Gardaanimalia.com - Semua mata sedang tertuju pada upaya konservasi gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus). Semua mata sedang tertuju pada Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN).
Borok TNTN sudah sejak lama, bukan rahasia, dan ditutup-tutupi pun percuma.
Hutan alam kehilangan takhtanya di kawasan konservasi ini, direbut paksa oleh tanaman sawit yang wangi rupiah. Gajah sumatera dibuat luntang-lantung seperti tak punya rumah.
Berdasarkan data 2022, kawasan hutan tersisa di TNTN hanya sekitar 16,8 persen. Bagaimana kondisi ini berpengaruh terhadap kelestarian gajah, telah kami uraikan dalam liputan data interaktif berjudul Menjarah Rumah Gajah yang terbit pada 2022.
Ada banyak pertanyaan yang belum terjawab dalam liputan tersebut. Bagaimana sawit menggeser posisi kawasan hutan, siapa yang ada di baliknya, serta bagaimana pemerintah bersikap, adalah teka-teki yang harus dijawab.
Melalui dokumenter terbaru Garda Animalia yang berjudul "Telanjur Sawit", kami berupaya mengumpulkan potongan gambar tentang taman nasional yang disebut-sebut memiliki tingkat keragaman hayati tertinggi di dunia ini.
Meski tak semua pertanyaan bertemu jawabannya, tetapi kompleksitas masalah itu nyata tergambar: hidup gajah yang di ujung tanduk, perusahaan yang tak teguh komitmen untuk menyaring tandan buah segar (TBS) dari kawasan ilegal sehingga mendorong sawit terus menjalar, tanah yang diperebutkan, interaksi satwa dan manusia yang berbenturan, hingga pemerintah yang dinilai abai.
Harapan untuk memulihkan TNTN menemukan terang saat Satgas Pemulihan Kawasan Hutan (PKH) yang dibentuk pemerintah berani ambil langkah: menumbangkan sawit, menanam pohon kehidupan, merelokasi warga dan menggantinya dengan lahan baru.
Langkah ini diwarnai pro dan kontra, ada perlawanan dan dukungan.
Sebenarnya, kita bukan disuruh memilih antara manusia atau gajah, tetapi bagaimana semua kembali pada tempatnya: TNTN dengan muruahnya sebagai kawasan konservasi gajah, dan masyarakat yang telanjur hidup di sana mendapat kehidupan baru sehingga tak lagi bertentangan dengan konservasi.
Maka, tugas kita adalah mengawal proses penataan dan pemulihan ekosistem TNTN agar berjalan transparan dan adil.
Masyarakat Desa Bagan Limau adalah salah satu desa yang mendukung upaya pemulihan TNTN. Mereka mendata lahan sawit yang telanjur dikelola di dalam TNTN dan bersedia mengikuti proses relokasi.
Kepala Desa Bagan Limau, Syarifudin, menyampaikan keterangan berikut kepada Garda Animalia pada Jumat (2/1/2026):
Masyarakat kurang memahami bahwa lahan yang mereka garap posisinya berada di dalam kawasan Taman Nasional Tesso Nilo atau hutan konservasi yang peruntukannya untuk satwa-satwa ciptaan Tuhan yang harus dilindungi oleh pemerintah.
Kemudian, pemerintah juga memberikan solusi melalui kami pemerintah desa di tahun 2019 terbangun pola kerja sama kemitraan konservasi. Kegiatannya adalah penanaman untuk pemulihan ekosistem di TNTN dengan tanaman yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat atau untuk anggota kelompok tani tersebut.
Namun, dalam pelaksanaannya karena kurangnya pemahaman, sehingga kegiatan kerja sama tersebut terputus.
Pada tahun 2025 dengan terbentuknya Satgas PKH, kami dari pemerintah desa berdiskusi beberapa kali di Posko Satgas PKH Kejati Riau, akhirnya mendapatkan solusi, yaitu masyarakat yang berkebun di dalam Taman Nasional Tesso Nilo dicarikan kebun pengganti oleh pemerintah melalui Satgas PKH dan mendapat respon positif dari masyarakat.
Dalam siaran persnya, Kementerian Kehutanan menyampaikan sebanyak 228 kepala keluarga direlokasi ke kawasan perhutanan sosial dengan total luasan mencapai 635,83 hektare. Relokasi ini menyasar wilayah Desa Bagan Limau dengan target penataan kawasan seluas 2.569 hektare.
Sekali lagi, tugas kita adalah mengawal agar proses berjalan transparan dan adil.
Selamat menonton "Telanjur Sawit".
#SaveTessoNilo #SelamatkanTessoNilo















