Berita  

Tak Banyak Tersisa di Hutan, Populasi Harimau Sumatera Harus Dijaga!

Ilustrasi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). | Foto: Indeks News
Ilustrasi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). | Foto: Indeks News

Gardaanimalia.com – Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI, populasi harimau sumatera yang hidup di habitatnya kini tercatat hanya tinggal 604 individu.

Hal tersebut disampaikan oleh Wiratno, Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK, yang mana ujarnya, pemerintah pun terus melakukan upaya peningkatan jumlah satwa dilindungi itu untuk menjaga kelestariannya.

“Sedangkan yang ada di lembaga konservasi berjumlah 370 ekor, dan 258 di antaranya berada di lembaga konservasi di luar negeri,” tuturnya dalam acara seminar Masa Depan Harimau Sumatera di Universitas Andalas (Unand) Padang yang disiarkan melalui zoom meeting, Senin (14/2).

Upaya perlindungan terhadap satwa dilindungi, ujar Wiratno, menjadi suatu hal yang penting untuk dilakukan oleh semua pihak.

Menurut Wiratno, penyelamatan satwa dengan nama ilmiah Panthera tigris sumatrae itu juga mesti diiringi dengan penyelamatan hutan sebagai habitatnya.

“Semangat kerja sama menjadi kunci untuk sinergi selanjutnya, penyelamatan masa depan harimau sumatera sama dengan penyelamatan masa depan hutan,” ungkapnya.

Berkaitan dengan ini, ia menyampaikan bahwa ada tiga pilar konservasi penyelamatan hutan yaitu perlindungan sistem kehidupan, pengawetan keanekaragaman hayati dan ekosistem, dan pemanfaatan sumberdaya alam yang berkelanjutan.

Ia mengatakan bahwa sepanjang 2020, Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik mencatat ada 23 konflik yang terjadi antara manusia dan harimau.

Kasus terbanyak, lanjut Wiratno, terdapat di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh dengan jumlah konflik terbanyak yaitu 8 kejadian.

“KLHK bersama para pihak terus berupaya mencegah dan menanggulangi konflik yang terjadi antara manusia dan satwa liar. Ketika konflik terjadi, sering satwa liar menjadi korban sehingga diperlukan kesadaran masyarakat yang berada di sekitar habitat harimau,” kata Wiratno.

BACA JUGA:
Sering Muncul di Permukiman, Beruang Madu Disebut Resahkan Warga

Tak hanya itu, ia juga menyampaikan apabila ditemukan daerah yang rawan konflik, maka segera untuk melaporkan ke BKSDA terdekat agar mendapatkan arahan terkait upaya mitigasi dan penanganan konflik satwa liar.

Karena, pihaknya menilai upaya konservasi harimau berupa mitigasi konflik tersebut akan membantu untuk membangun kemandirian di masyarakat.

Kemudian, ia menyebut bahwa masa depan harimau sumatera merupakan juga masa depan manusia generasi di masa mendatang.

Wiratno berharap, mulai saat ini, satwa liar dilindungi termasuk harimau yang berada di luar kawasan konservasi dapat terus terjaga seperti halnya satwa liar lainnya yang berada di dalam kawasan konservasi.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments