Gardaanimalia.com - Rusa sambar (Rusa unicolor) merupakan satwa yang dapat ditemukan di hutan Bangka Belitung, tetapi menghadapi ancaman perburuan liar dan kerusakan habitat.
Satwa ini merupakan spesies rusa terbesar di Indonesia dan memiliki peran penting dalam budaya masyarakat melayu, terlihat dari bentuk ranggah yang menginspirasi alat musik dambus.
Salah satu upaya konservasi rusa sambar dilakukan dengan adanya penangkaran oleh PT Timah di Belitung Timur dan Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Alobi di Kabupaten Bangka.
Mengutip Mongabay Indonesia, menurut Onny Nur Pratama, alumni Program Penciptaan dan Kajian, Pascasarjana ISI Yogyakarta, representasi kepala rusa sambar dalam alat musik dambus adalah bukti masyarakat di Pulau Bangka mempunyai hubungan dekat dengan rusa sambar.
“Rusa sambar menjadi bagian penting dalam setiap kegiatan ritual adat atau acara perayaan usai panen, maupun pernikahan. Daging rusa dimaknai sebagai hidangan mulia," ujar Onny.
Dalam tesis Onny yang merujuk pada beberapa buku karya budayawan Bangka Belitung, Akhmad Elvian, cara mendapatkan daging rusa sambar secara berkelompok dikenal dengan istilah ngelapun atau berasuk.
Aktivitas ngelapun dilakukan dengan menggunakan lelapun, yaitu perangkap laba-laba yang terbuat dari rotan peledas atau rotan gajah.
“Para pemburu harus meminta izin kepada dukun hutan dahulu. Rusa yang diburu juga tidak berlebihan, hanya untuk hari besar atau ritual adat, dagingnya juga harus dibagi adil,” tulisnya.
Karakteristik Rusa Sambar
- Ukuran: rusa sambar dikenal sebagai jenis rusa terbesar di Indonesia. Tinggi tubuhnya dapat mencapai 102-160 sentimeter, dengan panjang tubuh 150 sentimeter. Berat badannya dapat menyentuh 80-90 kilogram untuk betina dan 90-125 kilogram untuk jantan.
- Warna rambut: memiliki tubuh berwarna cokelat gelap atau abu-abu kecokelatan.
- Ranggah: apa yang kita lihat sebagai tanduk pada rusa jantan sebenarnya bukanlah tanduk, melainkan ranggah. Ranggah adalah jaringan tulang yang tumbuh ke luar, memiliki siklus untuk tumbuh dan meluruh. Berbeda dengan tanduk yang terbuat dari keratin dan terus menempel tanpa mengalami siklus.
- Sebaran geografis: rusa sambar tersebar di Bangladesh, Bhutan, Brunei Darussalam, Kamboja, Cina, India, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, Taiwan, Thailand, dan Vietnam. Secara spesifik di Indonesia, rusa sambar tersebar di Sumatra, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kalimantan.
- Habitat: satwa ini dapat hidup di hutan, sabana, dan semak belukar. Disebutkan pula, satwa ini ditemukan terutama di area dengan kepadatan pohon dan herba yang tinggi dengan kepadatan semak yang rendah.
- Status: rusa sambar termasuk satwa yang dilindungi di Indonesia berdasarkan P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi. Dalam International Union for Conservation of Nature (IUCN), rusa sambar dikategorikan dalam status rentan atau vulnerable.
Jarang Terlihat
Edy Elson (58), warga Desa Jelutung Kecamatan Namang Kabupaten Bangka Tengah yang dulu sering berburu rusa di hutan Pulau Bangka mengatakan saat ini rusa sambar sudah jarang sekali terlihat. Namun, dia yakin keberadaannya masih ada walau sedikit.
“Sekarang, jejak kaki dan bekas gesekan tanduknya (ranggah) di pohon juga tidak ada lagi ditemukan,” ujar Edy saat kami tanya pada Kamis (18/9/2025).
Hal ini senada dengan keterangan Ketua PPS Alobi, Langka Sani, yang mengungkapkan bahwa berdasarkan informasi lapangan, umumnya masyarakat desa di Pulau Bangka jarang melihat rusa sambar di alam.
“Rusaknya habitat serta adanya perburuan yang menjual daging atau tanduk (ranggah) rusa, merupakan persoalan utama," katanya, mengutip Mongabay Indonesia.
Kondisi ini kian mengkhawatirkan, ketika hutan, sungai, hingga perbukitan di Pulau Bangka tergerus aktivitas pertambangan dan perkebunan skala besar.
“Padahal rusa sambar sangat penting sebagai penyeimbang ekosistem alam," kata Langka Sani.
Penulis: Ogi Pratama













