Edukasi

Merebut Kembali Habitat Sang Burung Romantik, Maleo

11/08/2025|Hasbi
Burung maleo Macrocephalon maleo Foto Andrew SpenchereBird - Merebut Kembali Habitat Sang Burung Romantik Maleo

Burung maleo (Macrocephalon maleo). | Foto: Andrew Spencher/eBird

Gardaanimalia.com - Sepasang burung endemik asal Sulawesi, berjingkat-jingkat di pasir putih, tampak seperti menari.

Mereka mengibas ekornya dan seolah mengubur sesuatu. Jarang sekali, tetapi jika beruntung, mereka dapat ditemui di hutan dan pesisir. Rambutnya megah dan unik. Bahkan tampak seperti ada konde di atas kepalanya.

Tak seperti burung pada umumnya yang mengerami telur, mereka justru mengubur telur ke dalam pasir hangat sedalam 50 sentimeter. Pasir itulah yang berfungsi sebagai inkubator alami. Setelah 60 sampai 80 hari, telur pun menetas.

Burung itu amat ikonik, hingga dijadikan sebagai identitas daerah. Tak jarang kita temukan tugu, patung hingga lambang di sejumlah logo di pulau sana.

Ia bernama maleo senkawor. Memiliki nama latin Macrocephalon maleo, satwa dilindungi ini adalah satwa yang langka, baik secara fisik maupun psikisnya.

Secara fisik, ia merupakan satwa dengan jumlah populasi yang terus menurun sebab ulah manusia. Perburuan telur, juga kerusakan habitat, menyebabkan burung yang didominasi warna hitam ini masuk dalam kategori terancam punah (critically endangered) menurut IUCN Red List.

Secara psikis, sifatnya juga jarang ditemukan di makhluk lainbahkan manusia, di mana ia adalah makhluk yang setia dan romantis kepada satu pasangannya.

Selama hidupnya burung maleo hanya akan menikah sekali dan tidak kawin dengan betina lainnya. Jika salah satu pasangannya mati, dia akan ikut mati.

Ketika sang burung betina bertelur, sang jantan akan mendampinginya sampai lokasi bertelur. Keduanya menggali pasir secara bergantian untuk anak mereka selama 3-4 jam.

Hal ini bergantung dengan tekstur dan temperatur tanah. Burung ini memastikan kedalaman suhu akan cocok dengan temperatur telur untuk menetas.

Pada umumnya maleo betina akan masuk lubang untuk bertelur dan sang jantan berada di pinggir lubang untuk melakukan pengawasan.

Selama 2-5 menit, selesai bertelur sepasang maleo tersebut kemudian menimbun lubang tersebut dengan pasir galian.

Galian dari penimbunan tersebut tampak tak berbekas. Selain itu ketika membuat lubang untuk bertelur, keduanya akan menggali lubang lain di sekitar tempat telur itu untuk menyamarkan dari predator.

Setelah melakukan penimbunan, keduanya tidak langsung terbang. Mereka beristirahat, bahkan terkadang mencari makanan. Namun, jika ada gangguan terhadap lubang tersebut, mereka lantas bergerak menuju sana.

Senior Biodiversity and Conservation Officer Burung Indonesia Jihad mengatakan, pada dasarnya burung maleo hanya bertelur sebutir dalam semusim.

Faktor ini juga membuat keberadaan satwa ini kian berkurang, selain dari (aktivitas manusia) seperti pembukaan lahan, deforestasi dan izin tambang,” jelas Jihad melansir Betahita.

Telurnya juga cukup besar. Lima kali lipat lebih besar dari telur ayam biasa. Saking besar telurnya, setelah bertelur biasanya maleo betina akan pingsan karena kehabisan tenaga.

Maleo, Batui, dan Hutan Keramat

Bagi masyarakat adat Batui di Sulawesi Tengah, keberadaan maleo menjadi amat penting.

Betapa tidak, burung maleo bagi mereka adalah makhluk yang disakralkan.

Bahkan mereka memiliki sebuah ritual bernama Mombowa Tumpe, di mana orang-orang Batui melakukan penyerahan berupa telur maleo kepada masyarakat adat Banggai dan berlangsung ratusan tahun lamanya.

Bagi mereka, memakan bahkan membunuh maleo, dipercayai akan mendatangkan musibah.

Sedangkan masyarakat adat Batui telah lama menjaga hutan adat Bakiriang, sebuah hutan keramat bagi masyarakat batui dan habitat asli burung maleo sebelum menjadi suaka margasatwa.

Maleo dan telurnya dikeramatkan dengan populasi yang terus terjaga. Namun, setelah negara membuka dan mengeluarkan izin eksploitasi hutan di hutan Bakiriang pada 1996, semua mulai berubah.

Maleo kemudian menjadi satwa yang berada garis batas kepunahan.

Sekarang hanya dapat ditemukan dua hingga empat ekor perjumpaan dengan maleo di hutan Bakiriang.

“Pada 1991, bisa menyaksikan hingga 200 burung maleo. Akibat habitat yang hancur dan perburuan ilegal,” jelas Ahli Biologi Konservasi Mochamad Indrawan kepada BBC Indonesia.

Menurut Pemuda Adat Masyarakat Batui, Abdiwaldi Ahmad Maleto mengatakan bahwa di zaman sekarang, menemukan maleo lebih sulit dengan mata telanjang.

Dengan hilangnya maleo, artinya juga menghilangkan ritual yang biasa dilakukan oleh masyarakat Batui selama 400 tahun lamanya.

“Hilangnya burung maleo sama artinya dengan hilangnya adat dan budaya kami,” kata Abdi.

Merebut Hutan Adat yang Hilang

Dedaunan sawit saling berebut menjulang ke langit di Suaka Margasatwa Bakiriang, Desa Sinorang, Kecamatan Batui Selatan, Banggai, Sulawesi Tengah.

Tanaman-tanaman itu berjejer rapi. Ada yang berbuah, ada yang tidak. Kawasan yang dahulu hutan, lebat dan dirimbuni beragam tumbuhan kini sudah tergantikan.

Hutan adat masyarakat Batui tersebut telah berubah setelah negara mengambil alih menjadi kawasan konservasi seluas 3.900 hektar pada 1989.

Namun pada tahun yang sama, PT Berkat Hutan Pusaka (BHP) mendapat izin usaha pengelolaan hasil hutan kayu hutan tanaman industri (HTI) seluas 13.400, yang mana berdekatan dengan Bakiriang.

Dalam laporan Mongabay, Ketua Adat Masyarakat Batui Thalib Agama mengatakan hutan adat diambil negara tanpa sepengetahuan masyarakat.

Tak ada sedikitpun informasi dan komunikasi pemerintah,” jelasnya.

Padahal hutan Bakiriang mereka jaga ketat, di mana pengurus adat setiap minggu mesti bergantian menjaga hutan dari kerusakan apapun.

“Masyarakat berpikir dua kali menginjakkan kaki di hutan karena takut mendapatkan hukuman. Penjagaan hutan merupakan amanah dari leluhur,” jelas Thalib.

Setelah beralih kepada negara, habitat asli dari maleo tersebut kemudian berubah wajah. Negara, kata dia, tidak mampu menjaga hutan Bakiriang.

Hutan Bakiriang berubah tak seperti dulu. Hutan rimbun dengan pohon-pohon besar dahulu. Kini berubah setelah negara ambil alih, sudah ada perusahaan sawit di dalamnya,” kata Thalib.

Thalib berharap negara mengembalikan hutan adat Bakiriang ke masyarakat Batui, agar hutan tersebut kembali lestari sedia kala.

Penurunan populasi maleo juga disebabkan oleh perambahan hutan, khususnya di Bakiriang. Perkebunan sawit telah merusak habitat maleo.

Menurut Juru Kunci Hutan Bakiriang Djaling Sopyan melalui BBC Indonesia, penurunan populasi maleo disebabkan oleh perkebunan sawit yang telah merusak habitat maleo.

Selain itu, manusia yang semakin banyak beraktivitas di dalam hutan memperparah keadaan.

Pemangsa maleo itu banyak. Di udara ada elang, di tanah ada ular dan biawak, tapi tidak habis itu burung maleo. Tetap masih banyak. Pemangsa yang paling buruk adalah manusia,” tukas Djaling.