Mendalam

Peneliti Internasional Peringatkan 8.000 Spesies Satwa Punah Akhir Abad 21, Apa Penyebabnya?

29/12/2025|Irvan Sjafari
Ilustrasi gajah sumatera salah satu spesies terancam punah akibat perubahan iklim dan penggunaan lahan Foto Sofian Raffle...

Ilustrasi gajah sumatera, salah satu spesies terancam punah akibat perubahan iklim dan penggunaan lahan. | Foto: Sofian Rafflesia/Wikimedia Commons

Gardaanimalia.com - Jika perubahan iklim akibat emisi karbon tidak berhasil dihambat, generasi mendatang terancam tak lagi dapat melihat gajah, penyu laut, ikan paus, hiu, dan banyak spesies lain di alam liar.

Situasi ini serupa dengan kondisi anak-anak saat ini yang hanya mengenal harimau jawa dan harimau bali—dua spesies yang telah lama punah—melalui dokumentasi terbatas.

Peringatan tersebut disampaikan Tim Peneliti Internasional yang dipimpin Dr. Reut Vardi dari School of Geography and the Environment, University of Oxford. Mereka memperkirakan hampir 8.000 spesies hewan berisiko terancam punah pada akhir abad ini.

Ancaman kepunahan itu dipicu oleh interaksi antara panas ekstrem akibat perubahan iklim dan perubahan penggunaan lahan oleh manusia, yang secara bersamaan menciptakan kondisi habitat yang semakin tidak layak bagi satwa liar.

Studi berjudul "Dampak Panas Ekstrem Iklim Masa Depan dan Perubahan Penggunaan Lahan terhadap Vertebrata Darat", yang diterbitkan di jurnal Global Change Biology, menilai hampir 30.000 spesies amfibi, burung, mamalia, dan reptil.

Para peneliti menelaah bagaimana proyeksi panas ekstrem di masa depan serta perubahan penggunaan lahan memengaruhi spesies berdasarkan preferensi habitat dan batas toleransi suhu mereka.

Dr. Reut Vardi mengatakan, penelitian tersebut menegaskan pentingnya mempertimbangkan berbagai ancaman secara bersamaan untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat tentang risiko kepunahan.

“Hal ini lebih lanjut menekankan urgensi tindakan konservasi dan mitigasi secara global untuk mencegah kerugian besar terhadap keanekaragaman hayati,” ujanya di laman University of Oxford, 9 Desember 2025.

Pada tahun 2100, hingga 7.895 spesies diperkirakan akan menghadapi panas ekstrem, perubahan penggunaan lahan yang tidak sesuai, atau kombinasi keduanya di seluruh wilayah sebarannya—kondisi yang dapat menempatkan mereka pada risiko kepunahan global.

Dari empat skenario yang dieksplorasi dalam penelitian tersebut, skenario terburuk menunjukkan spesies dapat mengalami kondisi habitat yang tidak sesuai di lebih dari separuh wilayah sebarannya, atau sekitar 52 persen secara rata-rata.

Bahkan dalam skenario paling optimis, spesies masih akan menghadapi kondisi habitat yang tidak sesuai akibat kedua faktor tersebut di sekitar 10 persen wilayah sebarannya.

Gabungan dampak perubahan iklim dan perubahan penggunaan lahan diproyeksikan paling parah terjadi di wilayah padang sabana Afrika Sub-Sahara, Timur Tengah, dan Brasil.

Temuan ini sejalan dengan ulasan International Fund for Animal Welfare (IFAW) pada 26 Maret 2025. Melalui analisis Platform Antarpemerintah untuk Sains-Kebijakan tentang Keanekaragaman Hayati dan Jasa Ekosistem (IPBES), IFAW mengungkapkan sekitar satu juta spesies hewan dan tumbuhan kini berada dalam ancaman kepunahan.

Pada 2024, perubahan iklim tercatat mengancam lebih dari 14.000 spesies yang masuk dalam Daftar Merah IUCN. Proyeksi menunjukkan, jika suhu global meningkat 2 derajat celsius pada 2100, sekitar 18 persen spesies darat akan menghadapi risiko kepunahan yang tinggi.

