Opini

PPBI XII dan Segala Keanehannya

11/07/2025|Garda Animalia
Keseruan peserta PPBI XII mengintip owa dan burung-burung di sela dedaunan. | Foto: Sunarto

Keseruan peserta PPBI XII mengintip owa dan burung-burung di sela dedaunan. | Foto: Sunarto

Ini adalah cerita yang ditulis oleh Sunarto, seorang ekolog satwa liar sekaligus ketua bersama untuk Kelompok Spesialis Spesies Indonesia IUCN (IdSSG), setelah mengikuti Pertemuan Pengamat Burung Indonesia (PPBI) XII.

Gardaanimalia.com - Kesan dari Pertemuan Pengamat Burung Indonesia (PPBI) ke-12 kok ya enggak ilang-ilang. Padahal, acara puncaknya udah lama lewat, yaitu saat long weekend akhir Juni 2025, di Kampung Citalahab, enklaf Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).

Jujur, banyak banget keanehan di acara ini. Gimana enggak aneh coba?! Acara sekeren dan seasik itu bisa dibikin dan disiapin dengan kayak main-main doang.

Setahu saya, nggak ada tuh rapat-rapat formal ala kantoran. Tak ada pula "proyek" dengan Key Performance Indicators (KPI) dan output “terselenggaranya kegiatan” seperti yang biasa kita lihat dari penyelenggaraan banyak acara lain.

Panitianya aja kelihatan cuek sama formalitas. Tapi, jangan salah sangka dulu, ya. Meskipun–atau justru karena itulah–acaranya jadi keren, tanpa basa-basi dan pengorganisasiannya rapi.

Uploaded content
Perjalanan menuju Kampung Citalahab Central dari Dramaga, Bogor. | Foto: Sunarto

Panitianya, yang menurutku orang-orang aneh ini, beneran kerja profesional banget. Dari sudut pandang peserta, info-info brief yang mereka bagikan itu detail dan dikemas apik.

Bisa ditebak, itu pasti hasil dari riset mendalam atau pengalaman panjang. Penggarapan dan sajiannya menunjukkan semangat berbagi yang membara.

Panitianya juga enggak kelihatan ada niat cari untung sama sekali. Justru yang kerasa banget itu semangat berkorban buat kasih yang terbaik ke peserta dan masyarakat.

Gimana enggak, cuma modal beberapa lembar ratusan ribu, alias sekitar harga sekali ngopi di kafe fancy, semua udah diaturin panitia. Kita sebagai peserta tinggal duduk manis, disediain transportasi, makan, minum tiga hari full.

Eits, tapi ada syaratnya. Setiap peserta wajib daftar jauh-jauh hari dan bawa alat makan serta perlengkapan pribadi sendiri.

Menurutku sih ini bukan kekurangan, malah nilai plus-plus yang bikin makin keren. Kita jadi inget buat bertanggung jawab sama diri sendiri, plus jaga kebersihan dan ngurangin sampah.

Peduli lingkungan itu keren, bukan? BUKAN! Itu harusnya hal biasa yang dilakukan semua orang!

Uploaded content
Kampung Citalahab yang asri. | Foto: Sunarto

Kampung Citalahab yang Bagai di Mimpi

Ngomongin soal lokasinya, Kampung Citalahab Central, ini unik banget. Berada di lembah yang dikelilingi hutan dan kebun teh Nirmala, udaranya benar-benar sejuk dan segar.

Saya kebetulan pernah berkunjung lebih dari 30 tahun lalu ketika masih mahasiswa. Waktu itu, di kampung ini cuma ada sekitar 5 rumah, sekarang ternyata udah ada lebih dari 30 rumah!

Tapi hebat, eh, anehnya, sungai yang membelah kampung itu tetap mengalir jernih. Perubahan mulai terjadi, yakni sebagian kebun teh mulai bertransisi jadi kebun kopi dan komoditas lainnya.

