Edukasi

Mengenal Burung Maleo, Satwa Endemik Sulawesi yang Kini Terancam Punah

05/05/2026|Fairus Salsabila Zahro
Burung maleo Macrocephalon Maleo di habitatnya Foto wikemedia commons - Mengenal Burung Maleo Satwa Endemik Sulawesi yang...

Burung maleo (Macrocephalon Maleo) di habitatnya. | Foto: wikemedia commons

Gardaanimalia.com - Jika membahas soal satwa unik dari Indonesia, burung maleo (Macrocephalon maleo) adalah salah satu yang tidak boleh dilewatkan. Burung endemik asal Sulawesi ini punya banyak keistimewaannya, mulai dari ciri fisiknya, kesetiaannya pada satu pasangan, hingga cara berkembiaknya. Bukannya mengerami telur dengan tubuhnya, burung maleo justru "menitipkan" telurnya di pasir panas atau tanah bersuhu alami tertentu. 

Kebiasaan unik ini hanyalah satu dari sekian banyak keistimewaan yang dimiliki burung endemik asal Sulawesi ini. Sayangnya, keistimewaan ini kini terancam menghilang seiring populasi burung maleo yang terus menyusut. 

Pada artikel ini, kita akan mengenal lebih dekat si unik maleo, mulai dari ciri fisik, makanan dan habitat, hingga kebiasaannya.

Ciri Fisik Burung Maleo 

Burung maleo memiliki bulu yang dominan berwarna hitam, kulit di sekitar matanya berwarna kuning, iris mata berwarna merah agak kecoklatan, kakinya abu-abu, paruhnya warna jingga dan bulu bagian bawah berwarna merah muda cenderung keputihan. 

Ciri khasnya yaitu terdapat tonjolan keras berwarna hitam yang ada di atas kepalanya. Tonjolan keras hitam di atas kepala atau yang kerap disebut casque atau jambul. 

Bagian tersebut hanya muncul saat burung mencapai usia dewasa, tidak terlihat pada anak atau remaja. Ukuran tubuh burung ini tergolong sedang, dengan panjang sekitar 55 sentimeter1

Baik Maleo jantan maupun betina keduanya serupa, hanya saja umumnya betina memiliki ukuran yang lebih kecil dan warna lebih gelap dibanding pejantan. 

Makanan dan Habitatnya 

Secara umum, sebagian besar pakan burung maleo adalah biji-bijian seperti kacang tanah, padi, jagung kuning, dan kedelai. 

Selain itu juga ada jenis buah-buahan, seperti biji kemiri (Aleurites moluccana), buah nibung, rao (Dracontomelon mangiferum), nantuk (Endiandra sp), Ficus sp, dan Macaranga sp. Tidak hanya buah, burung maleo juga memakan serangga, siput air tawar, kepiting dan juga cacing, serta beberapa jenis hewan kecil lainnya2

Maleo biasanya aktif mencari makanan saat siang hari, mulai matahari terbit sampai dengan terbenam. Mereka mencari makan di lantai hutan, sisi tepi sungai, di rawa-rawa, maupun di danau. 

Mengenai habitatnya, burung maleo biasa bersarang di dekat sumber panas geotermal seperti area pasir yang terbuka, maupun di sekitar pantai gunung berapi, daerah-daerah yang cenderung hangat dari panas bumi agar mereka bisa menetaskan telurnya yang besar. 

Mereka memang memilih habitat dengan karakteristik khusus untuk bertelur, misalnya di berbagai gundukan pasir berkerikil yang mana tumbuh vegetasi tertentu. Habitat burung maleo ini sebenarnya cukup beragam, mulai dari daerah yang terbuka hingga hutan-hutan dataran rendah dengan beragam jenis pepohonan. 

Cara Menetaskan Telur yang Tak Biasa

Burung maleo termasuk burung siang yang hidup secara berkoloni. Pada malam hari, mereka tidur di pepohonan, sementara sebagian besar waktunya di siang hari dihabiskan dengan mencari makan menggunakan cara mengais-ngais tanah. 

Ketika menyadari adanya bahaya, burung maleo cenderung memilih berlari dan bersembunyi di balik tumbuhan daripada terbang. 

Selain perilaku hariannya yang khas, burung maleo juga dikenal memiliki cara bereproduksi yang unik dan berbeda dari burung pada umumnya. 

Berbeda dari kebanyakan burung yang mengerami telurnya sendiri, maleo justru mengubur telur mereka di pasir yang suhunya tinggi, memanfaatkan panas geothermal alami atau sinar matahari, hingga telur tersebut menetas 3.

Cara unik ini dilakukan karena ukuran telur maleo sangat besar dibandingkan tubuhnya yang tergolong kecil, bahkan sekitar lima kali lebih besar dari telur ayam. 

Ukuran telur yang luar biasa besar itu pun membuat proses bertelur menjadi sangat melelahkan, hingga induk maleo bisa pingsan setelah selesai bertelur.

Setelah itu, anakan maleo yang baru menetas harus berjuang selama sekitar 80 hari di dalam cangkang, lalu berjuang lagi untuk keluar dari timbunan pasir atau tanah. 

