Empat Spesies Angsa-batu yang Dilindungi di Indonesia

  • Share
Dua ekor angsa-batu christmas. | Sumber: Sakadoci
Dua ekor angsa-batu christmas. | Sumber: Sakadoci

Gardaanimalia.com – Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan fauna. Berbagai macam spesies burung di antaranya angsa dapat kita temukan, mulai dari angsa dilindungi hingga yang umum dijadikan peliharaan oleh manusia.

Angsa-batu adalah contoh dari burung yang dilindungi menurut UU Nomor 5/1990 dan PP Nomor 7/1999 serta tercantum pula dalam Peraturan Menteri KLHK Nomor P.106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

Angsa-batu atau dikenal dengan nama lain gangsa-batu merupakan burung yang termasuk dalam famili Sulidae, genus Sula, dan merupakan burung laut.

Terdapat 4 spesies dari angsa-batu yang dilindungi, di antaranya Papasula abbotti (angsa-batu christmas), Sula dactylatra (angsa-batu topeng), Sula leucogaster (angsa-batu coklat), dan Sula sula (angsa-batu kakimerah).[1]Permen LHK Nomor P.106/2018

1. Papasula abbotti (angsa-batu christmas)

Papasula abbotti dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Abbott’s booby, merupakan jenis angsa-batu yang paling unik dibandingkan spesies angsa-batu lainnya. Salah satunya terletak pada perbedaan bentuk paruh.

Angsa-batu christmas memiliki paruh sedikit bengkok dengan bentuk tombak bergerigi di bagian ujungnya. Keunikan lain burung satu ini adalah memiliki genus yang berbeda yaitu Papasula, sedangkan angsa-batu lainnya berada dalam genus Sula.

Burung ini memiliki berat sekitar 1,5 kg dan panjang tubuh 80 cm. Tubuhnya didominasi warna hitam dan putih yang hampir mirip seperti angsa-batu topeng. Namun, bulu putihnya sedikit pucat dan terlihat kontras dengan sayap serta ekornya yang hitam.

Selain itu, Papasula abbotti juga memiliki penutup mata berwarna hitam. Sementara, kedua kakinya berwarna biru dan memiliki selaput dengan ujung luar berwarna hitam.[2] https://en.wikipedia.org/wiki/Abbott%27s_booby

Perbedaan yang dapat kita lihat antara jantan dan betina adalah pada paruhnya. Burung jantan memiliki paruh abu-abu pucat dengan ujung hitam, sedangkan betina memiliki paruh merah muda dengan ujung yang juga berwarna hitam.[3]http://www.edgeofexistence.org/species/abbotts-booby/

Adapun siklus perkembangbiakannya, Papasula abbotti terbilang lebih lama dari spesies dalam famili Sulidae lainnya, yakni berlangsung 15-18 bulan, dan untuk menjadi dewasa secara seksual membutuhkan waktu hingga 8 tahun. Umur rata-rata spesies ini diperkirakan sekitar 40 tahun.

BACA JUGA:
Kambing Hutan Sumatra, Si Hitam Tangguh Pemanjat Tebing

Sebelum Papasula abbotti ditetapkan menjadi burung dilindungi, persebarannya mencapai wilayah Samudera Hindia dan Pasifik. Namun, saat ini tak lagi begitu karena satwa ini hanya dapat ditemui terbatas di Pulau Christmas (sebuah wilayah Australia yang terletak di Samudera Hindia bagian timur) dan beberapa kali terlihat di perairan Indonesia.[4]https://en.wikipedia.org/wiki/Abbott%27s_booby

Penyebab dari menyusutnya angsa-batu christmas yaitu dikarenakan adanya penambangan fosfat yang mengakibatkan kerusakan habitat satwa tersebut. Spesies ini juga terancam oleh turbulensi angin, polusi laut dan penangkapan ikan yang berlebihan.[5]http://www.edgeofexistence.org/species/abbotts-booby/

2. Sula dactylatra (angsa-batu topeng)

Seekor angsa-batu topeng. | Foto: Cameron Rutt/Macaulaylibrary
Seekor angsa-batu topeng. | Foto: Cameron Rutt/Macaulaylibrary

Sula dactylatra atau yang biasa dikenal sebagai angsa-batu topeng merupakan salah satu jenis burung laut yang memiliki ciri wajah seperti memakai topeng rapi berwarna hitam yang tampak kontras pada tubuhnya yang didominasi warna putih. Warna hitam lainnya dapat dilihat pula pada bagian ujung ekor dan sayap.

