Gardaanimalia.com - Penyakit pada satwa ternyata bisa juga menular ke manusia, lho. Penyebab penyakit ini dapat berupa bakteri, virus, parasit atau pun agen yang tidak konvensional dan menular ke manusia secara langsung.
Ada beberapa penyakit dari satwa yang dapat menular ke manusia dan ternyata bisa kita temukan di sekitar kita. Agar terhindar dari penyakit-penyakit itu, yuk, kita cari tahu lewat uraian berikut!
Demam Berdarah Dengue (DBD)
Demam berdarah merupakan penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. Penyakit ini tidak menular dari manusia ke manusia lain, tetapi hanya dapat ditularkan oleh jenis nyamuk tertentu.
Penyakit ini sering muncul pada saat musim hujan karena kondisi lingkungan yang sangat mendukung perkembangbiakan nyamuk. Biasanya, orang yang terkena demam berdarah menunjukkan gejala-gejala demam tinggi secara tiba-tiba, sakit kepala, sakit di belakang mata, merasa lelah, sampai mual dan muntah.
Penderita DBD juga bisa mengalami nyeri otot dan sendi yang parah, itulah sebabnya demam berdarah juga dikenal sebagai “demam tulang patah”. Gejala pernapasan yang biasa diderita orang yang demam, meliputi batuk, hidung tersumbat, atau sakit tenggorokan juga muncul. Antara dua sampai lima hari setelah infeksi, ruam pada kulit bisa muncul pada penderita.
Orang yang terjangkit DBD juga cenderung mengalami pendarahan dari kulit atau hidung, disertai tinja berdarah dan/atau pendarahan menstruasi berat.
Gejala-gejala tersebut dapat berlangsung hingga tujuh hari, setelah itu demam akan turun atau memburuk tergantung pada tingkat keparahan infeksi.
Sejak awal tahun hingga Kamis, 12 Juni 2025, Kementerian Kesehatan telah mendata setidaknya 67.030 kasus DBD di seluruh penjuru negeri.
Jawa Barat mendominasi kasus DBD secara nasional, dengan 17.281 kasus yang dilaporkan atau sekitar 26 persen dari total seluruh kasus DBD di Indonesia.
Setelah Jawa Barat, beberapa provinsi menunjukkan angka kasus DBD yang signifikan. Jawa Timur menempati posisi kedua dengan 10.290 kasus, Bali dan Jawa Tengah menyusul, masing-masing dengan 6.443 dan 6.279 kasus.
Provinsi Lampung juga mencatat angka yang cukup tinggi, yaitu 4.858 kasus. Kemudian, Sulawesi Selatan (2.318 kasus) dan Nusa Tenggara Barat (2.251 kasus) turut menambah daftar. Melengkapi sepuluh besar provinsi dengan kasus DBD terbanyak adalah Sumatra Utara, Banten dan Riau.
Sepanjang periode yang sama, tercatat 297 kematian akibat DBD secara nasional. Jawa Barat kembali memimpin dengan 61 kematian, diikuti oleh Jawa Timur dengan 57 kematian, dan Jawa Tengah dengan 53 kematian.
Tingginya kasus dan kematian di ketiga provinsi ini diduga kuat berkaitan dengan tingginya kepadatan penduduk dan mobilitas masyarakat.
Antraks
Antraks adalah penyakit pada ternak sapi, kambing, dan domba yang dapat menular ke manusia yang disebabkan oleh bakteri atau kuman antraks (Bacillus anthracis). Bakteri itu termasuk ke dalam bakteri golongan gram positif, aerob, dan membentuk spora dan dapat bertahan hidup puluhan tahun di dalam tanah.
Hewan yang terjangkit menunjukkan perilaku tiba-tiba berputar dan tersungkur, keluar darah berwarna hitam pekat dari hidung, mulut, dubur atau alat kelamin (yang sangat menciri dari penyakit antraks), dan sesak nafas. Pada gejala yang sangat akut, hewan terinfeksi dapat mati dalam weaktu satu hari.
