Rangu Sahabat Baruku


Ilustrasi, Dua ekor orangutan tak berdaya di kebun sawit. Foto : EIA

Aku punya sahabat baru, katanya namanya Rangu.

Langkahnya lincah dan matanya bersahabat. Mulutnya senang bercerita walau hanya sekian saja yang maknanya bisa kutangkap. Sebenarnya mereka berdua, yang lain posturnya lebih kecil. Tapi temannya itu lebih pemalu dan jarang sekali berkunjung.

Sejak pertama bertemu Rangu memang sudah berwarna oranye, kadang menyaru dengan langit senja tempat dia datang dari kejauhan. Langkahnya ketika berjalan lincah kesana-kemari, rambutnya bergoyang kesamping kanan dan kiri. Tangannya ramai memegang ini-itu ketika melangkah, terkadang mengambil sejumput apa yang dia pegang lalu dia baui, tapi lebih sering hanya dicabut lalu dilempar dan membuat serakan.

Kami belum lama bersahabat, setahuku juga selama itu Rangu tidak pernah tidak diam, ujung hari selalu berisik dengan kata-kata. Sedikit kutangkap ceritanya, dia berbagi kisah tentang dirinya sebab berulang kali menunjuk dadanya. Kadang juga dia tertawa-tawa sambil bersandar padaku, mungkin dia ingat sesuatu yang menggelitik lucu. Sesekali dia bercerita sedikit lalu terdiam memandang langit, tak lama napasnya teratur dan ketika kulirik matanya sudah terpejam. Kalau sudah begitu terpaksa kutahan berat badannya hingga menjelang pagi, tidurnya lama dan kadang susah dibangunkan.

Mungkin memang sedikit aneh aku dan Rangu bisa bersahabat. Tapi memang begitu. Rangu bisa sampai seharian berjalan-jalan entah kemana, hingga langit mulai gelap dan selalu pulang kesini tanpa sekalipun absen.

 

***

Rangu cerewet, tapi baru kusadari kini ia sedikit pendiam. Walau memang terkadang ada waktu dimana ia diam, tapi kini aku rasa Rangu juga bersedih, entah karena apa.

Berapa kali aku usaha untuk menghiburnya entah dibantu angin sepoi atau tampias sinar matahari terbenam, tapi mendung dimatanya tak kunjung beranjak. Aku pernah melihat Rangu menangis, waktu itu ia datang dengan kaki mmengeluarkan darah. Tapi tangisnya hanya sebentar, setelah mengobatinya sendiri Rangu kembali bercerita seperti biasa. Kini ada yang lebih dalam daripada tangis waktu itu, dari rautnya aku meraba ada rindu.

Rindu apa? Rindu juga bagaimana?

 

***

Aku ingat, pertama kali bertemu Rangu terlihat sangat besar. Tapi semakin lama dia terlihat semakin kecil. Entah karena aku yang juga semakin besar atau Rangu memang semakin kurus. Aku memang tidak pernah lihat Rangu membawa pulang makanan, lagipula makanan kami berbeda, yang aku tahu ia pasti makan diluar sana karena tidak mungkin kalau tidak makan.

Dibanding membaui atau melemparnya sembarangan kini Rangu lebih sering memasukkan apa yang ia cerabut ke dalam mulut, walaupun lebih banyak yang ia kembali keluarkan. Kalau sudah lelah melakukan hal itu, dia akan terduduk menyandar seperti biasa, dan tak lama kemudian tertidur.

Aku juga baru ingat. Sudah beberapa hari terakhir ini tidak mendengar Rangu mengoceh seperti dulu.

 

***

Suatu hari Rangu datang dengan gesa. Sambil berlari ke arahku dia berulang kali menoleh kebelakang, layaknya dikejar sesuatu yang tidak tampak. Sambil mengoceh sesuatu ia bergantian menatapku juga, yang kutangkap hanya permintaan tolong. Bingung aku menanggapi dan dia semakin mendekat, akhirnya dia hanya menjatuhkan badannya menyender seperti biasa, napasnya tiidak beraturan.

Ada apa? Tanyaku.

Rangu hanya kembali menoleh sembari bergantian menunjuk dadanya dan jalan yang tadi ia lalui. Beberapa kali tangannya keatas kepala seperti menirukan sesuatu. Aku tidak bisa menangkap maksud sepenuhnya, yang pasti tadi dia dikejar oleh sesuatu. Rambutnya lepek dengan keringat, alas kaki dan tangannya kotor, beberapa ranting dan daun kering terlihat tersangkut dikepalanya, terbayang sudah sejauh apa dan seusaha apa tadi Rangu berlari.

Lelah berusaha membuatku mengerti Rangu akhirnya cemberut menatapku, aku tertawa geli dan membelai kepalanya. Napas Rangu perlahan stabil, walau matanya masih melirik titik tempat ia tadi datang. Rangu mulai menyamankan posisi dan aku tahu ia pasti lelah dan bersiap tidur walaupun hari belum sebegitu gelap. Dan benar saja, dengkurannya perlahan terdengar, Rangu benar-benar lelah.

Aku tidak tahu apa yang mengejarnya, tapi aku bisa lihat, Rangu sangat takut. Dan aku juga tahu, ada sesuatu yang berubah.