Angsa-batu topeng memiliki paruh berwarna kuning yang tebal dan memanjang ke depan. Saat remaja, ia memiliki warna bulu cokelat pada bagian kepala dan tubuh atas, kerah putih, serta tubuh bagian bawah putih dengan pola garis hitam pada sayap bawah.[6]https://aves.duri.my.id/2018/03/angsa-batu-coklat.html Saat remaja, topeng pada burung ini belum muncul.

Spesies ini kerap terlihat terbang rendah di atas laut dengan kepakan sayap yang lurus dan kuat, biasanya membentuk formasi acak dalam kelompok. Bila menemukan mangsa mereka akan terbang berputar.

Burung dilindungi ini mempunyai wilayah persebaran di Indonesia, yang meliputi Sumatera (selat Malaka dan Selat Sunda), Kalimantan bagian utara, serta lepas pantai Jawa bagian selatan.[7]https://aves.duri.my.id/2018/03/angsa-batu-coklat.html

Satwa yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia tersebut memiliki kebiasaan bersuara nyaring ketika berkembang biak. Saat tiba waktu akan berkembang biak, mereka memilih daerah dengan persediaan makanan yang melimpah. Karena ketersediaan makanan menjadi salah satu faktor utama yang mendukung perkembangbiakan burung ini.

Makanan utamanya adalah ikan pelagis. Namun jika di suatu wilayah yang ia tempati memiliki jumlah ikan pelagis yang tak banyak, maka angsa-batu topeng akan memangsa cumi dan ikan terbang. Keberadaan mangsa diketahui berkaitan erat dengan pemanasan global dan perubahan suhu di laut. Kedua faktor tersebut menyebabkan mangsa utama angsa-batu topeng semakin sulit diprediksi.[8]https://www.allaboutbirds.org/guide/Brown_Booby/overview

3. Sula leucogaster (angsa-batu coklat)

Angsa-batu coklat tengah bertengger di dahan pohon. | Foto: Bill Adams/Macaulaylibrary
Angsa-batu coklat tengah bertengger di dahan pohon. | Foto: Bill Adams/Macaulaylibrary

Seperti namanya, angsa-batu coklat memiliki warna tubuh yang didominasi dengan warna cokelat. Pada bagian tubuh bawah tepatnya di daerah perut burung ini berwarna putih. Ia memiliki kaki berwarna kuning yang berselaput di antara sela jarinya.

BACA JUGA:
Lutung Budeng, Sering Diperjualbelikan Hingga Terancam Punah

Pada saat usia remaja, hampir keseluruhan tubuh Sula leucogaster berwarna cokelat. Angsa-batu jenis ini tidak memiliki bulu di wajahnya, akan tetapi ia mempunyai kulit yang berwarna. Betina berwarna kuning kemerahan sedangkan jantan memiliki warna kulit muka kebiruan. Warna iris matanya abu-abu dengan paruh kuning pada burung dewasa dan abu-abu pada burung yang masih remaja.

Sula leucogaster adalah salah satu burung yang mempunyai keahlian berenang cukup baik. Mereka berenang menggunakan kedua kaki selaput serta dibantu oleh sayapnya. Burung dengan ukuran tubuh 64-85 cm ini mencari makan dengan terbang di atas air lalu dengan segera berputar dan menyelam ketika mangsa sudah muncul. Mereka cenderung mencari makan secara berkelompok.

Jika kamu ingin menemuinya, habitat burung ini paling umum terletak di Sunda Besar, satu-satunya jenis burung yang umum tercatat di lepas pantai. Biasanya ditemukan di lepas pantai Jawa, terutama di Selat Sunda yang kemungkinan menjadi tempat berkembang biak. Beberapa informasi lain mengatakan burung ini terkadang terlihat di lepas pantai Sumatera.

Bicara soal berkembang biak, dalam sekali bertelur, betina dapat menghasilkan 1 hingga 3 butir telur dengan masa inkubasi 42 sampai 45 hari. Telurnya memiliki warna pucat kebiruan atau kehijauan, dengan lapisan luar berwarna putih.

Saat ini populasi angsa-batu coklat mengalami penurunan yang diperkirakan 90% lebih rendah dari 100 tahun yang lalu. Seperti kebanyakan burung laut yang berkembang biak di pulau, angsa-batu coklat sangat rentan terhadap predator.

Tak hanya itu, gangguan lain yang berasal dari manusia seperti penangkapan ikan secara besar-besaran serta polusi yang terus meningkat juga berdampak negatif pada jumlah spesies ini.[9]https://www.allaboutbirds.org/guide/Masked_Booby/overview

4. Sula sula (angsa-batu kakimerah)

Angsa-batu kakimerah. | Foto: Marilyn Henry/Macaulaylibrary
Angsa-batu kakimerah. | Foto: Marilyn Henry/Macaulaylibrary

Angsa-batu kakimerah yang memiliki nama ilmiah Sula sula adalah jenis burung yang memiliki kemampuan terbang cukup kuat. Ia mampu menggunakan sayap lebarnya yang berukuran 152 cm untuk menempuh perjalanan hingga sejauh 93 mil.

BACA JUGA:
Alasan Mengapa Tiong Nias Tak Boleh Punah

Burung dengan ciri khas kaki berselaput merah ini memiliki warna tubuh yang didominasi putih dan terlihat pada bagian kepala, leher dan tunggir yang terdapat sedikit campuran warna emas kekuningan pucat serta ujung sayap yang berwarna hitam kecokelatan.

Mata Sula sula berwarna cokelat gelap, ujung paruh pucat, kulit pada pangkal paruh merah muda, dan tenggorokan biru keabuan atau merah muda. Pada individu remaja memilki warna berbeda dari dewasa, seluruh tubuh berwarna cokelat atau cokelat keabu-abuan dengan kaki abu kekuningan.[10]https://www.nationalgeographic.com/animals/birds/facts/red-footed-booby

Mereka memiliki paruh panjang, tubuh ramping dan aerodinamik (dapat beradaptasi baik dengan udara). Lubang hidung spesies ini dapat ditutup, dan ia mempunyai sayap panjang sehingga menjadikannya penyelam yang handal.

Sebenarnya, burung dilindungi ini memiliki dua morfologi yaitu angsa-batu kakimerah terang yang memiliki warna tubuh putih dan satu lainnya yang memiliki warna tubuh cenderung gelap kecokelatan.[11]https://www.allaboutbirds.org/guide/Red-footed_Booby/id

Selama musim kawin, ratusan Sula sula berkumpul untuk berpasangan dan berkembang biak. Betina bertelur hanya satu telur setiap 15 bulan dengan perkiraan bertelur pada bulan April hingga Juni. Unggas ini dapat berkembang biak dengan baik di pulau-pulau daerah tropis seperti Samudera Hindia, Pasifik dan Atlantik.

Adapun ancaman terbesar bagi kawanan satwa ini adalah pembangunan pesisir dan industri perikanan yang mengambil banyak sumber makanan mereka. Sehingga, bukan hanya pakannya yang berkurang, pepohonan serta semak-semak di garis pantai yang sering dikunjungi burung-burung ini juga kian menghilang karena manusia mengambil lebih banyak garis pantai.[12]https://www.nationalgeographic.com/animals/birds/facts/red-footed-booby

Referensi[+]

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments