Edukasi

Perubahan Iklim Berpotensi Dorong Konflik Satwa Liar dengan Manusia

25/11/2025|Irvan Sjafari
Ilustrasi gajah sumatera berada di perbatasan antara hutan dan perkebunan warga. | Foto: cuplikan film Datuk Gedang

Ilustrasi gajah sumatera berada di perbatasan antara hutan dan perkebunan warga. | Foto: cuplikan film Datuk Gedang

Gardaanimalia.com - Bayangkan, apa yang terjadi jika perubahan iklim memicu panas ekstrem, lalu berimbas pada berkurangnya makanan untuk satwa liar? Bagaimana mereka dapat bertahan hidup di hutan?

Inilah yang dikhawatirkan Tim Peneliti dari UCLA dan UC Davis.

Saat ini saja, menurut laporan yang dirilis oleh situs UC Davis, seiring perubahan iklim meningkatkan frekuensi kekeringan dan menyebabkan sumber daya langka, masyarakat melaporkan lebih banyak konflik dengan satwa liar. 

Untuk setiap inci penurunan curah hujan tahunan, para ilmuwan menemukan peningkatan 2 hingga 3 persen konflik yang dilaporkan dengan berbagai satwa karnivora selama tahun-tahun kekeringan.

Para peneliti meneliti data selama tujuh tahun dari basis data Pelaporan Insiden Satwa Liar yang dikelola oleh Departemen Perikanan dan Satwa Liar California (Department of Fish and Wildlife California).

Hasil ini kemungkinan berlaku secara luas di luar California, kata penulis utama Kendall Calhoun, seorang peneliti pascadoktoral dan ahli ekologi konservasi yang berafiliasi dengan UCLA dan UC Davis.

"Perubahan iklim akan meningkatkan interaksi manusia-satwa liar, dan seiring kekeringan dan kebakaran hutan semakin ekstrem, kita harus merencanakan cara untuk hidup berdampingan dengan satwa liar," kata Calhoun, anggota laboratorium Justine Smith di UC Davis dan laboratorium Tingley di UCLA untuk ekologi dan konservasi.

Calhoun menyebut, satwa yang masuk ke ruang manusia umumnya dibingkai sebagai pihak yang mencoba mengambil sumber daya dari manusia. Namun, seringkali justru manusialah yang telah mengambil sumber daya dari wilayah mereka.

Tidak semua interaksi satwa liar meningkat selama kekeringan, tetapi ada empat hewan menonjol dalam data tersebut. Di semua rentang curah hujan, untuk setiap penurunan 1 inci curah hujan tahunan, para peneliti menemukan peningkatan konflik yang dilaporkan sebesar 2,1 persen untuk singa gunung, 2,2 persen untuk koyote, 2,6 persen untuk beruang hitam, dan 3 persen untuk kucing hutan.

Pertanyaan Besarnya, Apa Definisi Konflik?

Calhoun berkata, jika ada burung di area pertanian, mereka dapat menyediakan layanan ekosistem seperti memakan serangga berbahaya, tetapi bisa pula merusak tanaman.

“Satu orang mungkin bersimpati terhadap satwa liar yang merumput di kebun tomat mereka. Sementara, orang lain mungkin menganggapnya sebagai kerusakan properti,” ungkapnya.

Di sisi lain, serangan aktual terhadap manusia sangat jarang dan tidak termasuk dalam basis data yang sama, jelas Calhoun.

Dalam studi ini, para peneliti menganalisis laporan Departemen Perikanan dan Satwa Liar California yang menyoroti kerusakan properti dan "gangguan", bukan laporan yang dikategorikan sebagai "kekhawatiran" atau "penampakan" tingkat rendah.

Dalam studi ini, Calhoun menyampaikan kemungkinan adanya subjektivitas dari pelapor. Akan tetapi, ia tetap berkesimpulan bahwa perubahan iklim menciptakan lebih banyak konflik manusia dan satwa liar kalau manusia tidak menciptakan lanskap yang lebih tahan iklim untuk satwa liar.

"Tidak jelas apakah jumlah laporan meningkat karena ada lebih banyak konflik secara subjektif, atau karena orang-orang memandang satwa liar lebih negatif ketika sumber daya mereka sendiri lebih tertekan. Terlepas dari itu, jelas bahwa perubahan iklim akan menyebabkan lebih banyak konflik antara manusia dan hewan jika kita tidak menciptakan lanskap yang lebih tahan iklim untuk satwa liar," tuturnya.

Studi telah menunjukkan manfaat dari menciptakan zona aman dan tempat perlindungan lain bagi satwa liar.

“Sekarang setelah kita tahu bagaimana kekeringan memperburuk interaksi satwa liar, mengapa kita tidak bisa memperbaikinya? Misalnya saja, mengurangi jumlah air yang kita ambil dari lanskap alam dapat mengurangi konflik,” kata Calhoun.

Keahlian penelitian Calhoun berfokus pada kebakaran besar, dan bagaimana tren kebakaran yang didorong oleh perubahan iklim memengaruhi habitat hewan.

Hewan seringkali dapat melarikan diri dari api itu sendiri, tetapi untuk mencari makanan, air, dan tempat berlindung, mereka harus pindah ke area yang terlindungi dari api–dan itu seringkali berarti ke area yang dihuni manusia, kata Calhoun.

“Jika kita memperburuknya, maka kita juga dapat memperbaikinya. Masyarakat hanya perlu berinvestasi pada lingkungan lokal mereka agar konservasi dapat berhasil,” ujarnya.

WWF: Akar Konflik adalah Hilangnya Sumber Daya

Uploaded content
Ilustrasi kebakaran hutan yang dipicu oleh perubahan iklim. | Foto: BPBD Kabupaten Flores Timur

Hasil penelitian tersebut sejalan dengan laporan dari World Wide Fund for Nature (WWF). Bersamaan dengan perubahan iklim terus mendorong pergeseran lingkungan, ancaman lain yang semakin besar muncul adalah konflik manusia-satwa liar. 

Manusia maupun satwa liar didorong untuk saling mendekat demi mencari sumber daya alam yang semakin langka. Angka konflik ini diperkirakan akan semakin sering terjadi seiring peningkatan kekeringan, curah hujan yang tak terduga, dan pola cuaca yang berubah-ubah.

Masyarakat desa yang tinggal dekat dengan kawasan satwa liar adalah yang paling terdampak oleh konflik manusia-satwa liar karena mereka berbagi bentang alam.

Inisiatif Climate Crowd WWF—yang mempelajari bagaimana perubahan iklim berdampak pada manusia dan bentang alam, lalu menerapkan solusi di lapanganmenemukan bahwa konflik manusia-satwa liar menjadi tema yang berulang dalam analisis datanya.

Climate Crowd baru-baru ini menganalisis lebih dari 3.000 wawancara dengan informan kunci dari masyarakat yang tinggal di dekat hotspot keanekaragaman hayati. Mereka menemukan bahwa seperempat dari semua wawancara menyebutkan bahwa konflik manusia-satwa liar sebagai dampak perubahan iklim.

Hasil ini memverifikasi apa yang diketahui banyak masyarakat secara langsung, yaitu cara manusia dan satwa liar merespons stresor iklim saling terkait erat dan sering kali saling memengaruhi.

Faktanya, sebagian besar konflik berakar pada penyebab yang sama: sumber daya menghilang, dan manusia maupun hewan berusaha beradaptasi.

Sebanyak 36 persen responden dari subset data melaporkan lebih banyak kerusakan tanaman akibat satwa liar berkeliaran ke lahan pertanian untuk mencari makanan.

Lalu, 35 persen responden mengatakan mereka merambah lebih dalam ke habitat satwa liar untuk menemukan lahan atau air.

Sebanyak 43 persen responden mengakui bahwa strategi penanggulangan merekaseperti menebang hutan lebih dalam atau bercocok tanam di sepanjang tepi sungaisemakin merusak ekosistem dan habitat satwa liar.

WWF melaporkan seorang petani di Namibia melakukan penanaman di dekat tepi sungai yang tanahnya lebih lembap selama musim kemarau. Namun, di sanalah kuda nil merumput, yang seringkali merusak tanaman.

Semetara di Kirgistan, seorang petani lain menceritakan kisah serupa: kondisi yang semakin buruk mendorong macan tutul salju masuk ke desa-desa.

"Perubahan iklim menyebabkan konflik baru antara manusia dan alam. Kemiskinan sumber makanan membuat macan tutul salju menyerang ternak," cerita petani itu.

Studi dan contoh kasus di atas memang terjadi di luar negeri. Namun, rasa-rasanya apa yang terjadi di Indonesia tidak jauh berbeda. 

Di Pantai Pangandaran, rusa berkeliaran di sekitar pantai untuk mencari makanan. Bukan tidak mungkin yang keluar selanjutnya adalah beruang atau macan tutul, tanpa peduli lagi ada manusia atau tidak–yang sebenarnya sudah terjadi di lokasi lain.

Pertanyaannya, apakah akhirnya manusia dan satwa liar dapat hidup berdampingan serta berbagi sumber daya