Spesies yang lebih sensitif akan mengalami dampak lebih parah. Lebih dari 30 persen serangga penyerbuk dan salamander diperkirakan menghadapi risiko tinggi dalam skenario tersebut.

Satwa yang Paling Terdampak

IFAW mencatat sedikitnya 12 spesies satwa yang paling terdampak secara negatif oleh kenaikan suhu laut, pencairan es, dan perubahan pola cuaca akibat perubahan iklim. Berikut ulasannya:

Penyu Laut

Penelitian IFAW menyebutkan penyu laut, termasuk penyu hijau (Chelonia mydas), mengalami ketidakseimbangan rasio jenis kelamin akibat suhu pasir yang lebih hangat selama proses inkubasi telur di habitat pesisir.

Di beberapa pantai bertelur, persentase penyu betina yang menetas mencapai 99 persen. Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi kemampuan reproduksi dan kelangsungan hidup spesies. Penyu hijau sendiri terdaftar sebagai spesies terancam punah dalam Daftar Merah IUCN.

Dalam laman World Wide Fund for Nature (WWF), tertulis bahwa hampir seluruh tukik penyu hijau di Great Barrier Reef bagian utara, Australia, berjenis kelamin betina. Perbandingan jumlah betina dan jantan mencapai sedikitnya 116 banding 1. Tren feminisasi ini dapat mengancam spesies jika terlus berlanjut. 

Jenis kelamin penyu laut ditentukan oleh suhu pasir tempat telur dierami. Suhu di atas 29,1 derajat celsius menghasilkan penyu betina. Sementara, suhu lebih rendah menghasilkan penyu jantan.

Kenaikan suhu menyebabkan semakin banyak penyu betina lahir, sehingga rasio jenis kelamin alami terganggu. Dalam kondisi ekstrem, populasi penyu laut berpotensi menjadi sepenuhnya betina, yang membuat reproduksi menjadi mustahil.

Ancaman ini diperparah oleh faktor lain, seperti perburuan liar, tangkapan sampingan perikanan, dan hilangnya habitat.

Uploaded content
Penyu hijau yang hendak diselundupkan di Bali diselamatkan oleh petugas kepolisian dan BKSDA Bali. | Foto: Nusabali.com

Pantai-pantai tropis tempat penyu bertelur kini banyak terganggu akibat pembangunan wisata dan abrasi. Di Bali, lebih dari 60 persen lokasi bertelur penyu dilaporkan telah berubah fungsi dalam 20 tahun terakhir.

Upaya konservasi dinilai perlu mencakup pemetaan zona bertelur, penegakan aturan pembangunan, serta keterlibatan aktif masyarakat lokal.

Beruntung, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Bali, Ratna Hendratmoko, mengatakan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian penyu laut mulai tumbuh.

Pada November 2025, BKSDA Bali meresmikan Asosiasi Kelompok Pelestari Penyu Bali (AKPPB) di KPP Kurma Asih, Desa Perancak, Kabupaten Jembrana.

Pembentukan asosiasi tersebut menjadi tonggak penting penguatan kelembagaan masyarakat pesisir dalam pelestarian penyu berbasis kearifan lokal dan kolaborasi. Kelompok ini juga diharapkan dapat membantu mengurangi kebiasaan mengonsumsi telur penyu.

“Jadi win-win solution,” kata pria yang karib disapa Moko itu kepada Garda Animalia beberapa waktu lalu.

Paus dan Hiu

Paus memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut, termasuk mengendalikan populasi mangsa dan menyerap karbon dalam jumlah besar.

Namun, kenaikan suhu laut yang mengganggu pola migrasi, makan, dan reproduksi paus, benar-benar mengancam kelangsungan hidup mereka. 

Sementara itu, sejumlah spesies hiu dilaporkan mengalami kesulitan berburu serta peningkatan kematian embrio akibat naiknya suhu dan keasaman laut.

Di Samudra Pasifik, hiu terdorong bergerak ke utara rata-rata 30 kilometer per tahun, mengganggu keseimbangan ekosistem laut yang bergantung pada predator puncak ini.

