Punai Tak Boleh Punah! Kenali Dua Jenisnya yang Dilindungi

3 min read
2021-10-06 17:19:24
Iklan
Belum ada deskripsim Lorem ipsum dolor sit amet, corrupti tempore omnis esse rem.



Gardaanimalia.com - “Kulihat punai itu. Tubuhnya lebih besar dari punai biasa. Matanya hitam dan tajam. Paruhnya seperti mata panah. Bulunya hijau berkilat-kilat. Kakinya seperti kaki rajawali. Kuku-kukunya laksana besi. Ia gagah, menantang, dan tak takut. Burung itu memang berkarisma seorang raja.”

Itu adalah kutipan dari novel Padang Bulan karya Andrea Hirata yang menceritakan mengenai kehebatan merpati hijau (green pigeon) sebutan lain dari burung punai. Dalam klasifikasinya, burung punai masuk dalam famili columbidae dengan genus treron. Genus ini beranggotakan 31 spesies dari seluruh dunia dan tiga belas di antaranya hidup di Indonesia.

Secara umum, burung dari famili atau suku columbidae ini mempunyai bentuk tubuh yang padat gemuk, paruh pendek dan kuat, serta memakan buah-buahan dan biji (Necker, 2017). Mereka bersarang di atas tanah, pohon atau semak dengan sarang berbentuk punggung dari ranting-ranting pohon kering. Sarang itu mereka gunakan untuk meletakkan telurnya yang berwarna putih sebanyak satu hingga dua butir (Klappenbach, 2013).

Di Indonesia, punai adalah salah satu burung yang banyak diburu karena dianggap hama maupun untuk dikonsumsi (Sawitri et al., 2009). Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi, dua jenis burung punai masuk ke dalam kategori dilindungi, yaitu punai timor (Treron psittaceus) dan punai sumba (Treron teysmannii).

1. Punai Timor (Treron psittaceus)


Punai timor memiliki panjang tubuh kira-kira 28-32 sentimeter. Tubuhnya berwarna hijau, namun bagian tenggorokan dan tunggir berwarna hijau kekuningan lebih terang. Bagi jantan, sayapnya berwarna kuning terang sedangkan bagi betina, berwarna putih kekuningan.

Burung yang juga dikenal dengan nama burung lenggus ini memiliki habitat di hutan primer dan sekunder yang tinggi, serta hutan dataran rendah monsun sekunder dengan ketinggiann 600 meter di atas permukaan air laut.

Punai timor tinggal berpindah-pindah mengikuti siklus hidup pohon ara sebagai salah satu sumber makanannya. Mereka suka mencari makan di tempat yang rimbun. Hal itu dilakukan untuk menghindari dari ancaman. Burung ini dapat dijumpai dalam kelompok kecil yang jumlahnya bisa terdiri dari dua puluh ekor.

Persebaran burung ini adalah di Pulau Timor dan pulau lain di sekitarnya, serta Timor Leste. Tiga lokasi yang masih menjadi kawasan pelestarian punai timor antara lain adalah Hutan Bipolo, Hutan Camplong, dan Cagar Alam Gunung Mutis.

Mirisnya, pada tahun 1989 di Bipolo, hanya ditemukan sebuah kelompok yang diperkirakan terdiri dari 60 ekor punai. Survei selama sembilan minggu yang kembali dilakukan di Timor Barat pada tahun 1993 mencatat, tidak ada satu pun punai timor yang ditemukan. Dalam situs IUCN, kini hanya terdapat kira-kira 660 hingga 2.000 ekor punai timor dewasa yang masih terdapat di alam.

Data IUCN juga menunjukkan, status burung ini adalah terancam. Tren populasinya juga terus mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya lahan hutan dataran rendah serta tingginya perburuan liar. Hutan monsun di Pulau Timor terus mengecil ukurannya akibat penenbangan hutan secara liar.

2. Punai Sumba (Treron teysmannii)




Pulau Sumba memang terkenal sebagai salah satu kawasan dengan keragaman burung endemik tertinggi di Indonesia. Terhitung, setidaknya terdapat 215 jenis burung di pulau itu, salah satunya punai sumba. Punai sumba merupakan satwa endemik Sumba.

Punai sumba memiliki panjang tubuh sekitar 29 sentimeter dengan warna kuning yang cukup mencolok di bagian sayap. Pada jantan, punggung bawahnya merwarna merah seperti manggis, sedangkan pada betina punggungnya berwarna hijau dengan warna lebih pucat pada sayap.

Punai sumba menghuni hutan primer, hutan yang ditebang pilih, dan hutan sekunder dengan pohon-pohon tinggi, ketinggian habitatnya sekitar 800 meter di atas permukaan laut. Burung ini dapat ditemukan dengan mudah dalam bentuk individu tunggal, berpasangan, atau membentuk kelompok kecil. Suaranya terdengar seperti  “woop-woop” yang lembut, suara mendengus, dan nada bersiul.

Meskipun dianggap toleran terhadap degradasi habitat, diperkirakan ukuran populasinya kecil di pulau tempat satwa endemik ini tinggal. Oleh karena itu, dalam IUCN, burung ini mendapat status near threatened dengan tren populasi menurun terutama disebabkan oleh deforestasi.

Nah, tentu kita tidak mau ‘kan hanya mengenal burung ini dari kisah yang ada di novel saja? Yuk, jaga dan lestarikan satwa ini agar kita tetap bisa melihatnya di alam bebas!

Tags :
burung punai punai sumba punai timor
Writer:
Pos Terbaru
Kabar Baru, Pria asal AS Dijatuhkan Hukuman atas Kasus Penyiksaan Monyet
Kabar Baru, Pria asal AS Dijatuhkan Hukuman atas Kasus Penyiksaan Monyet
Berita
27/04/25
Jadi Saksi Ahli, Hinca Panjaitan Pakai Kaos Save Trenggiling ke Pengadilan
Jadi Saksi Ahli, Hinca Panjaitan Pakai Kaos Save Trenggiling ke Pengadilan
Berita
26/04/25
Konflik kembali Terjadi, Ternak Warga Ditemukan Mati di Area Sawah
Konflik kembali Terjadi, Ternak Warga Ditemukan Mati di Area Sawah
Berita
25/04/25
Disebut Dapat ‘Bagian’ dari Perdagangan Sisik Trenggiling, Hakim Minta Kanit Polres Asahan Dipanggil
Disebut Dapat ‘Bagian’ dari Perdagangan Sisik Trenggiling, Hakim Minta Kanit Polres Asahan Dipanggil
Berita
25/04/25
Serka Yusuf dan Serda Dani Jemput 1,2 Ton Sisik Trenggiling dari Polres Asahan di Malam Hari
Serka Yusuf dan Serda Dani Jemput 1,2 Ton Sisik Trenggiling dari Polres Asahan di Malam Hari
Berita
24/04/25
Terdakwa Kasus 292,3 Kilogram Sisik Trenggiling Divonis Bebas!
Terdakwa Kasus 292,3 Kilogram Sisik Trenggiling Divonis Bebas!
Berita
24/04/25
Penyelundupan Ratusan Reptil Ilegal Berhasil Digagalkan di Pelabuhan Bakauheni
Penyelundupan Ratusan Reptil Ilegal Berhasil Digagalkan di Pelabuhan Bakauheni
Berita
23/04/25
Muncul di Kuningan, BKSDA Sarankan Pengusiran Mandiri
Muncul di Kuningan, BKSDA Sarankan Pengusiran Mandiri
Berita
22/04/25
Niagakan 165 Kilogram Sisik Trenggiling, 1 Tersangka Ditangkap dan Lainnya dalam Pengejaran
Niagakan 165 Kilogram Sisik Trenggiling, 1 Tersangka Ditangkap dan Lainnya dalam Pengejaran
Berita
21/04/25
Persidangan Ungkap Fakta, 1,2 Ton Sisik Diduga Berasal dari Gudang Polres
Persidangan Ungkap Fakta, 1,2 Ton Sisik Diduga Berasal dari Gudang Polres
Berita
18/04/25
Menyoroti Kaburnya Monyet di BPBD Kabupaten Tangerang dan Pentingnya Kesejahteraan Satwa Liar
Menyoroti Kaburnya Monyet di BPBD Kabupaten Tangerang dan Pentingnya Kesejahteraan Satwa Liar
Berita
18/04/25
Seri Macan Tutul Jawa: Agung Ganthar Kusumanto, Macan Tutul itu Keren!
Seri Macan Tutul Jawa: Agung Ganthar Kusumanto, Macan Tutul itu Keren!
Liputan Khusus
16/04/25
[Infografis] Hiu Tutul dan Kemunculannya di Jawa Timur
[Infografis] Hiu Tutul dan Kemunculannya di Jawa Timur
Berita
16/04/25
Uji Lab Buktikan Keaslian Cula Badak asal Tiongkok yang Disita di Manado
Uji Lab Buktikan Keaslian Cula Badak asal Tiongkok yang Disita di Manado
Berita
16/04/25
Seri Macan Tutul Jawa: Mengamati Macan Tutul dari Prau sampai Sanggabuana
Seri Macan Tutul Jawa: Mengamati Macan Tutul dari Prau sampai Sanggabuana
Liputan Khusus
15/04/25
Hendak Jual Cula Badak dan "Kerupuk Udang", Empat Tersangka Diringkus Polisi
Hendak Jual Cula Badak dan "Kerupuk Udang", Empat Tersangka Diringkus Polisi
Berita
15/04/25
Orangutan Terpotret di Jendela Rumah di Thailand, Polisi Rencanakan Investigasi
Orangutan Terpotret di Jendela Rumah di Thailand, Polisi Rencanakan Investigasi
Berita
14/04/25
Jejak Buaya Muara Pulau Bacan: Didagangkan Hidup-Hidup ke Negeri Singa
Jejak Buaya Muara Pulau Bacan: Didagangkan Hidup-Hidup ke Negeri Singa
Liputan Khusus
14/04/25
Puluhan Anak Penyu Belimbing Dilepas di Pantai Along, Aceh
Puluhan Anak Penyu Belimbing Dilepas di Pantai Along, Aceh
Berita
11/04/25
FATWA: Evolusi Ubur-Ubur di Danau Kakaban
FATWA: Evolusi Ubur-Ubur di Danau Kakaban
Edukasi
11/04/25