Gardaanimalia.com - Kalau satwa liar yang identik dengan Nusa Tenggara Timur adalah komodo, maka Sulawesi punya anoa!
Informasi dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menyebut ada dua jenis anoa di Indonesia.
Pertama, anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) yang umumnya tinggal di hutan-hutan dataran rendah, tempat mereka dapat lebih mudah menemukan makanan berupa rumput dan dedaunan.
Kedua, anoa pegunungan (Bubalus quarlesi), lebih menyukai wilayah pegunungan yang lebih tinggi. Daerah pegunungan ini menawarkan vegetasi berbeda dan kondisi lingkungan yang lebih sejuk, sesuai dengan adaptasi fisik dan rambut mereka yang lebih lebat.
Catatan berbahasa Belanda yang saya temukan, Eigen haard; geïllustreerd volkstijdschrift 20 April 1912, menyebutkan seorang Belanda bernama Caron membawa tiga ekor anoa yang mereka sebut sebagai “kerbau kerdil yang sangat luar biasa dari Sulawesi, seukuran anak sapi kecil, yang pada masa mudanya berambut cokelat dan hitam”.
Dalam narasi itu disebutkan, anoa ini kemungkinan besar termasuk spesies mamalia baru di wilayah Hindia Belanda kita. Mereka berbeda dari anoa biasa (itu berarti sudah ada jenis anoa yang ditemukan sebelumnya).
Tubuh anoa baru ini lebih ramping dan ringan, serta fakta bahwa pada usia dewasa mereka masih menunjukkan rambut remaja berwarna cokelat seperti anoa biasa, meskipun cenderung ke arah hitam pada jantan.
Dalam struktur tengkoraknya, sapi-hutan menunjukkan kemiripan yang sangat besar dengan kerbau muda, dan karena fosil-fosil dari bentuk yang kini telah punah dan lebih besar telah ditemukan di bebatuan purba di daratan India, hubungan dengan kerbau telah diterima sebagai bukti.
Kerbau, karena keadaan apa pun, telah mencapai tahap perkembangan yang lebih maju; anoa hampir tidak berkembang dan tetap berada dalam salah satu bentuk prasejarahnya.
Anoa adalah buruan berharga bagi para pemburu. Karena tidak umum, kepala hewan semacam itu menjadi trofi berharga bagi mereka. Memburunya juga sangat menarik karena bukan tanpa bahaya.
Satwa ini memiliki beberapa senjata ampuh di tanduknya yang kokoh, membela diri dengan berani dan menyerang jika memungkinkan.
Namun, ketika ditangkap saat masih berusia muda dan diperlakukan dengan baik, mereka bisa menjadi sangat jinak. Dalam catatan itu, terdapat foto anoa yang diambil dari jarak tak lebih dari empat langkah.
Digambarkan bahwa satwa tersebut berlari ke arah tuannya saat dipanggil dan diberi makanan lezat, seperti pisang, sambil mengeluarkan suara-suara.
Dua naskah dalam bahasa Belanda yang terbit pada 1910-an ini mengindikasikan bahwa anoa dipandang sebagai satwa eksotis dan sudah menjadi buruan.
Penelitian tentang Anoa dan Kondisinya Kini
Staf pengajar ekologi satwa liar dari IPB University Abdul Haris Mustari menyampaikan bahwa dirinya menjadikan satwa ini sebagai obyek penelitian sejak 1990-an.
Pada waktu itu, anoa belum banyak diketahui orang sehingga menarik untuk diteliti. Abdul Haris bercerita, pertama kali melihat anoa langsung di Kebun Binatang Ragunan sewaktu studi S1 di Fakultas Kehutanan IPB saat melakukan Praktik Lapang.
Kemudian, setelah mengambil program magister kemudian doktoral, ia dapat melihat langsung anoa di habitat aslinya di Sulawesi. Terhitung sejak 1994 sampai saat ini, berarti sudah sekitar tiga puluh tahun ia meneliti anoa.
“Selama itu saya sudah lebih dari 60 kali melihat langsung anoa di habitat aslinya di Sulawesi ketika melakukan penelitian dan beberapa kali ekspedisi,” ungkap Haris Mustari kepada Garda Animalia, 10 Agustus 2025.
Saat ini populasi anoa menurun drastis, terutama karena berkurangnya habitat alami berupa hutan primer (hutan dataran rendah dan pegunungan), serta perburuan liar.
Habitat mereka berkurang secara jumlah dan kualitas karena deforestasi, fragmentasi habitat, konversi hutan menjadi areal perkebunan sawit, pertambangan (nikel dan emas), serta menjadi areal transmigrasi.
Anoa kadang masuk ke kebun penduduk yang berbatasan langsung dengan hutan. Anoa masuk kebun untuk mencari makan berupa trubusan-trubusan muda (coppice) sesaat setelah pemilik kebun membersihkan lading atau kebunnya.
Terkadang anoa juga makan tanaman perkebunan, seperti pisang, ubi jalar, jagung, padi gunung, dan palawija. Namun, itu agak jarang terjadi karena anoa sesungguhnya penghuni hutan sejati (forest-dependent species).
Anoa lebih menyukai habitat berhutan lebat atau hutan primer, serta kawasan dengan sumber air yang cukup, seperti sekitar sungai, danau, dan rawa serta hulu-hulu sungai dan air terjun.
Satwa Pemalu dan Sensitif
Anoa termasuk satwa yang sangat pemalu dan sensitif akan kehadiran manusia, sehingga selalu menghindar dari lingkungan manusia. Akan tetapi, anoa terkadang dapat ditemukan oleh masyarakat yang masuk hutan, terutama penebang liar, pencari rotan, madu, dan hasil hutan lainnya.
Tidak ada mitigasi khusus yang diperlukan jika bertemu dengan anoa karena satwa ini selalu menghindari perjumpaan dengan manusia. Hanya saja, dalam kondisi tertentu, misalnya anoa yang terluka karena perkelahian sesama atau induk anoa yang sedang menjaga anak, akan bersikap lebih agresif. Karena itu, dua kondisi ini perlu dihindari oleh manusia.
Selain luka dan induk yang punya anak, maka anoa pasti menghindar dari manusia. Penciuman (olfactory system) anoa yang sangat tajam membuatnya mampu melarikan diri secepat kilat ke hutan yang lebih dalam untuk menghindari lingkungan manusia.
“Konservasi habitat dan populasi anoa mesti dilakukan bersama para-pihak, termasuk NGO nasional dan internasional, serta pengusaha agar peduli anoa dan satwa lain yang terancam punah, seperti babirusa, monyet hitam sulawesi, tarsius, maleo, dan sebagainya,” pungkas peraih doktor bidang Pengelolaan Sumberdaya Alam, University of New England, Armidale, Australia yang lulus pada Oktober 2003 ini.
Berapa jumlah anoa? Sebuah artikel yang ditulis Betahita.id pada 1 April 2024 mengungkapkan kisah seorang mantan pemburu anoa dengan Panji Ariyo Kresna, Manager Program Lapangan, Aliansi Konservasi untuk Tompotika.
Mantan pemburu itu bercerita, dahulu mereka bisa mendapatkan sepuluh ekor anoa dalam sekali pergi berburu ke hutan, "Tapi sekarang mendapati 1 ekor anoa di hutan adalah keberuntungan.”
Peneliti Spesies Yayasan Auriga Nusantara, Riszki Is Hardianto, mengatakan bahwa di periode sebelumnya, yaitu 2009, jumlah populasi anoa dataran rendah diperkirakan masih berada di sekitar angka 5.000 individu.
Artinya, bila pada 2014 angka populasinya jadi sekitar 2.499 individu, maka bisa dikatakan separuh populasi anoa dataran rendah hilang hanya dalam waktu kurang lebih 5 tahun.
Perlu upaya keras agar satwa khas Sulawesi ini tidak tinggal kenangan dalam sejarah seperti halnya harimau jawa.















