Satwa Liar Jadi Korban ‘Perang’ Manusia dengan Alam

  • Share
Satwa Liar Jadi Korban 'Perang' Manusia dengan Alam
Harimau sumatera korban jerat pemburu. Foto: Drh Eni Suyanti

Gardaanimalia.com – Saat ini, umat manusia sedang menghadapi perang dunia baru yang barangkali lebih besar dari dua perang dunia sebelumnya. Perang akbar ini tidak hanya melibatkan manusia saja, namun juga kehidupan lainnya di alam seluruh dunia. Perang ini disebut oleh António Guterres (Sekretaris Jenderal PBB) sebagai War on Nature, atau ‘Perang Terhadap Alam’.[1]Harvey, F. (2 Desember 2020). The Guardian. Humanity is waging war on nature, says UN secretary general. … Continue reading

“Umat manusia sedang mengobarkan perang terhadap alam. Tindakan ini seperti langkah bunuh diri. Keanekaragaman hayati terus menghilang. Ekosistem terus runtuh di depan mata. Aktivitas antropogenik menjadi akar dari kejatuhan umat manusia menuju jurang kehancuran.”[2]Ibid

Satwa Liar Jadi Korban 'Perang' Manusia dengan Alam
Ilustrasi sampah di alam. Foto: Humas KLHK

Begitulah peringatan keras darinya, yang juga menjadi pernyataan PBB paling tajam sejauh ini terhadap krisis lingkungan hidup global. Dalam pidato yang sama di Universitas Colombia, New York, ia juga menunjukkan berbagai tindak kejahatan terhadap satwa dan alam liar: hilangnya lahan basah; pembabatan hutan; overfishing, pemutihan terumbu karang, dan pencekikan laut dengan plastik; serta pencemaran lainnya di tanah, air, dan udara.

Korban-korban dari perang yang diinisiasi manusia ini terus bertumpukan dalam jumlah yang mengerdilkan perang-perang sebelumnya dalam sejarah bumi. Ratusan ribu satwa liar di seluruh dunia diculik dari habitat alaminya, dikurung, dan ditindas secara fisik maupun psikis, hanya untuk hiburan dan keuntungan industri-industri yang memanfaatkan satwa liar.[3]World Animal Protection. Protect animals on holiday: ending wild animal abuse for entertainment. https://www.worldanimalprotection.org.au/protect-animals-holiday-ending-wild-animal-abuse-entertainment Dalam periode 1970 hingga 2016, populasi kehidupan liar di seluruh dunia sudah berkurang hingga 68% akibat perusakan berbagai habitat dan overeksploitasi kehidupan liar demi pemenuhan konsumsi manusia.[4]Woodyatt, A. (10 September 2020). CNN. Human activity has wiped out two-thirds of world’s wildlife since 1970, landmark report says. … Continue reading Aktivitas-aktivitas tersebut juga mendorong satu juta spesies hewan dan tumbuhan menuju kepunahan dalam beberapa dekade ke depan.[5]WWF. (30 Oktober 2018). The Living Planet Report 2018. https://www.wwf.org.uk/sites/default/files/2018-10/wwfintl_livingplanet_full.pdf   Diestimasikan bahwa enam miliar ton ikan dan invertebrata telah diambil dari lautan di seluruh dunia sejak tahun 1950.[6]Ibid.

Baca juga: Fakta Tragis di Balik Tren Pelepasan Burung untuk Acara Peresmian

BACA JUGA:
Catatan Suram Penganiayaan Satwa Liar di Indonesia

Daftar panjang korban perang ini masih terus berlanjut, terutama dari over-eksploitasi hewan. Diperkirakan 1-3 triliun ikan liar dibunuh tiap tahunnya, atau sekitar 2,7 miliar ikan liar terbunuh tiap harinya dengan cara yang tidak etis, hanya untuk makanan manusia.[7]Zampa, M. (16 September 2018). Sentient Media. How Many Animals Are Killed for Food Every Day?. https://sentientmedia.org/how-many-animals-are-killed-for-food-every-day/

Satwa Liar Jadi Korban 'Perang' Manusia dengan Alam
Harimau yang mati. Foto: Tigapilarnews

Lebih dari 70 miliar hewan darat juga mengalami nasib tragis yang sama dengan ikan-ikan tersebut.[8]Sanders, B. Faunalytics. (10 Oktober 2018). Global Animal Slaughter Statictics and Charts. https://faunalytics.org/global-animal-slaughter-statistics-and-charts/ Padahal, banyak pakar hewan yang percaya bahwa hewan-hewan tersebut memiliki kecerdasan yang tinggi dan kehidupan sosial yang kompleks.[9](10 November 1996). PBS. The Joy of Pigs. https://www.pbs.org/wnet/nature/the-joy-of-pigs-smart-clean-and-lean/2126/ Overeksploitasi hewan serta tumbuhan hanya untuk konsumsi manusia juga menjadi ancaman paling berbahaya kepada kehidupan liar.[10]Tilman, D; Clark, M; Kimmel, K. (31 Mei 2017). Nature. Future threats to biodiversity and pathways to their prevention. https://www.nature.com/articles/nature22900 Di seluruh dunia, tidak kurang dari 6.241 spesies hewan vertebrata terancam perusakan habitat akibat agrikultur.[11]Green America. (13 Oktober 2020). Species Extinction in Farmlands: It’s Not Just the Birds and the Bees. https://www.greenamerica.org/blog/species-extinction-farmlands-its-not-just-birds-and-bees

Perang ini juga menimbulkan krisis lainnya yang tidak kalah menyeramkan, salah satunya pandemi virus. Sekitar 75% dari penyakit menular yang ada berasal dari hewan[12]WHO. Neglected Zoonotic Diseases. https://www.who.int/neglected_diseases/diseases/zoonoses/en/, terutama satwa-satwa liar.[13]Harvard T.H. Chan School of Public Health. Coronavirus and Climate Change. … Continue reading

Perusakan habitat alami secara masif dan kontinu mendorong pertemuan satwa-satwa liar sebagai pembawa berbagai virus, parasit, dan bakteri yang tidak dikenal, menuju wilayah manusia yang padat.[14]Ibid.  Bahkan, hewan-hewan ternak dan peliharaan masih bisa menjadi penghubung vital antara manusia dengan beragam parasit dan patogen.[15]University of Liverpool. (16 Mei 2014). ScienceDaily. Domesticated animals provide vital link to emergence of new diseases. https://www.sciencedaily.com/releases/2014/05/140516092301.htm

Satwa Liar Jadi Korban 'Perang' Manusia dengan Alam
Ilustrasi hiu paus yang terdampar. Foto: Detiknews

Peningkatan bencana alam, krisis air dan pangan, gelombang panas, hingga ancaman kepunahan massal[16]Hananto, A. (2 Juni 2015). Mongabay. Manusia Terancam Lenyap di Kepunahan Massal Keenam. https://www.mongabay.co.id/2015/06/24/manusia-terancam-lenyap-di-kepunahan-massal-keenam/, alam sudah membalas ajakan perang manusia dengan gudang persenjataanya. Namun, banyak pakar iklim dan lingkungan hidup yang memercayai bahwa serangan balasan yang terburuk dari ibu Pertiwi belum datang.[17]Gillis, J. (31 Maret 2014). The New York Times. Panel’s Warning on Climate Risk: Worst Is Yet to Come. https://www.nytimes.com/2014/04/01/science/earth/climate.html

Baca juga: Kejahatan Satwa Meningkat, Revisi UU Konservasi Tidak Bisa Ditawar!

BACA JUGA:
Menakar Kesadaran Warga dalam Melindungi Satwa

Tanpa satwa dan kehidupan liar, mustahil peradaban manusia bisa berdiri. “Bayangkan industri kelautan tanpa ikan, pariwisata tanpa terumbu karang maupun kehidupan liar, tanaman tanpa penyerbuk. Semua flora dan fauna memiliki peran dan kontribusi terhadap beragam kebutuhan esensial manusia seperti pangan, air bersih, penyerbuk tanaman, penyimpan karbon, sampai dengan penyubur tanah. Setiap orang sangat membutuhkan keragaman spesies.”tutur Jean-Christophe Vié, Kepala Deputi Global Species Programme IUCN (Uni Internasional untuk Konservasi Alam).[18]IUCN. (2 Juli 2009). Wildlife crisis worse than economic crisis. https://www.iucn.org/content/wildlife-crisis-worse-economic-crisis-iucn Beliau juga menambahkan, bahwa alam adalah “perusahaan terbesar di bumi, yang bekerja demi kebaikan para penduduk bumi tanpa memungut biaya sepeser pun”.

Satwa Liar Jadi Korban 'Perang' Manusia dengan Alam
Ilustrasi satwa liar korban perdagangan ilegal. Foto: Kompas.com

Maka dari itu, adalah kewajiban utama yang mendesak bagi setiap orang untuk menjaga seluruh satwa dan kehidupan liar yang ada di muka bumi ini dari perang mahadahsyat ini. Langkah-langkah sederhana seperti: mengurangi pembelian barang-barang mewah, membatasi konsumsi daging, berbagi kendaraan, dan meningkatkan serta mengajarkan kecintaan terhadap alam, dapat berkontribusi secara signifikan dalam meringankan penderitaan satwa dan kehidupan liar.[19]Stafford, R; Jones, P. The Conversation. (22 Mei 2019). Cara hentikan perubahan iklim: Enam cara ini membuat dunia lebih baik dan lebih sehat. … Continue reading

Tidak akan ada pemenang yang muncul di akhir perang ini. Oleh karenanya, prioritas utama umat manusia di abad ke-21 ini adalah berdamai dengan alam beserta penghuninya. Perdamaian ini tidak akan bisa dicapai tanpa komitmen kuat terhadap penumpasan kejahatan terhadap satwa dan lingkungan hidup.

Referensi[+]

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments