ketika kita menghormati wilayah masyarakat tradisional, secara langsung kita melindungi habitat primata. Kuncinya adalah mengintegrasikan kelompok masyarakat tradisional dalam satu kesatuan wilayah konservasi.

Persentase primata yang habitatnya beririsan dengan tanah masyarakat tradisional. Secara global, 71% primata hidup berdampingan dengan masyarakat tradisional. IPLs = Indigenous People Lands. | Sumber: Estrada dkk., 2022
Persentase primata yang habitatnya beririsan dengan tanah masyarakat tradisional. Secara global, 71% primata hidup berdampingan dengan masyarakat tradisional. IPLs = Indigenous People Lands. | Sumber: Estrada dkk., 2022

Ini juga berarti, kita perlu membiarkan kearifan lokal agar tetap menjadi lokal. Tidak perlulah memaksakan adat istiadat mereka untuk kawin dengan asas-asas konservasi kita.

Ini karena, pertama, belum tentu kearifan mereka yang lokal mampu beradaptasi pada skala regional, nasional, bahkan global. Kedua, pemaksaan adaptasi ini justru bisa jadi akar dari pelanggaran hak bagi masyarakat tradisional untuk melakukan adat istiadat mereka.

Pentingnya Pendampingan

Tugas yang lebih kompleks adalah mendampingi kelompok yang ingin bergabung dengan dunia luar. Kita perlu dengan hati-hati memperkenalkan nilai-nilai yang baik dan buruk dalam masyarakat global.

Kegagalan pendampingan inilah yang biasa mengubah para masyarakat tradisional dari penjaga lingkungan menjadi moda perusaknya. Masyarakat tradisional rentan dimanfaatkan oleh gairah pasar yang malah berujung pada kerusakan lingkungan dan kemelaratan bagi kelompok ini sendiri.

Ingat, variabel paling beracun bagi masyarakat tradisional ketika mereka bertemu dengan dunia luar adalah uang.
Contoh nyatanya terjadi pada Suku Anak Dalam yang menjual lahan mereka untuk bisnis kelapa sawit atas janji kehidupan masa depan yang lebih baik.[8]Hashina, N. H. 2021. Contoh Fungsi Kearifan Lokal bagi Kelestarian Lingkungan. Tirto.id.

Sampai sekarang, mereka mengaku tidak mendapat satu persen pun keuntungan dari perjanjian ini. Sebaliknya, lingkungan hidup mereka menyempit karena hutan digantikan oleh kebun sawit. Suku Anak Dalam jadi melarat dan habitat jadi rusak.

Karena uang, perburuan berlebihan juga kerap terjadi di dekat kelompok masyarakat tradisional. Fenomena ini mudah kita lihat pada komunitas pesisir.

Ikan napoleon, pari, hingga hiu diburu dan dijual ke luar desa. Ketika ditegur, alasan mereka sama: toh kami sudah memancing ikan-ikan ini dari dahulu kala dan sampai sekarang mereka masih ada.

Mereka tidak paham kalau perburuan yang dulu mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan sendiri berbeda dengan perburuan untuk tuntutan pasar.

BACA JUGA:
Perluasan Perkebunan Kelapa Sawit Jadi Ancaman Bagi Kehidupan Satwa

Maka, kita juga perlu memetakan potensi ekonomi yang selaras dengan kegiatan konservasi, apa pun sektornya. Jika itu agrikultur, kita perlu ikut merencanakan skema perkebunan yang membawa profit tapi juga tidak membabat lahan. Jika itu pariwisata, kita perlu mengedepankan kesejahteraan mereka dan lingkungan di sekitarnya, bukan kesenangan wisatawan.

Di sinilah ada peran penting kearifan lokal. Pengenalan konservasi bisa kita terangkan lewat adat istiadat yang dimiliki oleh masing-masing kelompok.

Kita sudah punya banyak contoh, mulai dari sistem irigasi sawah subak di Bali, lembaga adat Panglima Laot di Aceh yang memastikan stabilitas populasi hewan laut dan kesejahteraan nelayan, hingga keberadaan Situs Keramat Alami di Baduy Dalam.[9]Hashina, N. H. 2021. Contoh Fungsi Kearifan Lokal bagi Kelestarian Lingkungan. Tirto.id. Inilah yang dimaksud ketika berbicara tentang adaptasi yang tepat bagi kearifan lokal ke ranah regional, bahkan global.

Intinya, hubungan antara masyarakat tradisional dan kelestarian alam tidak hanya sebatas pada kearifan lokal. Persepsi ini adalah penyederhanaan yang keliru, bahkan berbahaya.

Potensi yang dimiliki oleh setiap masyarakat tradisional berbeda-beda dari satu kelompok ke kelompok lain. Begitu juga ancamannya.

Sebelum kita memutuskan untuk mengawinkan kearifan lokal dengan kegiatan konservasi, kita perlu tahu dulu apakah dia memang dapat dikawinkan dan kita perlu mendapat penerimaan dari pemegang pengetahuan tersebut.

Nah, sekarang coba pikirkan jawaban untuk pertanyaan pada kisah awal. Kalau bertemu kelompok penjaga hutan yang ternyata menjual rusa langka, apa yang salah dan apa harus kita lakukan?

Referensi[+]

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments