Deforestasi Merenggut Masa Depan Mamalia

  • Share
Ilustrasi Deforestasi
Ilustrasi Deforestasi. Foto: @brgfx

Gardaanimalia.com – Di bawah terik matahari di penghujung musim panas yang tidak menentu ini, Sumini diam terpaku mengepit kedua tangan di antara lutut. Ia menyaksikan satu per satu pohon yang mengisut bersamanya bergiliran tumbang. Akar-akar kuat tercerabut dari genggamannya yang menghunus jauh ke jantung tanah. Sorotan mata bersiap memberi aba-aba tanda dimulainya pertunjukkan orkestra sekelompok perangai-perangai hamba titahan sang dirigen.

Tuan mandor menyiratkan ketenangan yang mengerikan. Pekingan sinso mengalun perlahan tapi pasti merenggut hidup sang pohon, berbalas guruhan monoton mesin pengeruk yang turut peran mengatur larik irama. Disusul cucuran keringat hitam yang jatuh membekas menciptakan simfoni singkat, kini, kanopi-kanopi lebat yang rimbun itu telah tiada.

Ini bukan pertama kalinya. Sumini sudah biasa menyaksikan pertunjukan ini. Tunggu dulu, apakah ini memang hal biasa? Deforestasi dan perburuan liar yang masif dilakukan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan industri seperti pembukaan lahan perkebunan, pertambangan, dan pembangunan jalan serta kota, apakah ini bisa dianggap wajar karena sudah terlalu sering dilakukan? Ia kini bertanya-tanya. Yang ia tahu, perubahan iklim dan kepunahan satwa liar sudah jelas di depan mata.

Sepanjang 2018-2020 saja, Sumini harus menjadi saksi deforestasi seluas 570.000 hektare di bumi pertiwi. “Itu hampir setara luas Jakarta,” batinnya. Bahkan, jika diingat lebih detail, pada tahun 2020 deforestasi di Kalimantan mencapai 41.500 hektare. Itu adalah angka tertinggi di antara daerah lainnya. Ya, mungkin angka itu menurun dari tahun-tahun sebelumnya, tapi apakah itu sudah cukup?

Sumini mulai memutar ulang semua memori tentang hutan rimbun dengan satwa liar yang hidup sejahtera di dalamnya. Rasanya memori itu sudah mulai memudar karena sudah usang. Ia kembali bertanya-tanya, apakah ia tengah berhutang kepada lingkungan dan anak cucunya? Apakah para mamalia besar yang rentan terhadap kepunahan karena siklus reproduksi yang lambat akan tetap bertahan meski rumahnya dirampas tanpa ampun?

BACA JUGA:
Untuk Kesekian Kalinya, Konflik Harimau dan Manusia Kembali Terjadi

Ya, para mamalia itu merupakan kelompok hewan yang sangat rentan terhadap kepunahan karena siklus reproduksi yang lambat dan kebutuhan energi yang tinggi. Mereka membutuhkan banyak makanan untuk bertahan hidup. Jika tak salah, Sumini pernah mendapat cerita dari orang tuanya bahwa Indonesia memiliki jumlah mamalia unik terbesar dengan 281 spesies endemik, di antaranya orang utan, harimau sumatera, dan gajah sumatera. Namun, sepertinya saat ini mamalia endemik itu nasibnya berada di ujung tanduk.

Deforestasi telah melenyapkan sumber makanan mereka yang kemudian berdampak pada populasi mamalia. Selain itu, daya jelajah satwa mamalia besar terbilang cukup jauh. Tak heran jika akhirnya belakangan ia sering mendengar cerita tentang gajah atau harimau yang melintas di tengah kawasan perkebunan karena kawasan tersebut sebenarnya termasuk jalur jelajah mereka. Konversi hutan menjadi perkebunan tentu mempersempit ruang hidup satwa-satwa itu!

Sumini menghela nafasnya. Nasib mamalia besar itu sepertinya semakin kusut melihat habitat yang rusak parah. Ditambah lagi dengan maraknya perburuan liar. Ia sering melihat bagiamana industri perkebunan menempatkan satwa sebagai hewan pengganggu yang kemudian diusir dengan menggunakan jalan pintas. Entah itu diberi racun, ditangkap dengan jebakan, hingga ditembak mati dengan senapan.

Baca juga: Lumba-lumba Tak Bersirip, Si Mamalia Laut yang Nasibnya Kian Memprihatinkan

Selain motif mempertahankan wilayah manusia, perburuan satwa untuk kemudian diperjualbelikan baik secara utuh maupun diambil organ tubuhnya pun sering terjadi. Terbukti, hingga hari ini perdagangan gading, kulit dan daging satwa masih marak. Mirisnya, lebih dari 95% satwa maupun organ tubuh yang diperjualbelikan adalah hasil tangkapan dari alam.

Bukankah satwa berperan penting dalam regenerasi hutan? Namun, deforestasi telah mengubah keanekaragaman hayati dan mempercepat fenomena yang berdampak bagi makhluk hidup. Orang utan, mamalia yang selama hidupnya tersebut mampu membantu konservasi hutan melalui penyebaran biji-bijian dari sisa makanannya malah diburu. Padahal primata yang memiliki sifat arboreal atau hidup di pepohonan dengan daya jelajah sejauh 100 km ini merupakan spesies kunci untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

BACA JUGA:
BKSDA Aceh Translokasi Gajah Liar dengan Alat Berat

Mata Sumini kini berkaca-kaca, membayangkan harimau sumatera yang merupakan predator puncak dalam jejaring makanan ini masuk dalam spesies terancam punah. Padahal harimau memiliki peran penting sebagai pengendali ekosistem. Satwa ini memiliki kemampuan untuk mengontrol populasi jenis hewan lain agar tidak melewati daya dukung lingkungan. Jika predator tingkat atas ini punah maka akan berujung pada kerusakan ekosistem secara menyeluruh.

Disadari atau tidak, fenomena ketimpangan populasi hewan seperti serbuan tikus ke ladang-ladang pertanian, ular-ular yang masuk pekarangan rumah, dan lainnya merupakan efek domino dari dominasi manusia secara berlebihan. Tidak! Ini bukan faktor alam atau bumi yang kian tua, tetapi ini adalah akibat dari ulah kita, manusia. Ini semua adalah penegasan akan gagalnya kita dalam mengatasi krisis lingkungan bila moratorium dan hukum secara ketat tidak sesegera mungkin ditegakkan.

Akankah Sumini hanya mampu menyaksikan kenestapaan di depan mata sambil bertanya-tanya sendiri tanpa mau berbicara dan bertindak untuk menyelamatkan satwa-satwa yang kian langka?

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments