5 Jenis Burung Takur Dilindungi di Indonesia yang Masih Diperdagangkan

5 Jenis Burung Takur Dilindungi di Indonesia yang Masih Diperdagangkan
Takur tutut (Psilopogon rafflesii) Foto: waykambas.org

Gardaanimalia.com – Jenis burung takur yang hidup di Indonesia cukup banyak. Kabar buruknya adalah populasi burung ini semakin mengkhawatirkan. Alih fungsi lahan, penebangan secara besar-besaran, kebakaran hutan, serta perburuan liar untuk memenuhi permintaan pasar menjadi ancaman bagi kelestarian berbagai jenis burung takur. Meski sudah jelas disebutkan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor P.106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi, nyatanya burung takur yang termasuk hewan langka ini masih banyak diburu, ditangkap, diperdagangkan dan dipelihara.

1. Takur Tohtor (Psilopogon armillaris)

5 Jenis Burung Takur Dilindungi di Indonesia yang Masih Diperdagangkan
Takur Tohtor (Psilopogon armillaris). Foto: Biodiversity Warriors – KEHATI/Muhammad Bilal

Burung endemik Pulau Jawa dan Bali ini masuk dalam deretan jenis burung takur yang banyak diperdagangkan. Suara takur tohtor cukup khas. Burung dengan bulu yang didominasi oleh warna hijau ini memiliki ukuran tubuh sekitar 20 sentimeter dengan paruh berwarna hitam dan kakinya biru. Ciri fisik lain yang tak kalah mencolok adalah iris coklat, mahkota biru, serta memiliki garis kuning-jingga pada bagian dada dan dahi.

Habitat takut tohtor ada di hutan primer dataran rendah, perkebunan dengan pohon berbuah, dan hutan perbukitan. Burungnesia (2020) menyebutkan bahwa takur tohtor hanya memiliki sedikit kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan habitat. Dalam satu waktu, induk burung tohtor biasanya mengerami dua butir telur. Masa bertelur ini biasanya pada bulan April, Mei, dan Desember.

Agar populasinya tetap terjaga, kita perlu habitat takur tohtor di alam. Selain itu, tidak memelihara burung dilindungi juga menjadi kunci untuk menekan permintaan pasar dan mengurangi angka perburuan liar.

2. Takur Bultok (Psilopogon lineatus)

5 Jenis Burung Takur Dilindungi di Indonesia yang Masih Diperdagangkan
Takur Bultok (Psilopogon lineatus). Foto: ebird.org

Takur Bultok memiliki sebaran yang lebih luas dibandingkan takur tohtor. Burung yang dalam Bahasa Inggris dikenal sebagai lineated barbet ini tersebar di Asia Tenggara, Himalaya Barat, dan di Indonesia dapat dijumpai di Pulau Jawa dan Bali. Ukuran tubuhnya cukup besar yakni sekitar 29 sentimeter. Bulunya juga didominasi oleh warna hijau namun kepala dan lehernya berwarna coklat kekuningan pucat. Ada coretan putih yang khas pada bagian kepala dan tubuh bagian bawahnya. Warna kaki dan iris takur bultok terbilang cukup mencolok yakni kuning.

BACA JUGA:
9 Jenis Kucing Hutan Dilindungi yang Tidak Boleh Dipelihara

Takur bultok banyak menghuni hutan terbuka, pinggiran hutan, perkebunan homogen, dan hutan sekunder. Perdagangan burung ini terbilang cukup banyak. Diduga kuat seluruh burung yang diperjualbelikan itu merupakan tangkapan dari alam mengingat hingga saat ini belum ada catatan tentang penangkaran legal takur bultok.

3. Takur Warna Warni (Psilopogon mystacophanos)

5 Jenis Burung Takur Dilindungi di Indonesia yang Masih Diperdagangkan
Takur Warna Warni (Psilopogon mystacophanos). Foto: ebird.org

Takur warna warni umum dijumpai di Semenanjung Malaysia, Kepulauan Tana, Myanmar, Pulau Sumatera dan Kalimantan. Burung ini memiliki ukuran tubuh kurang lebih 23 sentimeter serta memiliki ciri khas yang berbeda antara burung jantan dan betina. Pada takur warna warni jantan, dahinya berwarna kuning dengan tenggorokan berwarna merah. Sedangkan, pada betina, kakang dan mahkota belakangnya berwarna merah tanpa ada warna hitam di kepala. Namun, warna bulunya tetap didominasi oleh warna hijau.

Baca juga: Miris! 4 Satwa Dilindungi Ini yang Masih Sering Dibantai Untuk Dikonsumsi

Takur warna warni biasa hidup di hutan dataran rendah, hutan tebangan, kaki bukit, hutan primer, dan ada juga yang dijumpai di hutan sekunder. Namun, sebagian takur warna warni yang dapat dijumpai di bawah ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Spesies yang bergantung pada hutan ini diperkirakan menurun cukup cepat karena hilangnya habitat di seluruh wilayah jelajahnya. Untuk jumlah populasi burung takur warna-warni di alam, saat ini tidak diketahui secara pasti.

4. Takur Api (Psilopogon pyrolophus)

5 Jenis Burung Takur Dilindungi di Indonesia yang Masih Diperdagangkan
Takur Api (Psilopogon pyrolophus) Foto : Inaturalist/Catalina Tong

Burung yang mengeluarkan suara keras seperti tonggeret ini dapat dijumpai pada ketinggian 500 meter hingga 1500 meter. Burung yang rata-rata ukuran tubuhnya 26 sentimeter ini tersebar di Semenanjung Malaysia dan Pulau Sumatera. Pada dasarnya, takur api memiliki ciri fisik yang sama dengan keempat jenis takur lain yakni memiliki bulu berwarna hijau. Hanya saja pada bagian dada takur api terdapat pita kuning dan dibatasi oleh garis hitam di bawahnya. Bagian kepalanya memiliki warna hitam, hijau, abu-abu, dan ungu muda. Paruhnya berwarna hijau-krem dengan garis tengah hitam. Yang paling khas ialah rambut jingga terang yang berada di atas paruhnya.

BACA JUGA:
Peneliti: Sisik Trenggiling Tidak Mengandung Tramadol HCL untuk Bahan Sabu

Perburuan dan perdagangan masih menjadi ancaman serius terhadap kelestarian populasi takur api. Menurut Irma Hermawati sebagai Legal Advisor Wildlife Crime Unit, tren perdagangan satwa liar dilindungi semakin canggih. Selain tetap menjual satwa di beberapa pasar burung, para pelaku kini memanfaatkan media sosial. Adanya komunitas-komunitas yang menganggap diri mereka pencinta satwa liar dengan memelihara satwa liar dilindungi turut menyemarakkan terjadinya perdagangan.

5. Takur tutut (Psilopogon rafflesii)

5 Jenis Burung Takur Dilindungi di Indonesia yang Masih Diperdagangkan
Takur tutut (Psilopogon rafflesii) Foto: waykambas.org

Burung takur tutut rata-rata berukuran 25 sentimeter dengan bulu warna hijau dan warna kepala yang hampir sama dengan takur warna warni. Hanya saja yang membedakannya adalah seluruh mahkota takur tutut berwarna merah serta adanya warna hitam pada bagian tenggorokan dan bercak kuning pada bagian pipi. Ciri fisik lain yakni iris coklat, paruh hitam, dan kaki abu-abu. Takur tutut memiliki suara yang indah karena memiliki suara ketukan dua nada yang dalam. Meski indah, burung ini tetap tidak boleh dipelihara ya karena populasinya makin menurun.

Burung yang tersebar di Semenanjung Malaysia, Sumatera, serta Kalimantan ini dapat dijumpai pada hutan cemara dataran rendah dan dapat hidup juga dj berbagai tipe hutan termasuk di antaranya hutan rawa, gambut, dan kerangkas. Populasi burung takur ini menurun karena deforestasi dan kebakaran hutan. Belum lagi adanya perburuan dan perdagangan takur tutut sebagai akibat dari permintaan pasar terus bertambah menjadikan populasi takur tutut di alam semakin menipis.

Subscribe
Notify of
guest
6 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
chizmill
chizmill
9 months ago

artikel di atas mengandung isi yang sangat bermanfaat. bahasa yang di pakai pun merupakan bahasa yang mudah dimengerti sehingga inti yang ingin disampaikan penulis dapat di terima dengan mudah dan memiliki penyampaian isi yang jelas bagi pembaca.

chizmill
chizmill
9 months ago

artikel di atas mengandung isi yang sangat bermanfaat. bahasa yang di pakai pun merupakan bahasa yang mudah dimengerti sehingga inti yang ingin disampaikan penulis dapat di terima dengan mudah dan memiliki penyampaian isi yang jelas bagi pembaca, khususnya bagi saya sendiri.

Rita Restiani
Rita Restiani
9 months ago

Bagusss artikelnya..
Memang kita masyarakat harus sering di suguhkan dengan artikel seperti ini biar membuka wawasan tetang binatang yang sebelumnya tidak di kenal masyarakat seperti ini, dengan membaca artikel ini saya jadi mengetahui ternyata memang ada namanya burung takur dan begitu beraneka ragamnya burung indah ciptaan Tuhan yang harus kita lindungi bersama

Vcss
Vcss
9 months ago

Baguss . Setelah saya baca ini saya jadi tahu dari awal nya belum tahu. Terimakasih artikelnya

Haris Al Takdir
Haris Al Takdir
9 months ago

Artikelnya cukup bagus, memang edukasi semacam inilah yang diperlukan untuk masyarakat sehingga tergerak kesadarannya untuk menjaga keanekaragaman hayati yang sudah di anugrahkan Tuhan