Perjuangan ini tidaklah mudah, tidak jarang anakan maleo mati dalam usahanya menembus keluar dari timbunan tersebut. 

Dikenal Setia 

Selain cara bertelur yang tak biasa, burung maleo juga memiliki ciri unik lainnya, yaitu dikenal sebagai burung yang setia. Ini karena maleo merupakan satwa monogami. 

Mereka hidup berdampingan dengan pasangannya, saling melindungi satu sama lain. Ini bukanlah tanpa alasan, melainkan karena memang strategi untuk bertahan hidup paling efektif baginya adalah setia ke satu pasangan saja. 

Kesetiaan ini semakin terlihat dari caranya bekerja sama ketika berkembang biak, mulai dari pencarian lokasi untuk proses bertelur sampai dengan mengubur telur mereka di pasir hangat. 

Walaupun maleo tidak mengerami telur mereka seperti jenis-jenis burung pada umumnya, namun kekompakan dan juga kepercayaan antar pasangan burung maleo menjadi suatu bukti bahwa hubungan mereka tersebut bukan sekedar sementara. 

Perilaku inilah yang menunjukkan bahwa meskipun di alam liar sekalipun, sikap kesetiaan serta kerja sama tetaplah menjadi kunci di dalam upaya mempertahankan kelangsungan hidup suatu spesies. 

Ancaman-Ancaman yang Dihadapi 

Seiring berjalannya waktu, burung maleo menghadapi sejumlah ancaman yang bisa memengaruhi kelangsungan hidupnya. 

Dalam penelitian terbaru yang diterbitkan oleh Alliance for Tompotika Conservation (AlTo), perburuan telur burung maleo adalah ancaman paling utama bagi burung tersebut saat ini, terutama populasinya. 

Telurnya yang berukuran besar dan kaya nutrisi itu sering diambil untuk dikonsumsi atau diperjualbelikan. Padahal, tindakan membunuh, mengambil, menahan, mengganggu, atau memperdagangkan telur burung maleo, produk, ataupun burung hidup adalah tindakan yang ilegal.

Selain itu, kerusakan habitat akibat dari pembukaan lahan untuk pertanian, perkebunan, serta pembangunan infrastruktur juga turut mengurangi ruang hidup alami burung maleo. 

Pembangunan tersebut juga menyebabkan fragmentasi habitat, yang mana itu bisa membuat populasi maleo jadi terisolasi dan mempersulit mereka berpindah untuk mencari lokasi bertelur yang tepat. 

Perubahan iklim juga ikut memperparah kondisi tersebut, termasuk juga suhu dan kelembaban yang dibutuhkan untuk inkubasi telur secara alami. Di sisi lain, hewan-hewan seperti biawak, ular, dan lainnya bisa saja memangsa telur dan anak burung maleo.

Status Konservasi 

Melansir laman Aliansi Konservasi Tompotika, pada tahun 2004, IUCN memperkirakan populasi burung maleo hanya berjumlah sekitar 8.000 sampai 14.000 ekor. Satwa yang unik ini seiring waktu semakin langka, dan karena itulah mereka dilindungi dari kepunahan. Burung maleo telah dikategorikan sebagai satwa yang "terancam punah" (Endangered) oleh IUCN Red List. 

Selain itu, burung maleo juga termasuk dalam daftar CITES Appendix I, serta dilindungi penuh oleh pemerintah Indonesia melalui PP No. 106 Tahun 2018.

Melestarikan burung maleo bisa dilakukan melalui langkah sederhana dari kita sebagai masyarakat. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah tidak membeli atau mengonsumsi telur burung maleo.

Selain itu, kita bisa membantu meningkatkan kesadaran orang lain, misalnya dengan membagikan informasi tentang burung maleo di internet dan media sosial, atau sekadar mengobrol santai tentangnya dengan orang sekitar. 

Jika ada kesempatan, kita juga bisa mendukung program konservasi, misalnya lewat donasi, turut serta dalam kegiatan edukasi, ataupun mengunjungi kawasan konservasinya secara bertanggung jawab. 

Itulah gambaran umum tentang burung maleo yang perlu diketahui. Burung maleo bukan hanya satwa endemik yang unik, tetapi juga menjadi simbol penting dalam upaya pelestarian satwa liar Indonesia. Keberadaannya yang semakin terancam menjadikan burung maleo sebagai salah satu pengingat akan betapa pentingnya menjaga keseimbangan alam.


1 Bouglouan, Nicole. (n.d.). "Maleo." Oiseaux-Birds. https://www.oiseaux-birds.com/card-maleo.html
2 Afandi et al. / J. Agrisains 23 (3) 2022: 148-153
3 BKKSDA Sulawesi Selatan, "Identifikasi Spesies Kunci Sulawesi: Maleo Si Burung Anti Poligami," diakses [5 Mei 2025], https://bbksdasulsel.ksdae.kehutanan.go.id/identifikasi-spesies-kunci-sulawesi-maleo-si-burung-anti-poligami.