Sementara, gejala yang timbul pada manusia dapat berupa gejala pada kulit, pencernaan, dan pernapasan. Gejala pada kulit dapat memunculkan benjolan yang berubah menjadi melepuh yang berisi berwarna biru gelap dalam waktu 12-36 jam. Luka yang pecah akan meninggalkan bekas berupa eschar (jaringan mati yang mengeras) kehitaman pada bagian pusat lesi dan dikelilingi oleh daerah menonjol akibat peradangan.
Lalu, jika gejala pencernaan muncul, penderita dapat mengalami sakit perut, mual, muntah hingga muntah darah, dan diare. Sementara, gejala antraks pernapasan dapat berupa nyeri dada, demam, lemah badan, dan nyeri otot.
Mencegah penularan antraks dapat dilakukan dengan cara berikut:
- Laporkan ke Dinas Peternakan setempat apabila terdapat hewan dengan gejala antraks
- Tidak menyembelih dan mengonsumsi daging yang berasal dari hewan terinfeksi
- Hewan dipotong di rumah potong hewan
- Vaksinasi secara rutin hewan yang peka terhadap antraks (sapi, kerbau, kuda, dan lainnya)
- Tidak membuat atau memproduksi barang seperti kerajinan dari tanduk, kulit, bulu, atau tulang yang berasal dari hewan terinfeksi
- Lakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari
- Segera berobat ke puskesmas atau rumah sakit setempat apabila merasa sakit dengan gejala antraks atau setelah kontak dengan hewan yang diduga terinfeksi antraks
Beberapa daerah di Kabupaten Gunungkidul kerap menjadi sumber penularan penyakit antraks. Pada 2019 di Kapanewon Karangmojo dan Ponjong, ditemukan 12 orang positif antraks dan satu orang meninggal.
Dua tahun kemudian (2021) di Desa Hargomulyo, Gedangsari, terdapat 7 orang positif tertular antraks. Selanjutnya pada 2022, ada 13 orang positif antraks di Ponjong. Pada 2023 lalu, di Dusun Jati, Desa Candirejo, Semanu ditemukan 87 orang positif, 18 bergejala dan seorang meninggal.
Kasus sering muncul karena spora dari hewan terjangkit yang disembelih atau dari lingkungan, sebab spora ini dapat bertahan puluhan tahun di dalam tanah.
Adapun spora bisa terbentuk jika bakteri Bacillus anthracis yang terpapar oksigen. Oleh karena itu, spora tidak pernah dijumpai dalam tubuh ternak atau dalam bangkai yang tidak dibuka.
Selain mengisolasi ternak yang sakit, para peternak perlu meningkatkan biosekuriti dan melakukan pengobatan pada hewan yang sakit serta memberi tambahan suplemen.
Bakteri ini mudah mati jika diberi antibiotik, antiseptik, desinfektan dan mati pada suhu diatas 54 derajat celcius selama 30 menit. Sementara untuk hewan yang sehat sebaiknya diberi vaksinasi selama dua kali selama setahun.
Rabies
Penyakit rabies atau biasa disebut dengan penyakit anjing gila disebabkan oleh virus rabies yang akan menyerang ke sistem saraf dari hewan, seperti anjing, kucing, dan kera. Virus ini bisa menular ke manusia melalui air liur, gigitan, cakaran ataupun dari luka yang terbuka. Pencegahan penyakit rabies dapat dilakukan vaksinasi rabies secara rutin pada hewan yang rentan.
Rabies tipe ganas pada hewan menunjukkan beberapa gejala, seperti suara menjadi parau, tidak menurut perintah majikan, menggigit dan menyerang apa saja yang bergerak atau dijumpai, lari tanpa tujuan, lupa pulang, ekor berada di antara dua paha, jika berkelahi tidak mau kalah, kejang-kejang yang disusul kelumpuhan. Pada tipe ini, hewan biasanya mati dalam 4 sampai 7 hari gejala pertama muncul.
