Edukasi

Lucu di Layar, Menderita di Kandang: 5 Alasan Mengapa Otter Lebih Bahagia di Alam Liar

24/04/2026|Haifa Nur Raidah
Otter mamalia semiakuatik berada di sekitar habitat lahan basah Foto Catherine Leclertpexelscom - Lucu di Layar Menderita...

Otter mamalia semiakuatik berada di sekitar habitat lahan basah. | Foto: Catherine Leclert/pexels.com

Gardaanimalia.com - Berang-berang, atau yang kerap disebut otter, merupakan mamalia semiakuatik dari keluarga Mustelidae. Wajahnya yang menggemaskan, tingkahnya yang aktif, serta sifatnya yang interaktif menjadikan otter salah satu hewan paling populer di kalangan penghobi satwa eksotik. 

Sayangnya, penjualan otter sebagai hewan peliharaan kini semakin marak di berbagai platform media sosial dan situs jual beli daring. Mulai dari otter dewasa hingga bayi otter ditawarkan dengan iming-iming "cepat bonding" bersama pemiliknya. 

Fenomena ini tentu mengkhawatirkan. Otter adalah satwa liar, dan tidak semua perdagangan tersebut memperhatikan aspek kesejahteraan hewan. Menurut Aditya Yudhana, dosen satwa liar di Fakultas Kedokteran Hewan FIKKIA Universitas Airlangga (UNAIR), perdagangan hewan eksotik di Indonesia tidak sepenuhnya berasal dari hasil budidaya. Mayoritas penjual justru menangkap hewan-hewan tersebut langsung dari habitat aslinya. 

"Jangan sampai terjadi eksploitasi untuk hobi yang tidak bertanggung jawab," tegasnya, Kamis (6/3/2025). 

Di Indonesia, otter bukanlah hewan yang boleh dipelihara sembarangan. Terdapat beberapa spesies otter yang hidup di Indonesia dan tergolong hewan langka, bahkan masuk dalam daftar satwa dilindungi karena populasinya yang terus menyusut hingga mendekati status hampir punah.

Tertulis pada Garda Animalia, terdapat tiga jenis, yaitu berang-berang hidung berbulu (Lutra sumatrana), berang-berang bulu licin (Lutrogale perspicillata), dan berang-berang eurasia (Lutra lutra). 

Ketiga jenis berang-berang tersebut dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P106 Tahun 2018, sehingga memeliharanya dapat berujung pada sanksi hukum. 

Menurut IUCN Otter Specialist Group, terdapat beberapa alasan mengapa berang-berang perlu hidup di alam bebas, di antaranya adalah: 

1. Bergantung pada Habitat Lahan Basah

Otter merupakan hewan yang sangat bergantung pada habitat lahan basah, seperti sungai, danau, rawa, hingga pesisir laut. Lingkungan tersebut menjadi wilayah hidup yang ideal bagi mamalia tersebut karena menyediakan akses air bersih, vegetasi yang rimbun sebagai tempat berlindung, serta ketersediaan mangsa alami yang stabil. Keberadaan otter di suatu wilayah menjadi indikator kesehatan ekosistem tersebut. 

Jika mereka menghilang, itu merupakan tanda bahwa kualitas lingkungan di kawasan tersebut sedang menurun. Hal ini sering terjadi akibat berkurangnya vegetasi di bantaran sungai, rusaknya lahan basah, serta polusi air yang mengancam populasi mereka. Kondisi habitat yang terjaga sangatlah penting karena otter membutuhkan akses cepat menuju perairan untuk melarikan diri dari ancaman predator saat berada di sarang. 

Di habitat yang ideal inilah, mereka mendapatkan ruang yang luas untuk melakukan aktivitas alaminya, mulai dari bermain, berenang, hingga berburu mangsa. 

2. Hewan dengan Kelompok Sosial

Satwa ini merupakan hewan sosial yang berkelompok. Hal ini dilakukan untuk menjaga keamanan, bermain bersama, dan mendukung kelangsungan hidup kelompok mereka. Secara umum, struktur sosial hewan ini terdiri dari induk dan anak-anaknya, sementara pejantan biasanya cenderung hidup menyendiri atau berkelompok kecil dengan sesama jantan, tergantung pada spesiesnya. 

Varian struktur sosial ini sangat beragam, ada spesies yang lebih sering terlihat sendiri, namun ada juga yang membentuk kelompok dalam jumlah besar, seperti berang-berang cakar kecil (Amblonyx cinerea) yang hidup berkelompok sebagai keluarga dengan anggota hingga 20 ekor.

Meski memiliki ikatan sosial yang kuat dalam kelompok tersebut, mereka tetap cenderung melakukan aktivitas berburu secara mandiri. 

3. Penjaga Keseimbangan Populasi di Ekosistem Perairan 

Kehadiran otter di suatu wilayah bukan sekadar menjadi pelengkap keindahan, melainkan indikator vital bahwa habitat tersebut masih dalam kondisi sehat dan produktif. Sebagai predator puncak di lingkungan perairan, mereka memegang peran strategis dalam menjaga rantai makanan agar tetap stabil. 

Jika predator seperti otter menghilang, hewan-hewan kecil seperti ikan herbivora atau kepiting akan mengalami overpopulasi. Ledakan jumlah populasi ini bisa berdampak fatal bagi lingkungan, misalnya ikan-ikan kecil akan mengonsumsi tumbuhan air secara berlebihan hingga habis. 

Tanpa vegetasi air yang cukup, kadar oksigen dalam air akan menurun dan tempat pemijahan ikan lainnya akan rusak. Secara alami, keberadaan otter membantu mengontrol jumlah populasi ikan, kepiting, kadal air, hingga satwa kecil lainnya agar tetap seimbang. Dengan mengendalikan jumlah mangsa tersebut, mereka secara tidak langsung memastikan kelestarian ekosistem di sungai, danau, rawa, hingga wilayah pesisir. 

4. Kebebasan Berperilaku Alami 

Di habitat aslinya, otter adalah penjelajah tangguh dengan wilayah jelajah yang sangat luas. Keleluasaan ruang ini sangat penting karena mereka merupakan hewan yang sangat sensitif terhadap gangguan suara. Kebisingan dari aktivitas manusia atau kendaraan dapat memicu stres berat yang berdampak pada kesehatan fisik maupun mental mereka. 

Di alam bebas, otter memiliki kendali penuh untuk menjauh atau mengisolasi diri dari gangguan dan menentukan sendiri wilayah hidupnya. 

Otter juga akan menggunakan kumis sensitif dan cakarnya untuk mengeksplorasi pakan di sela-sela bebatuan. Aktivitas berburu dan mencari makan secara mandiri ini merupakan stimulasi kognitif yang menjaga mereka tetap aktif dan cerdas. 

Kebutuhan biologis lainnya adalah akses terhadap berbagai variasi tekstur di lingkungan sekitarnya. Otter sangat menyukai material alami seperti tanah, semak-semak, dan rerumputan. Berbagai material ini digunakan sebagai sarana untuk melakukan grooming agar bulu mereka tetap dalam kondisi prima, bersih, dan kedap air. 

Tanpa adanya variasi lingkungan dan akses terhadap tekstur alami ini, kesejahteraan hidup otter tidak akan pernah terpenuhi secara optimal.

5. Pemenuhan Insting Berburu dan Nutrisi Seimbang 

Sebagai predator yang cerdas, otter membutuhkan tantangan fisik dan mental dalam mendapatkan mangsanya. Di alam bebas, mereka mengkonsumsi beragam mangsa segar seperti ikan, krustasea, hingga amfibi yang berganti sesuai musim. Proses mengejar dan menangkap mangsa ini menjadi stimulasi yang penting untuk menjaga insting mereka tetap tajam dan menghindari stres akibat rasa bosan. 

Di alam bebas, otter memiliki otonomi penuh untuk memilih nutrisi yang dibutuhkan tubuhnya secara alami berdasarkan naluri. Hal ini sangat sulit ditiru di lingkungan domestik, di mana pemberian pakan cenderung monoton dan sering kali tidak memenuhi standar gizi seimbang bagi satwa liar. 

Ketidakmampuan pemenuhan nutrisi yang tepat ini dalam jangka panjang dapat memicu berbagai masalah kesehatan serius bagi otter. 

Jangan biarkan wajah lucu mereka menjadi alasan untuk terus mengurungnya. Di balik ekspresi menggemaskan itu, ada kebutuhan untuk bergerak, berenang bebas, dan hidup sebagaimana mestinya di alam liar. Ketika ruang gerak mereka dibatasi oleh kandang besi dan kolam sempit, yang hilang bukan hanya mereka tapi keseimbangan ekosistem.