Edukasi

Sering Dikira Hewan Mistis, Mari Mengenal Prionodon Linsang!

05/02/2026|Ogi Pratama
Seekor musang lingsang satwa karnovira yang sering dikaitkan dengan hal mistis oleh masyarakat Foto ecologyasiacom - Seri...

Seekor musang lingsang, satwa karnovira yang sering dikaitkan dengan hal mistis oleh masyarakat. | Foto: ecologyasia.com

Gardaanimalia.com - Pada malam yang sunyi, ayam-ayam dalam kandang tiba-tiba ribut. Kokokannya nyaring dan riuh. Lalu, pagi harinya, peternak menemukan ayam miliknya mati dalam keadaan perut terkoyak, hatinya hilang.

Peristiwa semacam itu sering kali dikaitkan dengan kejadian mistis oleh masyarakat. Padahal, kemungkinan itu hanyalah ulah si linsang berpita yang sedang mencari makan!

Linsang berpita atau musang linsang (Prionodon linsang) mempunyai tubuh berwarna keputihan sampai keemasan atau bungalan yang ditaburi dengan pola-pola bintik coklat tua, dan cakar layaknya milik kucing.

Badannya ramping dengan panjang tubuh mencapai 41,1 sentimeter dan panjang ekor 36,2 sentimeter, berbobot sekitar 598-789 gram, dan kepalanya meruncing dengan kaki yang pendek. Pada bagian tengkuknya, terdapat garis gelap yang membujur.

Habitat dan Jenis

Ia hidup secara soliter (penyendiri) dan nokturnal (aktif malam hari) di hutan tropis dan menghabiskan sebagian besar waktunya di pepohonan (arboreal).

Mereka hanya hidup bersama ketika musim kawin tiba, yaitu sekitar Februari dan Agustus setiap tahunnya. Linsang dapat melahirkan sekitar 2 sampai 3 ekor anak dengan berat tubuh dapat mencapai 40 gram. Anak lingsang jantan akan berpisah dengan induknya setelah disapih. 

Karena merupakan satwa nokturnal, linsang berpita tidur pada siang hari dalam sarang yang dibuat di dalam sebuah lubang di bawah tanah atau di dalam pohon.

Satwa yang juga dipanggil musang congkok ini merupakan karnivora, makanannya meliputi mamalia kecil, burung, reptilia dan arthropoda, dan hewan kecil lainnya.

Mamalia ini hidup di hutan primer dan sekunder. Tercatat mampu hidup hingga ketinggian hingga 1.800 meter di atas permukaan laut. 

Linsang berpita menjadi satu-satunya jenis linsang yang hidup di Indonesia, yang terkadang sering disalahartikan sebagai berang-berang (otter) padahal keduanya berasal dari keluarga (famili) yang berbeda.

Linsang berpita adalah satwa asli Asia Tenggara. Di Indonesia persebarannya meliputi Kalimantan, Jawa, Sumatera, dan Bangka Belitung.

Penyebutan untuk hewan ini berbeda-beda di tiap daerah tergantung budaya dan adat istiadat di daerah tersebut. Misalnya, di Bangka Belitung sering disebut klares atau tebok ati, karena linsang berpita sering memburu ayam peliharaan warga dan terkadang hanya memakan organ dalamnya terkhusus bagian hati.

Ancaman dan Konservasi

Kerusakan habitat, pembukaan lahan, serta perburuan satwa ini untuk hewan peliharaan menjadi faktor ancaman nyata bagi linsang berpita di habitatnya.

Tak hanya itu, ancaman juga datang dari jalanan. Karena aktif di malam hari, linsang sering menyeberang jalan secara tiba-tiba sehingga sering tertabrak oleh kendaraan bermotor yang melintas di jalan-jalan desa yang tersebar di Bangka Belitung. 

Mengatasi hal ini, sebenarnya diperlukan rambu-rambu pemberitahuan untuk meminimalisir hewan ini tertabrak pengendara roda dua atau empat.

Di Indonesia, satwa ini termasuk yang dilindungi oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106 Tahun 2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

Sementara, menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), status konservasinya adalah risiko rendah (least concern).

Linsang berpita bukan hantu atau hewan mistis mereka adalah keluarga musang yang juga hidup di antara kita, mereka juga bagian dari ekosistem, mari jaga bersama dan jangan buru mereka.