Rima, Anakku yang Malang!

Rima, Anakku yang Malang!
Ilustrasi orangutan dan anaknya. Foto: Kompas

Gardaanimalia.com – Hari ini ada anggota baru di kelompok kami. Dia adalah anakku Rima (anak orangutan) dan aku (Rimba) adalah induk Rima. Setelah kurang lebih delapan setengah bulan mengandung, akhirnya ia lahir dengan selamat dan sehat. Di kalangan manusia aku juga dikenal dengan sebutan Pongo Pygmaeus. Ya, benar sekali aku adalah satwa endemik asli Indonesia. Kami dikatakan endemik karena populasi dan habitat kami tak akan dijumpai di tempat lain dan hanya ada di hutan Kalimantan dan Sumatera.

Tak terasa dua bulan sudah Rima hadir di antara kelompok kami. Aku selalu membawanya kemana pun aku pergi. Membiarkannya menggantung di tubuhku dan mendekapku dengan erat, bahkan saat aku asik melompat kian kemari dari satu pohon ke pohon yang lain. Rima selalu aku bawa dalam setiap aktivitasku, mulai dari membuat rumah hingga saat mencari kulit kayu, daun muda, serangga dan buah, hmmm itu adalah makanan favorit kami.

Hari ini seperti biasa, aku dan Rima mencari makanan bersama dengan kawananku yang sejenis. Buah-buah yang kami makan dari suatu pohon biasanya kami makan di tempat, atau bahkan kami makan sambil bergelantungan dari pohon satu ke pohon lain. Dengan cara makan kami yang seperti ini, sangat membantu manusia dalam menyebar biji loh. Sehingga keanekaragaman tumbuhan yang kami makan juga akan serlalu terjaga.

…..

Malam pun tiba, seperti malam-malam biasanya kami akan membuat sarang di pohon sebagai tempat kami beristirahat. Kami akan membuat sarang dengan melekukkan dahan pohon. Tak hanya itu, dengan lihai kami membuat sarang senyaman mungkin. Ditambah dengan ranting-ranting yang kami tumpuk hingga menjadi atap sehingga apabila hujan kami tidak kehujanan. Biasanya orangutan yang mempunyai anak sepertiku membuat sarang di atas kanopi pohon yang tinggi. Berbeda dengan orangutan jantan dewasa yang membuat sarang jarang di puncak kanopi karena badannya yang besar.

BACA JUGA:
Orangutan Langka Terjebak di Pondok Warga

Malam berlalu begitu cepat, aku kembali beraktivitas ditemani Rima yang semakin hari semakin berat bila digendong. Tapi, aku sangat menyayanginya.

……

Bagi kami orangutan, tidak akan mempunyai anak lagi sampai anak yang kami asuh telah mencapai umur tujuh tahun. Selama priode tujuh tahun inilah aku menjaga dan mengajari Rima bagaimana cara bertahan hidup. Mulai dari cara membuat sarang, mencari pakan alami dan mengajarinya bagaimana cara agar terhindar dari predator. Tujuh tahun adalah jarak antar kelahiran terpanjang yang dimiliki hewan saat ini.

Baca juga: Rangu Sahabat Baruku

Kehidupanku dan Rima serta kawanku lainnya tidaklah selalu aman. Di hutan kami sering merasa terancam karena adanya perburuan liar yang dilakukan oleh manusia yang serakah. Tak jarang aku dan kawanku harus berusaha mencari perlindungan setiap kali kami mendengar adanya suara senapan yang menggetarkan telinga.

…..

Siang ini terasa begitu terik, aku dan Rima hanya duduk menikmati buah di atas pohon. Sesekali aku menelisik tubuhku dan Rima sembari duduk menikmati santapan kami. Begitu pula kawananku yang lain yang terlihat sibuk bergelantung mencari buah di pohon yang lain.

Tiba-tiba aku mendengar suara yang begitu kencang hingga membuat burung-burung terbang berhamburan. Benar saja! Itu adalah suara pemburu yang sedang beraksi dengan senapannya untuk menangkap kami.

Aku yang terkejut lantas memeluk Rima begitu kuat dan membawanya lari melewati ranting-ranting pohon dengan kencang. Sampai akhirnya “duaaaaaar”, hampir saja aku terjatuh. Tangan kananku tertembak membuat peganganku hampir lepas saat menggendong Rima.

Aku yang mencoba lari menjauh dari pemburu tak lantas membuatku bisa lolos dari kejarannya. Dia begitu kuat. Dengan senapannya ia terus membabi buta mengarahkannya kepadaku. Tanpa ampun dan sangat brutal!

BACA JUGA:
Terkena Jerat Pemburu, Orangutan Alami Luka hingga ke Tulang

Lenganku yang berdarah tak lagi kuhiraukan. Aku hanya berfikir bagaimana cara agar Rima tidak diburu dan diambil. Raut wajah Rima terkejut! Tak sampai hati aku melihatnya. Aku terus menggendongnya mamastikan ia aman dari serangan pemburu.

Belum sempat aku berlalu lebih jauh ternyata peluru kedua kembali mendarat tepat kaki kiriku. Aku yang terkejut lantas terjatuh ke tanah saat tangan kiriku sudah tak sanggup menahan bobot Rima.

Aku tergeletak tak berdaya tepat di depan hadapan sang pemburu. Aku tejatuh dari atas pohon yang cukup tinggi dan membuat badanku terhempas begitu keras ke tanah. Rima terlempar tak jauh dariku, dengan cepat ia kembali berlari ke arahku karena marasa ketakutan. Namun, pemburu itu mengambil paksa Rima dari gendonganku. Aku yang masih berusaha dengan kuat mencoba berjalan tapi aku sudah tak sanggup.

Rima menjerit-jerit dan menolak untuk diambil paksa dari dekapanku. Aku masih belum menyerah. Aku tak bisa menyaksikan anakku yang menangis dan meronta agar bisa lepas dari tangkapan pemburu. Aku masih terus melawan pemburu dan “dwaaar” satu sasaran peluru lagi menembus bagian dadaku.

Maafkan ibu, Rima! Maafkan ibu yang tak mampu melindungimu dari sang pemburu. Ibu menyayangimu selalu.

Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Ruth nathalia
Ruth nathalia
1 year ago

😭