 

***

Sore itu temannya Rangu datang, persis panik seperti kemarin Rangu datang. Ia mendekat kearahku dan juga meminta tolong. Aku belum menangkap juga apa maksudnya.

Akan tetapi, ada yang berbeda kali ini. Sosok yang mengejarnya tampak. Lebih tinggi dan berbentuk aneh, membawa benda yang terlihat berat di tangannya, mukanya terlihat senang padahal teman Rangu sangat ketakutan. Teman Rangu mendekat padaku hingga semakin jelas sosok pengejarnya, semakin jelas juga teman Rangu meminta tolong, aku hanya-

DOR!!

Aku kaget. Teman Rangu kaget. Tapi pengejar itu tidak, karena dia asal suaranya. Teman Rangu lebih kaget dariku, tubuhnya jatuh ketanah dengan kepala tersungkur, suaranya meringkih kesakitan.

Perlahan suara teman Rangu semakin sayup dan akhirnya benar-benar berhenti. Tapi darahnya yang merembes pada tanah tak kunjung henti. Tanpa peduli si pengejar mengambil teman Rangu dan membawanya menjauh, meninggalkan jejak kemerahan sepanjang jalan. Aku kaget, terlalu kaget bahkan sampai hari beranjak gelap.

Malam itu Rangu tidak pulang.

 

***

Paginya aku terbangun dengan suara dengkuran Rangu. Ia pasti pulang menjelang pagi dan sangat kelelahan karena tidak terdengar ocehan apapun ketika aku tidur.

Rangu tampak lebih lelah dan kotor dari sebelumnya. Rambutnya kusut masai dengan banyak sekali ranting tersangkut. Serpihan tanah tak lagi hanya di telapak tapi menyebar acak hingga bada. Setelah lebih ku teliti lagi, ada luka pada wajahnya, berdarah sedikit dan setengah mengering.

Rangu dari mana?

Tentu saja tidak ada jawaban, Rangu tertidur pulas dengan matahari pagi yang mulai panas. Aku pun diam.

Tentang temannya kemarin sore pun aku tidak tahu harus bagaimana. Bagaimana menjelaskannya dan bagaimana meminta maafnya karena aku tidak melakukan suatu hal pun. Bagaimana perasaan Rangu kalau tahu temannya seberdarah itu saat dibawa pergi. Bagaimana aku jelaskan takutnya Rangu waktu itu persis juga kulihat di tatapan temannya kemarin?

Rangu bangun setelah setengah jalan matahari tergelincir ke barat. Mungkin kepanasan. Rangu menatapku pelan dan tidak cerita apa-apa walau kutanya berapa kali. Rangu sedih.

Tatapannya beranjak ke bekas darah kemarin sore. Dan tanpa sebuah cerita, aku rasa Rangu lebih tahu tentang temannya kemarin sore dibanding aku. Rangu tidak bertanya apa-apa, hanya kemudian menatap ujung jalan yang biasa ia lewati.

Rangu pelan-pelan bangkit, tertatih. Sedikit-sedikit ia melangkah, mengitari bekas darah temannya, kemudian menatap kembali ke jalan. Aku terdiam merasa tidak enak. Tiba-tiba Rangu menatapku. Tatapannya seperti biasa, diam dan dalam. Hangatnya masih sepias dibalut sedih yang sulit sembunyi. Aku hanya bisa tersenyum.

Rangu pun mulai berjalan menjauh, pergi seperti biasa. Aku pun tetap diam, menunggu seperti biasa.

 

***

Malam itu Rangu tidak pulang, dan paginya aku terbangun tanpa Rangu yang tersandar tidur. Tumben. Sejauh apa Rangu mencari makan. Apa Rangu sedang bertemu temannya yang lain dan lupa waktu hingga tak pulang. Apa Rangu terlalu lelah hingga tertidur di jalanan pulang.

Tiba-tiba sayup suara sipengejar waktu itu terdengar lagi mengagetkan. Jaraknya cukup jauh, tapi dapat kudengar suara lain yang juga berisik, bukan suara Rangu. Beberapa burung terlihat serentak terbang di sentakan suara yang kedua, menghindar.

Aku hanya berharap Rangu tidak kenapa-napa.

 

***

Tiga malam Rangu tidak pulang. Dan, ya, aku mulai rindu ocehan panjangnya, dengkur , hangat rambutnya. Sejauh mana dia mencari makanannya sekarang. Sepenting apa memang temannya yang ia temui sekarang.

Apa mungkin Rangu punya tempat baru untuk pulang? Tapi ia tidak mungkin pergi tanpa cerita apa-apa. Tidak mungkin jauh tanpa pamit juga.

Apa mungkin Rangu tersasar? Apa mungkin hanya sekedar sedang senang jalan-jalan jauh? Apa mungkin-

Aku tidak mau berpikir yang aneh-aneh.

 

***

Rangu dimana?

 

***

Rangu tidak pulang setelah belasan malam dan aku tahu itu berarti dia memang pergi.

 

Rangu, terimakasih sudah pernah hadir dengan segala cerita. Aku harap segera jumpa. Pulanglah, aku tunggu.

Sahabat barumu,

Sawit

 

Penulis : Aginda Zahra Fauziah


Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four × 5 =