Uploaded content
Ilustrasi paus bungkuk (Megaptera novaeangliae), salah satu spesies yang menyerap karbon. | Foto: Whit Welles/Wikipedia

Gajah

Gajah asia (Elephas maximus), yang hidup di India dan Asia Tenggara, turut terdampak perubahan iklim melalui penurunan curah hujan dan kenaikan suhu.

Perubahan pola hujan menyebabkan meningkatnya kasus anak gajah yatim akibat banjir, sekaligus menurunkan kapasitas reproduksi spesies yang telah berstatus terancam punah ini.

WWF mencatat populasi gajah asia mengalami penurunan selama periode suhu lebih tinggi dari normal. Selain itu, perubahan iklim juga mendorong tumbuhan invasif bersaing dengan sumber pakan alami gajah.

Kebutuhan gajah akan air tawar dalam jumlah besar menjadikan kekeringan dan hilangnya sumber air sebagai ancaman serius bagi kelangsungan hidup mereka.

Pakar Ekologi dan Manajemen Satwa Liar IPB University, Prof. Burhanuddin Masyud, menuturkan kondisi gajah sumatera saat ini bukan sekadar persoalan berkurangnya tutupan hutan.

“Ini adalah ancaman sistemik yang menggerus fondasi keberlangsungan populasi gajah sumatera,” ujar Burhanuddin di laman IPB University, 25 November 2025.

Data terbaru menunjukkan sedikitnya 1.585 hektare habitat gajah sumatera hilang sepanjang Januari 2024 hingga Oktober 2025. Angka ini belum termasuk dugaan perambahan ilegal seluas 4.000 hektare yang diduga dikonversi menjadi perkebunan sawit.

“Apa yang terjadi di Bengkulu bukan sekadar kehilangan hutan, tetapi serangan langsung terhadap ekologi, reproduksi, dan keseimbangan interaksi gajah dengan lingkungan. Dampaknya akan berlapis dan jangka panjang,” ujarnya.

Ia menjelaskan area yang hilang merupakan bagian dari koridor jelajah musiman di Hutan Produksi Terbatas Lebong Kandis, yang berfungsi sebagai jalur migrasi, sumber pakan, dan ruang reproduksi alami.

Sementara, WWF mencatat Provinsi Riau telah kehilangan 65 persen hutannya dalam 25 tahun terakhir, disertai penurunan populasi gajah hingga 84 persen—menyisakan sekitar 210 individu. Populasi harimau sumatra juga menurun hingga sekitar 192 individu.

“Kami menemukan bahwa gajah dan harimau sumatera menghilang bahkan lebih cepat daripada hutan mereka di Riau,” kata Direktur Program Spesies WWF Internasional, Dr. Susan Lieberman.

Kondisi ini meningkatkan konflik manusia-satwa liar, karena gajah terdorong mencari habitat dan sumber pakan baru di luar kawasan hutan.

Direktur Belantara Foundation, Dolly Priatna, menuturkan perubahan iklim berpotensi memperparah konflik tersebut.

"Dampak perubahan iklim kan tidak secara langsung berdampak pada satuannya (gajah), tetapi lebih pada lingkungan tempat mereka hidup," ujar Dolly, dikutip dari Kompas.

Cuaca ekstrem, seperti musim kemarau lebih panjang dan curah hujan tak menentu, memengaruhi ketersediaan pakan di hutan. Situasi ini mendorong gajah semakin sering memasuki kawasan permukiman.

Beruang Kutub

Meski tidak hidup di Indonesia, beruang kutub (Ursus maritimus) menjadi simbol nyata dampak perubahan iklim. Spesies ini terdaftar sebagai rentan oleh IUCN akibat hilangnya es laut Arktik setiap musim panas.

Beruang kutub bergantung pada es laut untuk berburu, beristirahat, kawin, dan membesarkan anak. Perubahan iklim menyebabkan es mencair lebih awal dan membeku lebih lambat, memaksa beruang menghabiskan lebih banyak waktu di darat.

Kondisi ini meningkatkan risiko konflik antara manusia dan beruang kutub, seiring meningkatnya interaksi di wilayah daratan Arktik.