Babirusa Buru, Satwa Endemik yang Semakin Terdesak Karena Pembukaan Lahan


Babirusa Buru. Foto : James ADW/Dowling-Healey

Babirusa merupakan satwa endemik yang dari kawasan Walacea, tepatnya di Pulau Sulawesi, Togian, Sula dan Buru. Namanya yang unik kadang disalahartikan bahwa satwa ini merupakan peranakan dari babi dan rusa. Secara harfiah, satwa ini memang memiliki perawakan seperti babi dengan ciri khas taring panjang pada moncongnya yang menyerupai tanduk rusa (deer’s antler).

Terdapat beberapa jenis babirusa yang hidup di Indonesia, jenis yang tercatat yaitu Babirusa buru/tualangio (Babyrousa babyrussa), Babirusa bola batu (B. bolabatuensis), Babirusa Sulawesi utara (B. celebensis), dan Babirusa togian (B. togeanensis). Di Indonesia hanya satu jenis babirusa yang dilindungi menurut PermenLHK no. P106 tahun 2018 yaitu jenis Babirusa buru/tualangio.

Babirusa buru merupakan satwa asli dari Pulau Buru, Mangole dan Taliabu di Kepulauan Maluku. Babirusa buru memiliki rambut yang lebih tebal dan panjang daripada spesies kerabatnya, serta dengan jumbai ekor yang jelas. Badannya berbentuk bulat dengan moncong agak runcing, dan kaki yang relatif panjang dan tipis. Ukuran tubuh babirusa jantan lebih besar dari betina. Babirusa memiliki panjang tubuh 85-110 cm dengan tinggi sekitar 65-80 cm dan berat mencapai 90 – 100 kg.

Ciri fisik Babirusa yang paling dramatis adalah taringnya. Gigi taring atas jantan tumbuh ke atas rongga mulut, menembus bagian atas moncong dan melengkung ke belakang menuju dahi. Panjangnya bisa mencapai 30 cm. Pada wanita, gigi taring atas berukuran kecil atau sama sekali tidak ada. Taring atas mudah rapuh dan longgar di rongganya, taring ini tidak berguna untuk menyerang namun dapat membantu melindungi wajah, sementara taring bagian bawah seperti belati digunakan dalam pertempuran. Tercatat di beberapa pulau, gading ini digunakan untuk saling mengunci dan memegang gading lawan, dan di pulau lain mereka digunakan untuk menyeruduk.

Bentuk taring Babirusa buru melengkung keatas menyerupai tanduk rusa. Foto : IUCN/Jean-Christophe Vie

Babirusa dapat ditemukan di habitat hutan hujan dan semak yang lembab di dekat tepi sungai dan danau. Makanan utamanya adalah memakan dedaunan, buah, dan jamur. Satwa ini merupakan satwa diurnal atau aktif di siang hari. Babirusa jantan dewasa umumnya soliter, sementara Babirusa betina dewasa sering ditemukan dalam kelompok keluarga kecil, dengan beberapa anakan remaja (juvenile).

Menurut data Monitoring satwa prioritas Taman Nasional Lore Lindu dalam Voa Indonesia disebutkan bahwa populasi satwa babirusa mengalami penurunan 44 persen dari jumlah 74 ekor pada tahun 2013 menjadi 41 ekor di tahun 2018. Faktornya disebabkan oleh adanya fragmentasi habitat yang terkonversi menjadi penggunaan lain, seperti pembukaan lahan untuk kebun dan pertanian. Faktor lainnya karena adanya perburuan satwa ini untuk menjadi konsumsi masyarakat setempat.

Satwa ini masuk ke dalam daftar merah International Union for Conservation of NatureĀ (IUCN) dengan status Rentan/Vulnerable (VU). Menurut Convention on International Trade in Endangered SpeciesĀ (CITES), Babirusa masuk dalam status Appendix I yang berarti satwa tersebut dilindungi dan tidak diperjualbelikan secara internasional.


Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twenty − eighteen =