Di dekat sana juga ada Cikaniki dan stasiun penelitiannya, tempat yang pas banget buat belajar flora fauna lokal. Di sana, kita juga dikenalin sama Yayasan Kiara dan Mbak Rahayu Oktaviani serta tim, yang sejak lama terus berjuang keras buat konservasi owa.

Mereka baru aja dapat penghargaan Whitley Award dari Inggris, lho! Keren banget, kan? Iya, tapi itu udah selayaknya banget, sih, menuruku.

Mereka emang keren, apalagi bersama para Ambu Halimun dan penduduk kampung yang bergotong-royong saling support menjaga hutan, owa, dan lainnya buat kita.
Uploaded content
Rumah penduduk yang jadi homestay tempat kami tinggal, berhadapan langsung dengan sungai yang mengalir jernih. | Foto: Sunarto
Mang Ade, yang menyediakan rumahnya sebagai salah satu pangkalan dan penginapan panitia dalam salah satu sesi sharing, malah menekankan pentingnya menjaga lingkungan. Dia bahkan sadar dan peduli bahwa dia tinggal di hulu Cisadane. Jadi apa yang terjadi di Citalahab dampaknya bisa jauh hingga ke Jakarta, Tangerang, dan lainnya. Salut!

Pas pengamatan burung bareng, kita enggak cuma lihat burung, tapi juga ketemu owa, surili, dan beragam satwa lain termasuk capung yang cantik-cantik.

Trail yang kami lewati, menembus hutan primer tropis pegunungan itu sensasinya kayak membawa kita ke masa ratusan atau ribuan tahun lalu. Apalagi posisi trail ini pas di sisi timur, dengan lembah di kiri kita, jadi kita bisa nikmatin Ray of Light yang menembus kanopi hutan, bak cahaya yang menembus tirai yang tersingkap.
Uploaded content
Trail yang asri dengan aliran air jernih. | Foto: Sunarto
Uploaded content
Ray of lights di sepanjang perjalanan pengamatan di trail pagi itu. | Foto: Sunarto
Soundtrack-nya ori, suara owa dan burung-burung. Epic banget! Selain sesi pengamatan dan berbagai keseruan di atas, salah satu bagian paling asik di PPBI XII ini yang gak ada warning sebelumnya adalah momen-momen ngopi santai bareng.

Di sela-sela kegiatan, atau bahkan kadang sengaja bikin waktu buat itu, kita bisa ngobrol ngalor-ngidul, sharing berbagai hal yang kadang penting, kadang juga ngaco asik. Plus, serunya lagi, banyak peserta yang bawa kopi dan sajian khas dari daerah masing-masing. Bikin suasana makin akrab, dan makin betah deh! 
Uploaded content
Owa jawa (Hylobates moloch) yang tinggal di kawasan TNGHS. | Foto: Sunarto

Orang-Orang Aneh yang Meginspirasi

Oh ya, yang paling bikin geleng-geleng kepala itu para inisiator dan panitianya. Beneran banyak banget orang aneh tapi karyanya luar biasa. Mereka adalah orang-orang asik yang penampilannya sederhana tapi, eh, dan, penghasil karya besar.

Ada Swiss Winasis, pendiri dan penggerak Birdpacker yang visioner, juga Imam Taufiqurrahman pekerja senyap penggagas Atlas Burung Indonesia.

Terus ada Kelik, inovator konservasi dari Desa Jatimulyo yang ide-idenya gila-gilaan. Ada Aris Hidayat, Hariawan Wahyudi, dan masih banyak lagi deh orang-orang keren yang enggak suka exposure tapi kontribusinya gede banget.

Intinya, PPBI ini beneran beda dari yang lain. Aneh tapi nagih! Enggak sabar nungguin jadwal PPBI berikutnya yang kabarnya tahun depan bakal digelar di Purwokerto dan lanjut di Palu pada tahun berikutnya.

Ada yang mau ikutan juga? Yuk!
Uploaded content
Berbagi semangat, inspirasi dan menggodok ide besar dalam kesederhanaan tenda terpal. | Foto: Sunarto