Edukasi

Memutus Rantai Trauma: Mengapa Simpati untuk ‘Punch’ Harus Dimulai dari Negeri Sendiri

11/03/2026|Filasafia Marsya
Punch bayi monyet di Kebun Binatang Ichikawa Jepang memeluk boneka karena kehilangan induknya Foto Xichikawazoo - Memutus...

Punch, bayi monyet di Kebun Binatang Ichikawa, Jepang memeluk boneka karena kehilangan induknya. | Foto: X/@ichikawa_zoo

Gardaanimalia.com - Belakangan ini, linimasa media sosial dibanjiri oleh video yang menyayat hati dari Jepang. Seekor bayi monyet makaka (Macaca fuscata) bernama Punch menjadi sorotan dunia karena ditolak oleh induknya sejak lahir. Penolakan itu membuat Punch mencari rasa aman dengan memeluk erat sebuah boneka orangutan ke mana pun ia pergi.

Ribuan komentar dari warganet, termasuk dari Indonesia, mengalir deras. Semua merasa iba, marah saat melihatnya dirundung monyet lain, dan bersimpati pada trauma psikologis yang dialami oleh Punch. 

Uploaded content
Punch dengan boneka orangutan. | Foto: YouTube/@zoo-at-home

Simpati publik terhadap Punch membuktikan satu hal bahwa manusia sebenarnya memiliki hati nurani untuk merasakan penderitaan satwa. Namun, di tengah gelombang simpati global ini, ada sebuah ironi besar yang terjadi tepat di depan mata, di jalanan kota hingga pelosok kabupaten di Indonesia.

Jika Punch menderita karena induknya enggan merawatnya secara alamiah, ribuan bayi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Indonesia justru dirampas paksa dari pelukan induk yang sangat mencintai mereka demi sebuah hiburan bernama topeng monyet. Padahal, sebenarnya telah terdapat larangan atraksi topeng monyet di berbagai daerah di Indonesia.

Perjalanan seekor monyet menjadi ‘penghibur’ sering kali dimulai dengan sebuah siksaan sistematis yang sangat kejam. Para pemburu tak jarang harus menembak mati sang induk agar bayi yang menempel erat di dadanya bisa direbut.

Praktik brutal di balik perdagangan satwa liar ini juga diungkap oleh peneliti Guy Cowlishaw dan Robin Dunbar dalam publikasi yang berjudul Primate Conservation Biology yang dipublikasikan pada September 2000.

“Bayi primata yang dijual biasanya diperoleh dengan membunuh induknya karena anak primata menempel erat pada tubuh induk dan sulit ditangkap dengan cara lain,” jelas Cowlishaw dan Dunbar.

Bukan Hanya Punch yang Jauh Dari Pelukan

Seperti halnya Punch, bayi-bayi monyet di Indonesia ini sangat membutuhkan figur ibu untuk perkembangan mental dan fisiknya. Tragedinya, mereka tidak diberi boneka untuk dipeluk, melainkan disambut oleh dinginnya rantai besi.

Setelah diculik dari habitatnya, bayi-bayi monyet kemudian melewati masa pelatihan yang menyiksa raganya. Secara alami, monyet berjalan dengan empat kaki. Namun, untuk memaksa mereka berjalan tegak layaknya manusia, tangan mereka akan diikat ke belakang dan leher mereka digantung selama berbulan-bulan. 

Uploaded content
Monyet ekor panjang yang dirantai demi atraksi topeng monyet di Jalan Sudirman Bogor (2017) | Foto: Wikimedia Commons/Anton Ardyanto
Dalam liputan Daily Maildijelaskan ketika monyet yang kelelahan mencoba menurunkan kakinya, rantai di leher mereka akan otomatis menjerat dan mencekik. Kepatuhan yang mereka tunjukkan di jalanan bukanlah hasil kecerdasan, melainkan buah dari rasa takut dan lapar yang dijadikan senjata oleh para pawang. Hewan-hewan ini hanya diberi makan jika berhasil melakukan trik, sementara kegagalan sering kali dibalas dengan pukulan.
Eksploitasi ini bukan hanya menjadi neraka bagi satwa, tetapi juga menimbulkan ancaman nyata bagi kesehatan publik. Pemeliharaan yang buruk, tingkat stres yang tinggi, serta interaksi langsung dengan penonton menjadikan monyet-monyet tersebut berpotensi menjadi reservoir berbagai penyakit menular.
Dalam studi yang diterbitkan di American Journal of Primatology pada tahun 2008, Jones-Engel menyebut, “Primata non-manusia dapat menjadi reservoir berbagai patogen zoonosis, termasuk tuberkulosis, virus hepatitis, retrovirus simian, dan herpes B, yang dapat menular ke manusia melalui gigitan, cakaran, atau kontak dengan cairan tubuh.”

Viralnya kisah Punch seolah membuka mata dunia bahwa primata bukan sekadar satwa liar, melainkan makhluk cerdas, sosial, dan emosional. Mereka mampu merasakan kesepian, ketakutan, serta rasa sakit.

Ketika publik dapat terenyuh melihat seekor bayi monyet memeluk boneka di negeri lain, simpati yang sama semestinya juga diarahkan pada realitas yang terjadi di sekitar. Rasa iba tidak cukup berhenti sebagai emosi sesaat, ia perlu diwujudkan dalam keberanian untuk menolak eksploitasi di tanah air sendiri.

Dalam Mongabay, dijelaskan sejak Maret 2022, The International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan monyet ekor panjang berstatus terancam punah (endangered). Bukan tanpa alasan, IUCN bahkan memprediksi populasi mereka akan terus menurun hingga 40 persen dalam kurun waktu 42 tahun.

Penurunan ini mencerminkan tekanan besar terhadap kelangsungan hidup spesies tersebut, termasuk akibat perdagangan dan eksploitasi untuk hiburan.

Oleh karena itu, simpati yang telah muncul di ruang publik perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Salah satu langkah paling kuat adalah berhenti menjadi penonton dan tidak memberikan uang kepada pelaku topeng monyet.

Selama masih terdapat permintaan dan keuntungan finansial, praktik ini akan terus berlanjut. Ketika dukungan ekonomi terputus, rantai kekejaman tersebut kehilangan dasar untuk bertahan.

Selain itu, edukasi memiliki peran penting dalam mendorong perubahan. Penting untuk menyampaikan kepada keluarga dan lingkungan sekitar bahwa praktik topeng monyet bukanlah hiburan, melainkan bentuk eksploitasi terhadap satwa. Tindakan proaktif dengan melaporkan setiap pertunjukan kepada lembaga perlindungan satwa atau otoritas terkait juga menjadi bagian dari upaya menghentikan praktik ini.

Kekejaman tidak pernah pantas dijadikan tontonan, dan tidak boleh ada lagi bayi monyet yang mati perlahan di ujung rantai eksploitasi hanya demi selembar uang ribuan rupiah.