Sementara, rabies tipe tenang menunjukkan perilaku suka bersembunyi di tempat gelap dan sejuk, tidak mampu menelan, mulut terbuka, air liur berlebihan, kejang-kejang berlangsung singkat bahkan sering tidak terlihat, kelumpuhan, dan kematian terjadi dalam waktu singkat.
Lalu, bagaimana cara menangani luka gigitan atau cakaran hewan yang berpotensi menularkan rabies?
- Segera cuci luka gigitan atau cakaran anjing, kucing, kera, dan hewan penular rabies lainnya dengan menggunakan deterjen atau sabun dan air mengalir selama 15 menit kemudian berikan antiseptik
- Segera kunjungi puskesmas atau rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut sesuai SOP
- Segera hubungi Dinas Peternakan untuk melaporkan hewan penggigit
Manusia yang tertular rabies memiliki gejala demam, badan lemas, sakit kepala hebat, sakit tenggorokan, penurunan nafsu makan, insomnia, kesemutan atau mengalami rasa panas di lokasi gigitan. Lalu, dapat pula timbul beberapa fobia, seperti fobia air (hydrophobia), fobia angin (aerofobia), dan fobia cahaya (fotofobia).
Kasus rabies di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi ancaman serius. Hingga Mei 2025, Dinas Peternakan NTT mencatat sebanyak 2.149 kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) menyebabkan 10 orang di antaranya meninggal. Status kejadian luar biasa (KLB) rabies pun telah diberlakukan sejak April 2023 di Kabupaten Sikka dan sejak Mei 2023 di Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Setelah terinfeksi virus rabies, hewan akan mati dalam waktu sekitar 14 hari. Manusia yang tergigit wajib menerima empat kali suntikan vaksin rabies secara lengkap.
Toksoplasmosis
Toksoplasmosis juga termasuk penyakit zoonosis yang disebabkan oleh infeksi yang disebabkan oleh protozoa Toxoplasma gondii, yang disebut ookista.
Hanya golongan dari felidae (kelompok mamalia karnivora seperti kucing, singa, dan harimau) yang dapat membuat Toxoplasma gondii berkembang biak secara seksual, sedangkan pada hewan vertebrata berdarah panas akan bereproduksi secara aseksual.
Infeksi Toxoplasma gondii terjadi melalui oral karena konsumsi produk hewan yang terkontaminasi ookista dan tidak dimasak dengan matang, makanan yang terkontaminasi parasit bradizoit, kontak dengan kotoran hewan peliharaan seperti kucing yang mengandung ookista, atau menyebar secara vertikal dan hematogen dari ibu ke janin melalui plasenta.
Berdasarkan jurnal veteriner nusantara yang berjudul “TINGKAT PREVALENSI TOKSOPLASMOSIS PADA KUCING PELIHARAAN DI ENAM KECAMATAN DI KOTA KUPANG” tingkat prevalensi toksoplasmosis pada kucing peliharaan di Kota Kupang adalah sebesar 23 persen. Sebaran itu terlihat hampir merata, dengan jumlah sampel positif di masing-masing kecamatan yang tidak jauh berbeda.
Jumlah sampel feses yang positif Toxoplasma gondii di Kecamatan Kelapa Lima sebanyak 4/10 sampel, Kecamatan Oebobo sebanyak 2/12 sampel, Kecamatan Kota Raja sebanyak 3/13 sampel, Kecamatan Kota Lama sebanyak 4/15 sampel, Kecamatan Maulafa sebanyak 2/15 sampel, dan Kecamatan Alak sebanyak 4/16 sampel.
Leptospirosis
Memasuki musim penghujan, masyarakat Indonesia mulai waspada akan datang banjir, khususnya yang tinggal di daerah rawan banjir. Masyarakat harus siap dan terhindar dari berbagai kemungkinan terburuk dari datangnya banjir, salah satunya kehilangan barang berharga hingga terserang penyakit penyerta banjir.
Salah satu penyakit penyerta banjir yang jarang diketahui oleh masyarakat adalah penyakit leptospirosis. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit yang ditularkan melalui kencing tikus berupa bakteri yang masuk melalui kulit yang lecet atau selaput lendir pada saat kontak dengan banjir atau genangan air sungai hingga selokan dan lumpur.
Leptospirosis banyak terjadi di negara yang mempunyai curah hujan tinggi (tropis dan subtropis) serta di daerah dengan kondisi lingkungan buruk.
Kasus leptospirosis dapat mengalami peningkatan saat curah hujan tinggi dan sering menyebabkan wabah pada saat banjir sehingga sering disebut sebagai flood fever atau demam banjir.
Kejadian leptospirosis juga dipengaruhi ketinggian tempat karena ketinggian tempat akan mempengaruhi curah hujan suatu wilayah.
Kejadian Luar Biasa (KLB) leptospirosis di Indonesia umumnya muncul setelah terjadinya bencana, seperti pasca-banjir besar di Jakarta pada 2007, pasca-letusan Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada 2013, dan di Sampang, Madura pada 2013.
Sejak 2004 sampai 2013 telah terjadi kenaikan kasus leptospirosis di Indonesia dan semakin banyak provinsi yang melaporkan adanya kejadian leptospirosis. Oleh karena itu, penyakit tersebut mulai menjadi perhatian Kementerian Kesehatan RI.
Menurut International Leptospirosis Society, prevalensi leptospirosis di Indonesia cukup tinggi dengan angka kematian akibat leptospirosis sebesar 16,7 persen atau urutan ketiga setelah Uruguay dan India. Sumber lain menyebutkan angka kematian di Indonesia akibat leptospirosis berkisar antara 2,5 persen sampai 16,4 persen.
Menurut Kementerian Kesehatan RI, Case Fatality Rate (CFR) akibat leptospirosis di Indonesia pada tahun 2007 ke 2008 mengalami penurunan, dari 8,2 persen menjadi 6,0 persen.
Kemudian pada 2009 dan 2010 mengalami peningkatan kembali menjadi 6,87 persen dan 10,51 persen, sedangkan pada tahun 2011 turun kembali menjadi 9,57 persen.
Kejadian leptospirosis di Indonesia sangat fluktuatif setiap tahunnya. Pada 2008, sebanyak 131 penduduk Semarang positif leptospirosis. Pada 2011, DIY menjadi provinsi dengan kasus leptospirosis terbanyak dan selama tahun 2010-2011 terjadi KLB leptospirosis di Kabupaten Bantul.
Gejala penyakit leptospirosis yang dapat dirasakan oleh pasien yang terjangkit adalah adalah demam mendadak, lemah, mata merah, kekuningan pada kulit, sakit kepala, dan nyeri otot betis.
Tindakan pencegahan juga merupakan hal yang penting untuk diketahui, di antaranya adalah:
- Menggunakan sarung tangan dan sepatu boots saat membersihkan rumah/selokan
- Mencuci tangan dengan sabun setelah selesai beraktivitas
- Segera lakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala Leptospirosis seperti yang telah disebutkan diatas, agar bisa segera mendapatkan penanganan sedini mungkin dari para petugas kesehatan
Ternyata, wabah yang diakibatkan penularan penyakit dari hewan atau satwa ke manusia bukan hanya Covid-19. Beberapa wabah terjadi di daerah-daerah di Indonesia dan mengakibatkan puluhan korban meninggal dunia, yang terjadi bahkan hingga saat ini.
Oleh karena itu, manusia, hewan atau satwa, dan lingkungan sejatinya sangat berkaitan satu dengan yang lainnya. Jika kita peduli terhadap lingkungan dan hewan, sesunggguhnya itu adalah bentuk kepedulian terhadap diri kita dan keluarga kita sendiri.















